Beberapa hari terakhir ini marak kembali terjadi kasus kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Sebuah bom Molotov dilemparkan ke sebuah Vihara, sebelumnya sebuah bom juga dilemparkan ke sebuah gereja di Samarinda. Setidaknya 4 korban anak-anak harus dirawat dengan luka bakar serius. Salah satu korban akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Dia adalah Intan Olivia (2,5) yang mengalami luka bakar 70 persen pada tubuhnya.
Sebagai wujud belasungkawa, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sanata Dharma melakukan Aksi Solidaritas Intan Olivia dan Tolak Upaya Pemecah Belah Bangsa. Koordinator Aksi, Angga Dwi Putra mengatakan “kegiatan ini dilatarbelakangi rasa solidaritas dan keprihatinan bersama terhadap peristiwa yang terjadi di negeri ini beberapa waktu terakhir, terkhusus insiden di Samarinda. Oleh sebab itu, mahasiswa sebagai agen perubahan harus bergerak dengan cara meningkatkan toleransi dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Dimulai dari mahasiswa sebagai penerus bangsa, semangat Bhineka tunggal Ika harus senantiasa dijunjung tinggi”.
Aksi malam itu juga diikuti oleh Keluarga Mahasiswa Buddha, Konghuchu, Komunitas Studi Kebangsaan, Keluarga Mahasiswa Hindhu Dharma, dan Fakultas Sains dan Teknologi serta mahasiswa umum sebagai simbol Indonesia kecil dengan beragam suku dan agama.
Aksi dimulai dengan diskusi sebagai wadah mahasiswa mengungkapkan persepsi mereka terhadap insiden beberapa hari terakhir ini. “intinya tidak ada satu agamapun di Indonesia ini yang mengajarkan kekerasan, sebaliknya semua mengajarkan kebaikan, suka cita, damai sejahtera, dan cinta kasih.” ujar
Angga. Massa menolak dengan keras segala bentuk tindakan kekerasan yang menciderai nilai-nilai kemanusiaan, apalagi menggunakan agama sebagai dalil tindakan mereka.
Selanjutnya massa menyalakan lilin dan berdiri di depan Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma. Massa mengucapkan kembali sumpah pemuda sebagaimana pemuda dulu menggunakannya sebagai pemersatu. Aksi ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 2 kali. (AC)




