Diterbitkannya buku kumpulan sajak “Jalan Panjang Telanjang” karya Joseph Sali oleh Sanata Dharma University Press ditandai dengan peluncuran buku tersebut yang digelar pada Jumat, 18 November 2016 di ruang seminar LPPM oleh Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia (PUSDEMA) bekerja sama dengan Sanata Dharma University Press dan didukung oleh Universitas Sanata Dharma.
Joseph Sali, pria kelahiran Yogyakarta, 17 Juli 1947. Ia pernah belajar sastra dan menulis puisi pada Rivai Apin, Totok Andang Taruna dan Benny Chung pada tahun 1972 ketika dibuang di Pulau Buru.
“Buku ini menambah khasanah tentang Pulau Buru.” ungkap Yoseph Yapi Taum dalam sambutannya mewakili Pusdema. “Ini sebuah saksi sejarah yang penting.” tambahnya. Diungkapkan juga bahwa puisi-puisi Joseph Sali telah mengalami jalan panjang dalam proses penerbitannya hingga menjadi buku sebagaimana jalan hidup yang sudah dilakoni oleh penulisnya. Perlu waktu sepuluh tahun hingga buku tersebut akhirnya terbit.
Diskusi buku dihadirkan dengan nuansa ringan berkat Patrick Ardina Barata sebagai pemandu acara, diselingi oleh pembacaan puisi karya Joseph Sali salah satunya oleh Mario F Lawi, berikut penampilan musik dari Benang Merah sebuah grup musik dari Solo yang mengusung tema-tema sosial. Duet Joseph Sali dan grup musik tersebut menghangatkan suasana diskusi hingga tidak terasa berlangsung selama tiga jam.
Romo Antonius Sumarwan, SJ. sebagai salah satu pemantik diskusi mengungkapkan bahwa, “Puisi Pak Sali itu sebagai sebuah kesaksian. Kesaksian dari pengarangnya. Tentang pengalaman beliau, tentang ’65 dan Pulau Buru. Puisi-puisinya sendiri meminta dibaca seperti itu. Ketika ngomong tentang saksi, Paul Richour seorang filsuf dari Perancis menulis bahwa ada suatu peristiwa dan ada orang yang menceritakan peristiwa itu (saksi), kemudian ada pihak lain yang diberi cerita dan orang ini tidak menyaksikan secara langsung peristiwa itu.” Ketika kesaksian itu disampaikan lewat sajak, maka ia tidak berpretensi untuk memberi gambaran atau deskripsi lengkap atas apa yang terjadi, begitu lebih lanjut ia paparkan.
Dari sisi Joseph Sali, penyintas Buru dan sekaligus penyair, terbersit sebuah pernyataan, “saya menyimpulkan telah dilahirkan kembali!” “Saya pun merasa di-‘uwong’-ke lagi dan saya teringat dengan kisah kembalinya si anak hilang.” Ia sebelumnya belajar puisi di ladang, sambil bekerja, saling mendekati dengan si pemberi ilmu. Satu sama lain saling ‘take and give’. Di sana (Buru) belajar selalu dalam keadaan sembunyi-sembunyi. “Bapak Rifai Apin satu kolektif di Unit III, waktu itu di Barak 1. Di dalam satu ruangan itu, bertemu terus dan di situlah belajar.” kenangnya.
Momen yang dimaknai oleh Joseph Sali sebagai “kelahiran kembali” itu dipertegas oleh Guntur Narwaya dari PUSHAM UII sebagai sebuah periode di mana Orde Baru berhasil mendesain satu cerita, dibangun dalam kerangka yang masif, bahkan hingga pada pola pendidikan keseharian. “Melawan sedikit saja, tidak sesuai, kita sudah disebut PKI.” “Bahkan muncul stereotip bahwa, ‘kritis itu PKI.’”
Selaksa lara// masih terasa, di lubuk kalbu// bukan aku kelu// ‘tuk berbicara// sebab ku tak kuasa// untuk bercerita// dengan sebuah pena// dan secuil kertas// kucoba goreskan// akan sebuah kata, petikan puisi Tabula Rasa. (DI)




