Program PUSdEP - Haverford Partnership tahun ketiga baru saja berakhir. Program kerja sama ini merupakan kelanjutan dari program tahun sebelumnya di mana mahasiswa dari Haverford College (AS) mengunjungi Indonesia dalam rangka belajar tentang bahasa, sejarah, dan dinamika sosial-politik di Indonesia. Program ini pun melibatkan mahasiswa Indonesia yang diambil dari beberapa perguruan tinggi yakni Universitas Sanata Dharma, Universitas Indonesia (Jakarta), Universitas Nusa Cendana (Kupang), dan Universitas Udayana (Bali).
Selama 2 minggu mahasiswa dari Haverford College belajar mengenai bahasa dan budaya Indonesia di Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma. Setelah itu para mahasiswa Haverford College bersama dengan beberapa mahasiswa Indonesia mendapatkan kuliah singkat di Bali selama 3 minggu dan kemudian melakukan riset singkat tentang topik sesuai tema masing-masing selama 2 minggu. Berakhirnya masa kunjungan studi para mahasiswa Haverford College ditutup PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) Universitas Sanata Dharma dengan mengadakan sebuah diskusi terbatas yang diselenggarakan di Ruang Palma, Kompleks Pasca Sarjana Universitas Sanata Dharma, 16 Agustus 2010.
Diskusi terbatas ini sebagai forum sharing bagi riset kolaboratif yang telah dilakukan selama 2 minggu di Yogyakarta. Dalam diskusi terbatas ini terdapat 3 topik penelitian yang dibahas. Sharon Kaziunas dan Ratih Sukma membahas tentang “Anak Muda dan Budaya Ponsel di Daerah Pedesaan Yogyakarta. Monica Laksono dan Yen Phan membahas tentang “Monumen Jogja Kembali dan Pewarisan Ingatan”. Sedangkan Waleed Shahid dan Romo Anton Waget membahas tentang “Agama dan Komunisme”. Sharon dan Ratih, berdasarkan hasil penelitian mereka di Desa Lendah, yang terletak 20 km selatan Yogyakarta, memaparkan bagaimana ponsel memberi pengaruh signifikan terhadap perubahan struktur budaya dan pergaulan, interaksi sosial diantara anak muda, dan dampak ponsel terhadap generasi muda Indonesia. Ponsel telah menjadi barang yang mutlak digunakan dalam berinteraksi sehari-hari. Bahkan, banyak remaja yang memaksa orang tuanya untuk membeli ponsel ditengah sulitnya kondisi ekonomi.
Dengan adanya teknologi ponsel, interaksi sosial diantara remaja Desa Lendah juga berubah. Mereka cenderung menggunakan sms dalam berinteraksi dengan sesama, tutur Sharon dan Ratih. Monica Laksono dan Yen Phan yang melakukan penelitian tentang “Monumen Jogja Kembali dan Pewarisan Ingatan” mengatakan bahwa pembangunan Monjali digunakan sebagai Soeharto sebagai klaim bahwa dialahyang berinisiatif dan memegang peranan penting melakukan Serangan Umum 1 Maret sekaligus menempatkan militer sebagai pahlawan. Bagi Monica dan Yen, sangat penting melihat monumen sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa dan menganalisanya secara kritis. Monica dan Yen juga berharap bahwa dalam mengajar siswanya, para guru sejarah harus berusaha netral walaupun ini adalah hal yang sulit dilakukan.
Sedangkan Waleed Shahid dan Romo Anton Waget yang meneliti tentang “Agama dan Komunisme”mengungkapkan bahwa atheisme di Indonesia selalu diidentikkan dengan Partai Komunis. Konstitusi Indonesia dan Pancasila menyatakan bahwa orang Indonesia harus percaya pada Tuhan. Oleh sebab itu, komunisme sering dihubungkan dengan ateisme, kafir, paganism, anti agama, anti Pancasila dan anti Indonesia. Padahal menurut salah satu narasumber mereka (Hasan Raid), yang merupakan seorang anggota PKI, mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang kontradiktif antara PKI dn Islam. Meskipun sering dicap sebagai atheis, Hasan bersikeras bahwa tidak boleh ada tekanan dalam kebebasan beragama dan agama adalah urusan individu dengan Tuhan. Waleed dan Romo Anton juga menuturkan bahwa sangat penting untuk mengkaji lebih dalam mengenai bagaimana agama dan teologi digunakan secara historis serta bagaimana atheisme PKI serta anggotanya yang religius. Setelah sesi pemaparan hasil penelitian dan tanya jawab, Dr. Baskara memberikan beberapa masukkan terkait persiapan riset yang perlu diperhatikan yakni: sejak awal harus ditetapkan riset ini ditujukan untuk siapa, riset ini bersifat kuantitatif atau kualitatif, riset harus dispesifikasikan sedari awal, dan apa ide/hipotesis sebelum peneliti terjun ke lapangan. Acara diskusi terbatas ini diakhiri dengan buka puasa bersama. (Darwin)




