Sebagai ucapan rasa syukur atas berakhirnya Semester Gasal 2016/2017 dan juga atas Dies Natalis Universitas Sanata Dharma (USD) yang ke-61, sivitas akademika USD berkumpul untuk mengikuti perayaan Ekaristi yang diadakan pada hari Jumat, 2 Desember 2016. Perayaan Ekaristi bertempat di Kapel Santo Robertus Bellarminus Kampus 1 USD Mrican dan di Lantai Dasar Gedung Utama Kampus 3 USD Paingan. Mengangkat tema “Beriman Secara Cerdas dan Humanis di Era Informasi”, seluruh umat diajak untuk melihat kembali dampak yang muncul dari perkembangan di era digital ini.
Perayaan ekaristi kali ini dipimpin oleh Albertus Hartana, S.J., beliau menyampaikan bahwa ada dua ujub pada perayaan ekaristi kali ini; untuk mensyukuri penyertaan Tuhan selama satu semester dalam mengolah diri, hati, dan pikiran, serta untuk mensyukuri bahwa USD masih boleh melanjutkan tugas kependidikan selama 61 tahun ini. “Tuhan sungguh dimuliakan apabila kita sungguh-sungguh hidup.” ungkap beliau.
Bagian homili diisi oleh penampilan drama dari komunitas Cana yang membawakan kisah mengenai dampak dari media sosial dalam kehidupan nyata. Sebelum berkat perutusan diberikan, Romo Albertus berpesan, “Kalau anda tidak yakin akan kebenaran, berarti anda tidak beriman. Pada dasarnya, iman adalah persetujuan yang kokoh terhadap kebenaran; kebenaran bukan berdasarkan perasaan, melainkan kesaksian.”
Sementara itu, perayaan Ekaristi di Kampus Paingan dipimpin oleh Romo Paul Suparno, SJ. Perayaan Ekaristi diawali oleh drama dari Tim Kreatif Komunitas Paingan, drama tersebut menggambarkan kehidupan masa kini di mana manusia lebih senang berkontribusi hanya dengan sebuah “like” ataupun “re-post” serta percaya pada kabar burung yang belum terbukti kebenarannya. Romo Paul dalam homilinya mengatakan bahwa, “Teknologi modern membuat manusia hidup dalam terang yang menggembirakan sekaligus hidup dalam gelap yang menggelisahkan”. Hidup dalam terang berarti teknologi mampu memberikan wawasan yang luas bagi manusia, tetapi teknologi juga mampu membuat manusia saling mengadili satu sama lain itulah sisi gelap dari era informasi. Era ini butuh di-melek-kan (disadarkan) secara mendalam. Santo Ignatius mengajarkan untuk terus berefleksi, refleksi adalah reaksi yang tidak spontan yang membuat kita belajar dan selalu mempertimbangkan segala hal sebelum melakukan tindakan. Dengan berefleksi manusia menjadi lepas dan bebas dalam menentukan segala yang baik. Dari bacaan Injil, umut bisa belajar dari orang buta yang bersedia dituntun oleh Yesus untuk menjadi pribadi yang berani, objektif, kritis, serta realitif supaya kehidupan menjadi lebih seimbang khususnya pada era informasi ini. ((k_ant/ajsa/mvf)




