Berangkat dari keprihatinan bersama akan keadaan bangsa pada saat ini, Komunitas Studi Kebangsaan (KSK) Universitas Sanata Dharma (USD) turut menyuarakan aksinya dengan mengadakan diskusi dengan mengusung tema “Memaknai Indonesia Memaknai Kesatuan”. Forum diskusi perdana itu dilaksanakan pada hari Jumat, 18 November 2016 bertempat di Aula Realino Universitas Sanata Dharma dengan anggota berjumlah 23 orang. Forum diskusi ini berlangsung selama tiga jam dimulai pada pukul 18.00 WIB. Seluruh peserta yang hadir merupakan anggota komunitas setiap angkatan. Hingga kini telah lima angkatan yang terus menghiasi gerak langkah komunitas yang baru berjalan selama kurang lebih tiga tahun ini.
KSK merupakan sebuah organisasi semiformal yang terdiri dari sekelompok mahasiswa USD yang memiliki kepedulian pokok yang besar terhadap persoalan kebangsaan di tanah air. Persoalan kebangsaan tidak bisa dibiarkan menggelinding secara bebas, seolah-olah akan mencapai masa depan yang sudah pasti. Persoalan kebangsaan harus dipikirkan, dibicarakan, direfleksikan, dan direncanakan secara sadar dan sistematis oleh generasi muda. Itulah sebabnya KSK USD telah menyelenggarakan lima angkatan pelatihan dan kegiatan lain yang berkaitan dengan kepemimpinan, spiritualitas, dan kebangsaan. Selain melibatkan mahasiwa lintas fakultas dan angkatan, KSK juga didampingi oleh sejumlah dosen dan pastor, baik dari lingkungan USD maupun dari luar USD.
Aku Peduli
Forum diskusi itu diawali dengan doa, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sambutan dari Koordinator KSK Anselmus Galih Asmarandaru. Mengawali sambutannya, Galih menyampaikan bahwa forum diskusi akan menjadi kegiatan rutin KSK dengan harapan semoga ke depannya kegiatan-kegiatan diskusi akan selalu berjalan baik dan selalu memberikan dan menularkan semangat orang muda di dalamnya. Selanjutnya, Galih juga mengantar para peserta untuk menggali lebih dalam keprihatinan-keprihatinan yang dirasakan orang muda saat ini dengan mencermati dan merefleksikan berbagai realitas peristiwa kebangsaan terkini.
Selanjutnya, Sebastianus Armedy Mario sebagai penyaji/pemantik materi diskusi mengajak seluruh peserta diskusi dengan mengulas kembali kondisi Indonesia pada zaman dulu di mana ketahanan pangan sangat mumpuni, kehidupan politik cukup stabil, semua orang bergotong royong untuk bekerja dan mempertahankan eksistensi bangsa yang besar. Sebastianus Armedy Mario menarik benang merah akan peristiwa yang terjadi pada saat sekarang di mana kini muncul berbagai polemik yang justru menjadi sebab pecahnya kesatuan. Perbedaan yang seharusnya menjadi pemersatu malah menjadi pemicu kehancuran bangsa Indonesia. Degradasi moral dan intoleransi kian marak merasuki bangsa ini sampai pada sendi-sendinya. Sebastianus Armedy Mario menegaskan bahwa negara kita sedang sakit dan membutuhkan dokter-dokter untuk merawat dan menyembuhkannya dan dokter itu ialah kita sendiri. Pesan-pesan yang disampaikan saudara Sebastianus Armedy Mario cukup membakar semangat seluruh peserta diskusi.
Peserta semakin berantusias ketika disajikan dua buah video yang berjudul “Aku Peduli” dan “Kulihat Ibu Pertiwi” oleh Carlos Venansius Homba yang juga sebagai pemantik materi berikutnya, ia mengatakan bahwa kita perlu merasakan masalah yang ada di sekitar kita. Apakah mungkin di setiap negara tidak ada yang kaya dan miskin, semua sama rata. Tetapi di negara demokrasi seperti di Indonesia semua bebas memiliki hak. Pada zaman dulu Indonesia berasal dari masyarakat yang beragam tetapi bisa bersatu dan menjadi satu kesatuan karena mempunyai satu tujuan yaitu lepas dari penjajahan. Walaupun saat ini penjajah masih ada dalam bentuk lain, tetapi Indonesia masih bisa menjadi satu, kita perlu menjaga kesatuan agar Indonesia menjadi lebih baik.
Dalam materi yang disajikannya dibahas tentang kesatuan yang merupakan kata berdaya magis bagi keberagaman dengan mengerucutkan pada tiga masalah aktual yang saling berkaitan. Pertama adalah masalah keruwetan yang tidak putus-putusnya dibahas mengenai identitas Indonesia dalam kebudayaan nasional, kedua, jurang antara mayoritas dan minoritas yang diperburuk oleh berbagai prasangka yang berpangkal pada kesalahan membaca peta Indonesia, dan ketiga, menyangkut bahasa yang dapat mewakili identitas Indonesia tersebut dengan menyadari bahwa keindonesiaan adalah suatu wawasan kemajemukan, kepelbagaian, dan kebhinekaan. Sebagai penutup kegiatan, diskusi diakhiri refleksi, semua peserta yang terlibat dapat mengungkapkannya dengan menuangkannya dalam bentuk tulisan dipandu pertanyaan reflektif. (Julia)




