Campus Ministry Universitas Sanata Dharma pada hari Sabtu, 11 Desember 2016 menyelenggarakan acara talkshow dan pemutaran film dokumenter yang berjudul “Iman dan Keadilan Sosial”. Tiga orang narasumber yang diundang dalam acara ini adalah Ade Sabda Galah (ANBTI), Epri Wahyudi (LBH Jogja), dan Rm. Bambang Irawan, SJ (USD), serta untuk film dokumenter bekerja sama dengan Watchdoc Documnetary.
Dalam acara ini dilakukan beberapa pemutaran film dokumenter singkat yang mengangkat isu-isu terkini tentang keadilan di Indonesia. Film pertama yang diputar adalah hasil karya komunitas ANBTI (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika) yang mengangkat tentang pembubaran diskusi, pelarangan, dan pembredelan majalah yang terjadi di kampus-kampus. ANBTI juga melakukan pelatihan pembuatan film, yang mana film yang ditampilkan dalam acara ini adalah hasilnya.
Salah satu film berjudul Jakarta Unfair yang dibuat oleh komunitas Watchdoc menampilkan tentang unjuk rasa yang dilakukan di monumen nasional (monas) yang menuntut keadilan dari pemerintah. Di dalam film juga diangkat keprihatinan tentang penggusuran-penggusuran yang dialami oleh warga Jakarta, di antaranya penggusuran Kampung Akuarium (pemukiman para nelayan) dan kampung Baru Dadap serta penggusuran Bukit Duri yang merupakan pemukiman warga yang mayoritas mata pencahariannya bersumber dari ayam potong. Diangkat pula mengenai penggusuran Kampung Melayu yang diilakukan untuk relokasi di bantaran kali Ciliwung yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2015. Selain itu, yang masih segar di ingatan adalah tentang penggusuran Kalijodo pada Februari 2016.
Pemerintah sudah mengambil langkah bagi para penduduk yang bermukim di kampung-kampung yang mengalami penggusuran, yakni dengan membangun tempat pemukiman yang disebut rumah susun (rusun). Tetapi ternyata langkah yang diambil oleh pemerintah Jakarta masih dirasa belum memuaskan bagi para penduduk tersebut.
Alam film dokumenter yang ditayangkan, terdapat beragam aspirasi warga yang mengalami penggusuran. Bapak Suhadi, yang merupakan warga ex Kampung Akuarium menyatakan bahwa sebenarnya pemukiman yang baru (rusun) keadaannya lebih layak, karena lebih luas, dan bersih, tetapi beliau mengeluhkan jarak yang jauh dengan mata pencaharian (rusun jaraknya jauh dari laut) sehingga sulit baginya untuk memperoleh penghasilan sebaik yang dulu ia peroleh ketika masih bermukim di Kampung Akuarium. Beliau juga mengeluh karena rusun yang disediakan oleh pemerintah masih mengharuskan penghuninya untuk membayar uang sewa setelah tiga bulan sebelumnya dibebaskan (gratis) dari uang sewa. Nominal yang harus dibayarkan untuk biaya sewa dirasa cukup memberatkan di tengah sulitnya mereka memperoleh penghasilan. Bapak Suhadi juga menyebutkan bahwa di Kampung Akuarium, ibu-ibu rumah tangga memiliki pekerjaan, sehingga juga dapat membantu suami dalam menopang perekonomian rumah tangga. Namun, setelah pindah ke rusun, ibu-ibu ini tidak bekerja karena tidak memiliki keterampilan khusus, ditambah lagi mereka sudah tidak dapat lagi melaksanakan pekerjaan (membersihkan ikan, menjual ikan) yang sebelumnya dilakukan di Kampung Akuarium. Ibu-ibu rumah tangga yang juga diwawancarai dalam film ini juga berpendapat bahwa lebih enak di Kampung Akuarium (dibandingkan rusun) karena ikan dekat, dan juga rumah (pasar) dekat sehingga aktivitas perekonomian mereka menjadi terpusat. Bapak Pahruji yang sebelumnya bermata pencaharian sebagai nelayan menyayangkan ada oknum pemerintah Jakarta yang menganggap warga merekayasa keadaannya (sehingga terlihat memprihatinkan), bahkan beliau mengajak pemerintah untuk ikut serta tinggal bersama dan merasakan bagaimana hidup mereka. Bapak Pahruji juga mengatakan bahwa sebenarnya tinggal di perahu bukanlah rekayasa, bukan sukarela, tetapi terpaksa (karena keadaan perekonomian yang menempatkan mereka seperti itu). Warga-warga ex penggusuran juga melayangkan aspirasinya ke Ombudsman RI, untuk menindaklanjuti adanya dugaan pelanggaran hukum terkait tatacara penggusuran yang telah dilakukan. Warga juga menghimbau agar media yang meliput tentang keadaan mereka, tidak hanya memberitakan kondisi yang baik saja, tetapi juga aspirasi kekecewaan dan harapan mereka yang belum terwujud agar tersampaikan bagi pemerintah.
Romo Bambang, dosen mata kuliah Gereja dan Politik di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma merupakan salah satu pembicara dalam acara ini. Beliau menyampaikan pendapat mengenai Iman dan Keadilan Sosial. Romo Bambang berpendapat bahwa seiring waktu, beliau semakin ragu akan arti politik. Apakah politik yang dimaksud adalah sekedar pemberian suara ketika pemilu/pilkada? Ketika kampanye pemilu, para calon akan mendatangi pemukiman-pemukiman warga yang kurang mampu dan menjelaskan rancangan program-program yang akan dilakukan. Rakyat hanya dihargai ketika pemilu, sehingga menjadi tidak jelas apa itu politik. Romo Bambang menceritakan tentang cerita Thor sebagai ilustrasi. Thor (yang diangkat dalam film the Avengers, yang menjadi idola kaum muda) pernah ditanyai oleh seorang penduduk yang bernama Swam. Swam bertanya tentang bagaimanakah mencapai keadilan kehidupan? Thor menjawab, cobalah ambil salah satu mata anda. Sebab keadilan dapat dicapai bila kita dapat melihat segala sesuatu dari dua sisi.
“Acara ini dibuat dalam rangka SALT (Student’s Action for Life and Trust) yang merupakan acara tahunan dari Campus Ministry USD, bertepatan pula dengan hari Hak Asasi Manusia yang jatuh pada tanggal 10 Desember serta turut memeriahkan Dies Natalis ke-61 USD. Salt tahun ini merupakan SALT keenam yang telah diselenggarakan oleh Campus Ministry. SALT ini merupakan rangkaian acara, yakni talkshow dan lomba esai (periode 8-27 Desember 2016).
Penghargaan yang diberikan kepada para penanya (yang aktif dalam bertanya pada diskusi ini) adalah hasil lomba esai tahun lalu. Acara ini dipersiapkan dalam keterbatasan, keterbatasan sumber daya dan juga dengan waktu yang mepet. Tetapi dengan belajar dari pengalaman, kita dapat mempersiapkan acara ini sedemikian rupa meskipun dengan keterbatasan yang ada.” ungkap Gigih Adiguna selaku ketua pelaksana acara ini. Semoga diskusi seperti ini dapat terus dilakukan oleh civitas USD, sebab dapat menjadi sarana transfer informasi dan penyaluran aspirasi insan muda. Dihimbau pula bagi para mahasiswa S1 USD dan kampus lain untuk turut berpartisipasi dalam lomba Esai yang juga diselenggarakan oleh Campus Ministry. (EEN)




