USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

TIM PSIBK USD MENGHADIRI ICED DI VANCOUVER CANADA

diupdate: 16 tahun yang lalu


Lima orang dari Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus Universitas Sanata Dharma (PSIBK USD), yaitu  Tjipto Susana, Sylvia Murtisari, Setyandari, Sr Wahyu, dan Priyo Widiyanto pada tanggal 17 sampai dengan 23 Juli 2010, berada di Vancouver Canada menghadiri International Congress on The Education of The Deaf (ICED).
“Sebagai wakil dari PSIBK saya cukup bangga karena dari PSIBK bisa mempresentasikan dua paper sekaligus”, demikian dikatakan Priyo Widiyanto. Paper pertama berkaitan dengan “Improving the quality of teachers of the deaf in Indonesia: a partnership approach”, disajikan oleh Priyo Widiyanto  dan paper kedua berkaitan dengan “Efforts to improve competency of teachers of the deaf: Sharing experience of the study center for individuals with sprecial needs”, disajikan oleh Sylvia Murtisari. Di samping itu pertemuan dengan wakil dari 62 negara membuka wawasan yang sangat luas untuk pengembangan PSIBK maupun pengembangan komunitas tunarungu di Indonesia, demikian Priyo Widiyanto menambahkan.
Dalam pertemuan dengan berbagai kelompok, terungkap bahwa program studi yang berkaitan dengan tunarungu (deaf study dan deaf education) pada awalnya ada yang berasal dari sebuah Pusat Studi. Ada 1 program studi tunarungu di sebuah universitas di Afrika, Amerika, dan Thailand yang pada awal mulanya adalah sebuah Pusat Studi. Perlu waktu sekitar 10 sampai 15 tahun sebuah Pusat Studi berkembang menjadi sebuah program studi. Program studi yang berkaitan dengan tunarungu ada yang di bawah Fakultas Sastra, Pendidikan, maupun Psikologi, bahkan universitas di Canada ada yang memiliki program studi teknik informatika yang mengkhususkan diri pada kebutuhan tunarungu.
Di dunia ini ada kurang lebih 70 juta tunarungu, sebagian dari mereka tinggal di negera berkembang dengan kesejahteraan dan pengakuan yang masih rendah. Di negara-negara Afrika tunarungu masih menjadi komunitas yang terpinggirkan, untuk mendapatkan pengakuan mereka harus berjuang keras. Di negara maju, tunarungu sudah mendapat pengakuan baik secara politis, ekonomis, maupun pendidikan. Oleh karena itu tidak mengherakan bila mereka bisa menjadi pejabat, pengusaha besar, dan profesor di sebuah universitas. Di negara maju masyarakat normal sudah bersedia mempelajari sign language sehingga kaum tunarungu lebih mudah berkomunikasi dengan orang normal mendengar.
Di negara berkembang kaum tunarungu menghadapi dua tantangan sekaligus, yaitu tantangan internal (dari dalam diri mereka sendiri) dan tantangan eksternal (politik, ekonomis, pendidikan, dan budaya) yang belum berpihak pada mereka. Di negara maju kaum tunarungu tinggal menghadapi tantangan dari dalam diri mereka sendiri bila ingin maju. Hal ini disebabkan tantang eksternal bisa dikatakan sudah tidak ada lagi. Mereka sudah diberi kesempatan dan fasilitas oleh pemerintah agar mereka berkembang dalam berbagai bidang yang mereka sukai. Tantangan di Indonesia hampir mirip dengan tantangan di negara berkembang lainnya, yaitu mendapatkan pengakuan atas keberadaan mereka sehingga mereka tidak menjadi komunitas yang terpinggirkan. Di Indonesia diperkirakan minimal setiap tahun ada kelahiran bayi yang mengalami hearing impairment sekitar 5000 kelahiran.
Kehadiran Tim PSIBK di ICED2010 tentu menambah wawasan mereka. Diharapkan mereka semakin mampu mengembangkan program-program yang disusun agar semakin berdaya guna bagi peningkatan kualitas pendidikan tunarungu di Indonesia. Pada saat ini tim PSIBK sedang merancang program pelatihan bagi guru tunarungu. Semoga perkembangan dan kemajuan PSIBK semakin memantabkan Universitas Sanata Dharma menjadi universitas yang cerdas dan humanis bagi semua orang termasuk yang berkebutuhan khusus. (pw)

  kembali