Alunan suara gamelan memecah keheningan malam yang disertai dengan rintik-rintik hujan. Ladrang Grego Lagu mulai dimainkan oleh sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Karawitan Universitas Sanata Dharma. Lantunan suara gamelan yang ditabuh sedikit keras seakan memanggil para penikmat dan pecinta seni budaya untuk bergegas mendekat ke sumber suara.
Jumat (25/11) pukul 19.00 WIB suasana yang sedikit berbeda dari biasanya terjadi di Panggung Terbuka Kampus 2 Universitas Sanata Dharma Mrican. Hal ini terlihat dari ramainya orang-orang yang memenuhi kursi yang telah disediakan oleh panitia penyelenggara. Malam itu, Paguyuban Kethoprak Sadhar Budaya mempersembahkan Pagelaran Kethoprak dengan lakon “Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi” dalam rangkaian acara perayaan Dies Natalis ke-61 Universitas Sanata Dhrama Yogyakarta.
Lakon “Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi” mengangkat kisah perjuangan Panji Pulangjiwa dalam mendapatkan RA. Prabaretna melalui sebuah sayembara di mana siapa yang bisa mengalahkan RA. Prabaretna akan dijadikan suaminya dan ternyata Panji Pulangjiwa berhasil mengalahkan RA. Prabaretna dalam sayembara dan mempersunting RA. Prabaretna menjadi istrinya. Singkat cerita Panji Pulangjiwa dinobatkan sebagai senopati kadipaten Malang yang bertugas memimpin pasukan untuk mempertahankan daerah kekuasaan kadipaten Malang dari serangan kerajaan Mataram yang ingin memperluas daerah kekuasannya hingga ke Jawa Timur dan berniat untuk menjadikan kadipaten Malang sebagai daerah kekuasaan kerajaan Mataram. Beberapa kali pasukan Mataram mencoba menyerang kadipaten Malang namun selalu gagal hingga pada akhirnya kadipaten Malang lengah. Saat Panji Pulangjiwa pergi meninggalkan kadipaten Malang maka pasukan Mataram datang menyerang hingga menewaskan RA. Prabaretna istri dari senopati kadipaten Malang Panji Pulangjiwa. Melihat situasi seperti ini senopati Panji Pulangjiwa sangat marah dan berniat balas dendam untuk menyerang kerajaan Mataram. Inilah kisah perjuangan senopati Panji Pulangjiwa untuk mempertahankan daerahnya dan juga menuntut balas atas kematian istri yang sangat dikasihinya hingga menimbulkan duka yang sangat mendalam.
“Sadumuk Bathuk” berarti harga diri, sedangkan “Sanyari Bumi” berarti tanah sejengkal. “Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi” merupakan ungkapan sebuah pertanggung jawaban, sebuah kalimat heroik untuk mempertahankan sesuatu yang menjadi haknya. Mempertahankan hak baik berupa harga diri, reputasi, maupun prestasi yang telah didapatkan dengan proses perjuangan yang tidak mudah. Jika dikaitkan dengan kehidupan sivitas akademika prestasi dan reputasi yang telah didapatkan oleh Universitas Sanata Dharma harus dipertahankan dan tentunya tidak mau diganggu atau tunduk pada pihak lain karena merupakan harga diri yang patut diperjuangkan. Namun harus disadari bahwa proses perjuangan untuk mempertahankan itu lebih sulit dari pada proses mendapatkan. Inilah tantangan yang harus dilalui untuk meningkatkan mutu dan kualitas seluruh sivitas akademika Universitas Sanata Dharma agar meraih penilaian tertinggi dan mendapatkan pengakuan dalam bentuk akreditasi institusi. Demikian makna yang tersirat dalam pementasan kethoprak yang diungkapkan oleh Dalijo Angkring selaku penulis naskah dan sutradara dalam pagelaran kethoprak tahun ini.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pagelaran kethoprak kali ini didukung oleh seluruh sivitas akademika Universitas Sanata Dhrma mulai dari perwakilan dosen, karyawan, hingga mahasiswa yang tergabung dalam UKM Grisadha yang membawakan tari gambyong tayub, UKM Tae Kwon Do yang berperan sebagai prajurit dengan adegan laganya, UKM Seni Karawitan sebagai pengiring musik selama pementasan dibawah komando M. Nur Hanafi, Trikoya, dan Albertus Eko Susilo. Untuk semakin menghidupkan suasan maka dihadirkan pula bintang tamu dari seniman ternama yaitu, Sukir dan Dalijo Angkring yang sukses mengundang gelak tawa penonton lewat celetukan-celetukan dan dagelannya.
Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku pelindung pagelaran kethoprak sekaligus bertindak sebagai Rektor Universitas Sanata Dharma menegaskan bahwa pementasan kethoprak ini merupakan salah satu bentuk komitmen Universitas Sanata Dharma untuk setia menjadi wadah ekspresi dan aktualisasi budaya serta berperan aktif dalam merawat warisan budaya yang telah diwariskan oleh para nenek moyang terdahulu. Melalui seni budaya yang mulia seseorang dapat memiliki cita rasa yang tinggi, olah batin, dan komitmen untuk saling membantu dan melayani. Hal ini tercermin sebagaimana pertunjukan kethoprak ini dapat terwujud karena kerja sama dari banyak pihak dengan berbagai keterampilan yang dimiliki. Beliau juga mengucapkan terimakasih atas kehadiran para penonton baik dari kalangan sivitas akademika Universitas Sanata Dharma sendiri maupun masyarakat sekitar dan seluruh penikmat dan pecinta seni kethoprak yang berasal dari luar yang turut mengapresiasi pagelaran kali ini. Menurut beliau pagelaran ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya apresiasi dari penonton. (LH)




