Pada momen Bulan Bahasa, UKM Seni Karawitan Universitas Sanata Dharma mengisi kegiatan yang khas yaitu pagelaran wayang kulit dengan tema “Kisah Prabu Watugunung Bersama (Para) Penjaga Iklim”. Pagelaran wayang kulit dengan menggunakan 2 bahasa, 3 dalang, dan 3 kelir ini diselenggarakan pada tanggal 31 Oktober 2016, pada pukul 19.00 – 24.00 WIB bertempat di Panggung Terbuka Kampus II Universitas Sanata Dharma.
Kekhasan yang dimaksud dalam pagelaran ini adalah, (1) bahasa sastra pada lakon yang dipilih, (2) bahasa tutur yang dibawakan dalang, (3) didukung seni karawitan dan dalang yang merupakan warga civitas akademika Universitas Sanata Dharma. “Saya rasa, wayang ini merupakan wayang ‘abad 21’ di mana tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana kita dapat menerima ambiguitas. Wayang yang diprakarsai oleh Romo Banar sejak tiga tahun terakhir merupakan jawaban atas tantangan ini, bahwa kita mampu menerima ambiguitas. Dalam wayang kita mengenal kata “pakem”, kata ini merupakan lawan dari kata ambiguitas ini sendiri. Mungkin jika kita tidak dapat menerima ambiguitas, kita dapat memprotes para dalang yang telah ‘merusak’ pakem. Tetapi ‘merusak’ di sini adalah ‘merusak’ secara cerdas, di mana kita dapat mengaplikasikan pengetahuan, dalam hal ini penggunaan bahasa asing yang sebelumnya tidak pernah digunakan dalam pewayangan.” ujar bapak F.X. Ouda Teda Ena, M.Pd., Ed.D. selaku Wakil Rektor IV USD dalam sambutannya.
Kekhasan yang pertama dalam pagelaran ini terletak pada lakon yang dipilih yaitu, Prabu Watugunung. Lakon tersebut terkait dengan tema ekologis yang sangat relevan untuk masyarakat saat ini. Kisah ini menceritakan tentang usaha Prabu Watugunung yang akan memperistri Dewi Tumpak dengan syarat harus menikah dengan delapan ratus Putri Domas. Akan tetapi, setelah syarat itu terpenuhi justru perasaan Prabu Watugunung beralih kepada ibu kandungnya sendiri yaitu, Dewi Sinta. Pernikahan Prabu Watugunung dan Dewi Sinta dikaruniai 28 anak. Nama anak-anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta inilah yang menjadi nama-nama setiap wuku.
Kekhasan kedua adalah bahasa tutur yang digunakan oleh dalang, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Adanya pertunjukkan ini bahasa Indonesia dirayakan. Dengan Adanya Pagelaran Wayang Kulit ini, UKM Karawitan USD yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia bersedia, siap, dan memiliki niat untuk menciptakan kesenian tradisional. Pagelaran yang menggunakan 2 bahasa, 3 dalang, dan 3 kelirini merupakan bentuk inovasi, di mana pada tahun lalu, UKM Karawitan telah melaksanakan Pementasan wayang kulit 2 dalang, 2 kelir, dan 2 bahasa.
Pagelaran ini didampingi oleh Dr. Gregorius Budi Subanar, SJ. dan Albertus Eko, S.Sn. Tiga pelatih turut terlibat dalam pelatihan pagelaran ini yang mana ketiganya merupakan alumni Institut Seni Indonesia, yakni Bapak Albertus Eko Susilo (Pendamping UKM), Bapak Trikoyo, dan Bapak M. Nurhanafi. Pagelaran ini, menggunakan tiga buah panggung yang merupakan panggung yang dimiliki oleh Rm. Banar, Br. Kirjo, dan milik program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. “Latihan untuk mempersiapkan pagelaran ini dilakukan selama 6-7 minggu.” ujar Lawrence Herianto, salah seorang anggota UKM yang juga turut bermain musik (kenong) dalam pagelaran ini.
“Harapan saya pertunjukan wayang selanjutnya bisa berinovasi kembali. Seperti tahun ini kita punya hal yang kita unggulkan dibanding tahun kemarin, yaitu tahun lalu masih dengan 2 bahasa, namun kita mengemas dengan 3 dalang dan tiga kelir, sekaligus mengintegrasikan 2 gaya pewayangan, yaitu gaya Solo dan Yogyakarta. Penonton memenuhi kursi yang tersedia bahkan sampai kurang (kursi). Maka, harapan saya biarlah para pembaca juga peduli dan perhatian dengan usaha-usaha pelestarian budaya apalagi wayang yang sudah diakui secara internasional.” ujar Yosafat Margiono, seorang mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang menjabat sebagai Ketua Pagelaran. (EEN)




