USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pemutaran dan Diskusi Film "Where Do We Go"

diupdate: 10 tahun yang lalu


“Where Do We Go” sebuah film yang diangkat menjadi objek diskusi bersama pada hari Kamis, 27 Januari 2017 oleh Pusat Studi Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) Universitas Sanata Dharma (USD). “Where Do We Go” merupakan sebuah film dokumentasi blackmetal Indonesia yang digarap secara tunggal oleh Hernandes Saranela. Nonton bareng dan diksusi mengenai film dokumentasi ini menjadi sangat menarik karena selain menggali lebih dalam mengenai black metal dan melihat black metal dari sisi penganutnya, acara ini dihadiri dari berbagai macam kalangan dimulai dari mahasiswa dan dosen Ilmu Religi dan Budaya USD, komunitas film dan teater, dan juga beberapa penganut dan penikmat musik Black Metal. Setelah dibuka oleh Romo Gregorius Budi Subanar, SJ selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Religi dan Budaya, acara ini dilanjutkan dengan pemutaran film yang berdurasi 90 menit.  
Black Metal bagi kaum awam akan terlihat seperti aliran musik yang mistis, gelap, dan bahkan banyak yang mengkaitkan dengan istilah Satanis. Dalam film jenis dokumenter ini, Hernandes melibatkan sekitar 25 band black metal untuk memberikan tanggapan serta mensharingkan pengalaman dan pandangan mereka mengenai Black Metal. Pada beberapa bagian di film ini dapat memberikan pandangan lain bagi kaum awam tentang aliran musik Black Metal. Diungkapkan dalam beberapa cuplikan film bahwa lirik yang biasa terdapat pada lagu-lagu black metal merupakan lirik pemberontakan terhadap kaum mayoritas baik pada persoalan ideologi, agama, dan juga kebudayaan. Dalam film ini juga ditampilkan mengenai adaptasi musik Black Metal yang berasal dari Eropa ini ke dalam kebudayaan Indonesia.
Setelah film selesai diputar, acara dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab langsung oleh penggarap tunggal film ini, Hernandes Saranela. Pada forum diskusi ini Hernandes mendapat banyak pertanyaan dari beberapa peserta yang hadir dengan latar belakang berbeda. Diskusi ini berjalan sangat menarik dan mengalir dengan berbagai pertanyaan serta respon yang kadang disisipi oleh gelak tawa yang dihasilkan dari jawaban dan gesture dari Hernandes Saranela.
Acara ini sangat bermanfaat karena selain dapat dijadikan sebagai bahan studi, juga dapat dijadikan wadah untuk sharing dan menyalurkan kreatifitas. Acara seperti ini akan menjadi acara rutin yang dijadwalkan setiap dua bulan sekali oleh PUSdEP. (CAP)

  kembali