Dikatakan bahwa narasi sejarah Indonesia seringkali muncul karena terjadinya “peristiwa besar” dan sifatnya kausal, yang berarti suatu peristiwa sejarah dapat dijelaskan dan dihubungkan dengan peristiwa sejarah yang lainnya sehingga membentuk jalinan peristiwa sejarah. Konstruksi sejarah dan rasionalitasnya seharusnya harus terus dikritisi dan dicermati secara lebih seksama. Hal itulah yang ingin disajikan dalam Diskusi Terbatas “Narasi Sejarah dan Proses Sosial” yang dilaksanakan pada hari Jumat, 30 April 2010 bertempat di Ruang Teratai, Kompleks Paskasarjana, Kampus II Mrican, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Acara yang diselenggarakan atas prakarsa PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) USD tersebut menampilkan dua pembicara utama, yaitu Dr. Fadjar I. Thufail (LIPI) dan Dr. Yosep Djakababa (Sahabat Museum) dan dihadiri olah para mahasiswa S2 IRB (ilmu Religi dan Budaya), Sejarah, dosen, dan juga kolega PUSdEP yang berasal dari berbagai lembaga swadaya masyarakat di Yogyakarta. Dalam diskusi yang berlangsung sekitar dua jam itu, para pembicara mengangkat dua peristiwa besar dalam sejarah Indonesia, kejadian 1965 dan 1998, dan kemudian mencoba menawarkan penafsiran kritis tentang dua peristiwa besar itu. “Kali ini fokusnya bukan pada peristiwanya, tetapi lebih kepada bagaimana peristiwa itu diceritakan kembali.” Ujar Dr. Fadjar I. Thufail. Lebih lanjut ia juga menjelaskan bahwa selama ini sejarah hanya bersumber dari sudut pandang si pelaku sejarah, tetapi sesungguhnya hadir juga pengaruh dari pihak lain yang juga bisa dikatakan sebagai pelaku sejarah, contohnya seperti media massa. Dalam dua peristiwa sejarah tersebut, peran media massa juga tidak bisa dikatakan kecil. Dengan kata lain, diskusi ini bertujuan untuk memahami efek naratif dalam konstruksi narasi sejarah tentang kejadian tahun 1965 dan 1998 dan pengaruhnya terhadap penjelasan dan fakta sejarah. Usaha semacam ini sungguh menjadi penting untuk mengajak bangsa Indonesia membangun karakter bangsa yang berpikiran kritis, termasuk terhadap sejarah bangsanya sendiri. (Bunga)




