Tragedi Kemanusiaan 1965 merupakan sisi paling kelam dalam sejarah bangsa Indonesia sekaligus merupakan luka bagi nilai-nilai kemanusiaan. Akibat tragedi ini rakyat kecil menjadi tumbal bagi sebuah perebutan kekuasaan pada tingkat elit. Konflik ini membuat ratusan ribu orang telah dibunuh sedangkan ribuan lainnya diasingkan di penjara-penjara yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Pulau Buru, Nusakambangan dan penjara khusus perempuan di Plantungan (Jawa Tengah) merupakan beberapa contoh wilayah yang dijadikan kamp bagi para tahanan politik. Penjara Plantungan di Kendal, Jawa Tengah, merupakan salah satu saksi bisu dari kisah tragis para perempuan Indonesia yang diisolasi di bekas Rumah Sakit Lepra tersebut. Peristiwa Gerakan 30 September 1965 telah menjadikan mereka sebagai "tumbal" akibat tudingan terlibat atau dianggap dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sayangnya, Plantungan yang menyimpan banyak kisah dan kesaksian sejarah, nyaris hilang dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia saat ini. Itulah narasi sejarah singkat yang dikemukakan dalam peluncuran dan diskusi buku Plantungan: Pembuangan Tapol Perempuan. Acara peluncuran dan diskusi buku tersebut merupakan hasil kerja sama antara PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) Universitas Sanata Dharma yang merupakan penerbit buku dan Toko Buku Togamas. Buku Plantungan: Pembuangan Tapol Perempuan merupakan karya Dokter Sumiyarsi Siwirini C berkisah tentang perjalanannya sebagai seorang tahanan politik selama 11 tahun. Acara peluncuran buku yang diselenggarakan di Toko Buku Togamas pada 28 Mei 2010 dan berlangsung dari Pukul 19.00 WIB-21.00 WIB ini menghadirkan tiga pembicara, yakni Christina Sumarmiyati (Kipper), Pipit Ambarmirah (FOPPERHAM), Bambang Kusumo Prihandono (Sosiolog), dan dimoderatori oleh Monica Laksono (PUSdEP). Acara yang dibuka dengan pemutaran film Perempuan yang Tertuduh ini mendapat sambutan yang positif karena selain diikuti oleh mahasiswa, dosen, kalangan umum pecinta sejarah, juga dihadiri beberapa eks tapol dari luar Yogyakarta. Dalam kalimat pembukanya, Christina Sumarmiyati mengisahkan kembali perjalanan hidupnya saat dipenjara di Plantungan dan bertemu dr. Sumiyarsi. Menurut Sumarmiyati, Sumiyarsi adalah seorang dokter yg baik yang melayani tidak saja orang-orang dalam penjara tetapi juga masyarakat di sekitar Plantungan. Itu adalah salah satu bukti bahwa kami adalah orang-orang yang bermoral dan punya martabat, tidak seperti stigma para penguasa yang mengatakan kami jahat, tidak bermoral dan tidak bermatabat, tutur Sumarmiyati. Pipit Ambarmirah yang merupakan anak eks tapol mengenang dan berkisah tentang perlakuan teman-teman sebayanya maupun orang-orang di lingkungannya yang mengejek serta menyebutnya kafir, komunis, anak PKI . Stigma ini didapatnya bersama adik-adiknya sejak kecil. Hal inilah yang sempat membuatnya minder dan benci kepada orang tuanya. Membaca beberapa buku dan mengikuti diskusi membuatnya sadar bahwa orang tuanya hanya menjadi korban rezim yang semena-mena. Pipit justru merasa dengan peristiwa ini ia bisa melihat sisi positif dan belajar tentang ketabahan serta kerelaan dalam menjalani hidup. Pembicara lain, yakni Bambang Kusumo Prihandono, menyambut baik peluncuran buku ini. Ia mengatakan bahwa bagi anak muda yang sedang mencoba membaca dan memahami sejarah Indonesia kehadiran buku-buku seperti ini menjadi pengusik sekaligus pemberi semangat perlawanan terhadap kesadaran-kesadaran yang terlanjur mapan dan menindas. Menurut Bambang, permasalahan ini selalu aktual sekaligus menarik karena hadir untuk mengingatkan agar kita selalu membaca sejarah dan memiliki perspektif dalam membangun bangsa ini. Hal yang menjadi keprihatinan Sosiolog Universitas Atmajaya Yogyakarta ini adalah kenyataan bahwa kekerasan di negeri ini terus-menerus direproduksi tidak hanya oleh militer tetapi juga oleh kalangan sipil. Dalam kalimat penutupnya, Christina Sumarmiyati mengatakan bahwa apapun yg terjadi dan dalam suasana yang bagaimanapun, ia tetap berharap bahwa para korban peristiwa 1965 tetap hidup dan bersedia untuk menceritakan yang sebenarnya agar semua kebohongan sejarah para penguasa dapat dibongkar. (Darwin)




