Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia (Pusdema) Universitas Sanata Dharma pada tanggal 6-15 Januari 2017 mendapat kunjungan mahasiswa dan dosen dari The State University of New York, Amerika Serikat untuk program kelas studi ekskursi yang dijalin oleh organisasi VIA (Volunteers in Asia), Pusdema dan Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma. Program ini bertema “Art and Social Movement”.
Romo Dr. F.X. Baskara Tulus Wardaya, S.J., M.A. selaku Kepala Pusdema USD mengisi salah satu sesi kelas dengan tema latar belakang masalah tragedi 1965 dan upaya pengatasannya. Kelas diselenggarakan pada Senin, 9 Januari 2017 pukul 10.00-11.30 WIB. Romo Baskara mengungkapkan bahwa kekerasan massal pada periode 1965-1966 di Indonesia adalah urusan multi-dimensi melalui pemaparannya: “Mass Violence, Public Discourse and Grassroots Initiatives in Indonesia”.
Ada tiga poin penting yang digarisbawahi dari peristiwa tersebut, yaitu: (1) peristiwa 1 Oktober 1965 yang berdampak pada kekerasan massal selama kurun periode 1965-1966 hingga pemenjaraan, stigmatisasi dan diskriminasi banyak orang, (2) konteks yang melatari peristiwa tersebut, meliputi konteks domestik yakni puncak dari dinamika sosial-politik kala itu yang terjadi sejak tahun 1955 dan PKI sebagai organisasi politik dengan pengaruh besar yang sangat mungkin memenangkan Pemilu, konteks regional yakni ketakutan pada meningkatnya komunisme di Asia Tenggara (yaitu Vietnam) dan konteks internasional yang tidak bisa dipisahkan dari Perang Dingin yang kemudian mengubah orientasi politik dan ekonomi Indonesia secara drastis saat itu (dari anti-Barat ke sistem ekonomi dan politik yang pro-Barat), dan (3) kontestasi wacana yang muncul kemudian, di mana pelaku pembunuhan mengabaikan konteks tersebut dan melihat pembunuhan sebagai tindakan heroik untuk menyelamatkan bangsa dari pengambilalihan komunis, sedangkan korban yang selamat melihat peristiwa itu sebagai pelanggaran hak asasi manusia yang terus menerus dibiarkan tanpa ada proses penanganan masalah kebenaran dan keadilannya.
Perang wacana itu masih terus berlangsung hingga hari ini. Hal itu ditunjukkan Romo Baskara melalui serangkaian bentuk aksi represi dan propaganda baru terkait dengan peristiwa 65 di antaranya, aksi penyerangan pada pertemuan korban tragedi 65 di Bukittinggi, Sumatera Barat pada bulan Februari 2015, dan masih banyak lagi seperti di Surakarta, Salatiga dan Ubud. Namun begitu masih ada beberapa acara yang tetap bisa berlangsung dengan aman dan damai. Sayangnya, wacana publik untuk membicarakan salah satu bagian penting dari sejarah Indonesia ini masih sangat terbatas sehingga perlu untuk terus digerakkan terus menerus meskipun oleh mereka yang berada di akar rumput: kelompok-kelompok masyarakat sipil yang jauh dari ibukota negara.
Usai kuliah, acara disusul dengan kunjungan ke padepokan seni milik Djoko Pekik, maestro seni rupa sekaligus survivor tragedi 65. Di salah satu galerinya yang terletak di Dusun Sembungan, Bangunharjo, Kasihan Bantul tersebut, para mahasiswa AS diajak untuk melihat karya-karya dan proses kreatif sang Maestro. Salah satu lukisannya yang berjudul “Go to Hell Crocodile” memperlihatkan seekor buaya raksasa yang tengah melingkari ceruk tanah tambang dengan latar rumah adat Papua: menampilkan lanskap yang familiar dengan kita yaitu tambang PT. Freeport di Papua. Pak Pekik juga memperlihatkan salah satu lukisan berukuran raksasa yang berjudul “Devide et Impera Sirkus Adu Badak” yang menyiratkan kondisi sosial politik di Indonesia akhir-akhir ini, yang menurutnya, bermula sejak periode Orde Baru. Peristiwa 1965 dilihatnya sebagai gambaran dari Indonesia yang mengalami adu domba itu. Selain mengunjungi Djoko Pekik, acara kunjungan mahasiswa AS tersebut juga terlibat dengan berbagai artis seni lainnya seperti Samuel Indratma, Paper moon, hingga mengenal batik, wayang, dan belajar gamelan plus rangkaian kelas pendukung lainnya. Kegiatan ini berlangsung lebih dari sepekan dan dikoordinasi oleh Sani Widowati, Elizabeth Rhoads serta Pusdema. (DI_irb)




