Puluhan anak yang menjadi pengungsi di Seminari Tinggi Kentungan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengikuti latihan menari dan karawitan. Kegiatan ini dilakukan untuk membantu meringankan beban psikologis (trauma healing) anak-anak yang menjadi korban letusan gunung Merapi. Nampak anak-anak ini sangat ceria dan antusias mengikuti gerakan-gerakan kakak pendamping (para mahasiswa relawan). Bahkan mereka membuat gerakan-gerakan berjumpalitan layaknya anak kecil yang riang gembira tanpa memikirkan situasi rumah dan sekolahnya.
Beberapa pengungsi dewasa menyatakan bahwa layanan yang mereka terima sangat baik. Kebutuhan makan dan minum mereka rasakan tersedia dengan lancar. Kebutuhan lain seperti tikar, baju, sandal, dan sebagainya tersedia cukup. Mereka tidur dalam ruang-ruang kelas. Tempat untuk mandi dan buang air besar juga tersedia cukup dan dalam kondisi baik. Di siang hari, para pengungsi nampak asyik mengobrol dan menikmati pemandangan taman yang ada di sekitar kampus. Pemandangan ini nampak berbeda dari biasanya karena pepohonan di taman berubah menjadi hamparan pakaian yang sedang dijemur. Data pada hari Senin (8/11) mencatat total pengungsi di posko Seminari Kentungan ini sejumlah 880 orang yang terdiri atas 94 orang manula, 504 dewasa, 112 remaja, 127 anak-anak, dan 55 balita. (BST)




