Berbagai diskusi dan berita terkini menyebutkan bahwa Yogyakarta merupakan salah satu kota dengan tingkat intoleransi tertinggi. Kemanakah slogan Jogja berhati nyaman? Maka, konsep toleransi apa yang ingin dicari di kota Yogyakarta ini? Dalam menjawab keprihatinan ini, Campus Ministry Universitas Sanata Dharma pada hari Sabtu, 29 Oktober 2016 menyelenggarakan sebuah talkshow bertajuk “Membangun Kota Toleran”. Talkshow ini menghadirkan tiga narasumber yang inspiratif, tiga figur yang sungguh terjun di lapangan dan berjuang dalam membangun toleransi di bidangnya masing-masing. Ketiga narasumber tersebut adalah Bapak Supriyadi selaku penggerak kaum muda di kampung Rejowinangun, Bapak Ahmad Ramdon selaku pencetus Kampungnesia, dan romo In Nugroho, SJ. dari Universitas Sanata Dharma. Acara dibawakan oleh Gigih Adiguna selaku MC dan dipandu oleh Risang Baskara, M.Hum selaku moderator. Talkshow ini dihadiri oleh mahasiswa USD yang mewakili komunitas-komunitas keagamaan, seperti: Cana Community dan Kompai (Katolik), PMK (Kristen), FKM (Muslim), KMHD (Hindu), dan KMBK (Buddha dan Kong-Hu Cu). Talkshow juga dihadiri oleh perwakilan dari UNIKA Soegijapranoto Semarang, UNS Surakarta, warga Rejowinangun, dan peserta umum. Pada sesi pertama, kesempatan diberikan pada Bapak Supriyadi dan bapak Ahmad serta Romo In pada kesempatan sesi kedua.
Bapak Supriyadi membagikan kisahnya dalam menggerakkan kaum muda di kampung Rejowinangun. Kampung Rejowinangun merupakan sebuah kampung yang berbasis Muhammadiyah, berlatar belakang jiwa melayani yang diteladani dari nabi Muhammad, kampung inipun terus berproses menjadi kampung yang dapat saling melayani satu sama lain. Bapak Supriyadi bertutur bahwa pada awalnya beliau juga merupakan seorang pendatang di kampung ini. Beliau memiliki beberapa saudara sepupu yang telah lebih dahulu bermukim di kampung ini. Pada tahun 2007, beliau memulai penggerakan di kampung ini. Beliau sadar bahwa kaum muda merupakan sasaran yang potensial untuk penanaman semangat dalam melayani, dalam mewujudnyatakan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi warga kampung. Paguyuban pemuda kampung yang diprakarsai oleh Bapak Supriyadi ini bernama Angkatan Muda Senopati. Beliau berkisah, bahwa pemuda-pemudi kampung sering mengatakan bahwa “Ada mas Supri, jadi lebih rame”, beliau mengaku senang bisa turut terjun langsung dan “menghidupkan” peran kaum muda di kampung ini.
Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan oleh pemuda-pemudi kampung Rejowinangun antara lain: perayaan hari Pancasila (hanya satu-satunya yang merayakan di Yogyakarta), dimana pada perayaan ini diundang pula seorang ustadz NU, mengundang seorang pembicara dari Janabadra, dan juga mengundang beberapa partai. Beliau menampik ketika ada yang berpendapat bahwa acara yang diselenggarakan ini mengatasnamakan partai tertentu, karena keterlibatan partai-partai di sini juga tidak lepas dari warga kampung yang memiliki ketertarikan pada semangat partai tertentu, lagipula partai-partai juga tidak terlibat secara struktural dalam penyelenggaraan acara. Kegiatan selanjutnya adalah kegiatan membersihkan lingkungan sebagai sarana membangun kesadaran warga akan pentingnya kebersihan. Tidak hanya melakukan aksi bersih-bersih di kampung, warga kampung Rejowinangun juga telah melakukan aksinya di depan benteng Vredeburg. Kegiatan yang lain adalah Kartini award, dimana Angkatan Muda senopati ”sowan” atau mengunjungi tiga orang ibu, yang telah berkarya dan memberikan sebagian besar waktu bagi perkembangan kampung Rejowinangun, untuk kemudian diberikan kenang-kenangan. Bapak Supriyadi juga memiliki hobi videografi, dimana beliau selalu mendokumentasikan setiap kegiatan yang telah beliau lakukan bersama Angkatan Muda Senopati. Hal ini berhasil menarik antusiasme warga, karena video terbilang merupakan media yang atraktif dalam memberi semangat atau sebagai sarana penghiburan. Terlihat dalam perayaan 17 Agustus yang lalu, beliau memprakarsai nonton bareng video yang berisikan kegiatan-kegiatan yang telah berlangsung (beliau mengistilahkan “ya nonton temen sendiri”) dan penyelenggaraan upacara Pemuda.
Kunci pendekatan yang dilakukan oleh bapak Supriyadi dengan kaum muda di kampung tempat tinggalnya adalah “mulailah dari apa yang mereka sukai”, semisal kaum muda terinspirasi dengan kelompok tertentu, maka dirancanglah sebuah kegiatan yang melibatkan kelompok tersebut. Pendampingan pemuda yang efektif menurut beliau adalah dengan terlibat langsung dalam setiap acara yang dipersiapkan oleh kaum muda, dan jangan mendominasi mereka.
Jika berbicara tentang toleransi, bapak Supriyadi memiliki kisah sendiri. Beliau telah menanamkan nilai toleransi dari lingkup terdekatnya, yakni keluarga. Adapun Bapak Supriyadi dan istri memiliki keyakinan yang berbeda. Adanya “perbedaan” ini justru dimaknai menjadi kekuatan, dimana rasa saling menghormati dan menghargai dapat semakin terasah. Tidak ada pemaksaan untuk mengikuti hal yang diyakini oleh salah satu pihak, melainkan memberikan kebebasan untuk melakukan pilihan yang diyakini dan selalu saling mendukung.
Pembicara kedua dalam talkshow ini adalah bapak Ahmad, pencetus Kampungnesia. Beliau memulai pendekatan ini lewat media pembelajaran di kelas, di mana beliau mengampu sebuah mata kuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS). Kampungnesia sendiri merupakan sebuah web yang berisi narasi tentang kampung-kampung yang dikumpulkan dari tugas-tugas para mahasiswa. Beliau menuturkan, sebuah kota selalu dimulai dari kampung. Maka menjadi penting untuk memahami narasi kampung-kampung yang ada di sekitar kita. Berawal dari aktivitas belajar mengajar di kelas. Mahasiswa diminta untuk sharing, menjadi narasumber bagi teman-temannya tentang kampung di mana ia berasal. Pertanyaan-pertanyaan akan semakin diperluas, mulai dari pertanyaan yang bisa dijawab oleh mahasiswa itu sendiri, kemudian pertanyaan yang jawabannya dapat dibantu oleh orangtua, dan terus berkembang tentang rumah-rumah lain yang ada di sekitar rumah mahasiswa tersebut hingga akhirnya tersusun narasi tentang kampung tersebut. Harapannya orang-orang tidak hanya melihat kampung dari luarnya, melainkan juga dalamnya, bagaimana kondisi masyarakat, bagaimana perubahan-perubahan ataupun problem-problem yang terjadi di kampun tersebut. Menjadi penting untuk mendokumentasikan setiap kegiatan ataupun kondisi yang ada di suatu kampung. Beliau berkata “Sesering mungkin sebuah kampung harus difoto”. Sehingga dari setiap narasi tentang kampung yang telah dikumpulkan, harapannya sebuah kota dapat belajar untuk semakin memajukan masyarakatnya. “Catat, rekam, dan bagikan setiap narasi dari kampung, agar kota berdaya, bukan dari kota tetapi dari warganya”, ujar beliau. Kalimat inspiratif yang beliau paparkan selanjutnya, “Saya ngga berhak ngomong kalau saya ngga mengalami, misalnya saya tidak bisa berbicara tentang kerusuhan di era kemerdekaan karena saya ngga mengalami. Jika ingin memperoleh saran atau memperoleh ilmu tentang suatu peristiwa, carilah pada orang-orang yang sungguh terlibat di dalamnya”. Pesan beliau di akhir diskusi: perubahan bukanlah hal yang mudah, jika maju sendiri itu sulit, carilah teman yang juga berani seperti anda. Minimal anda bisa bersandar padanya jika terjadi masalah.
Pada transisi antara kedua sesi, peserta dihibur oleh Yuliono Singsat, seorang mahasiswa UMY yang sangat menginspirasi. Ia saat ini sedang merambah dunia musik dengan sajian musik yang khas dengan balutan humor yang segar. Ia juga membuka usaha kopi keliling disela-sela melaksanakan kewajibannya sebagai pelajar dan sebagai seorang penyanyi.
Pembicara ketiga dari talkshow adalah romo In. Beliau merupakan seorang romo yang juga menekuni bidang ekonomi. Beliau pernah menulis di Kaki Kecil: kalau kita berbicara tentang kota, kita berbicara tentang hidup. Beliau mengangkat keprihatinan persentase warga miskin di banding jumlah seluruh warga Yogyakarta merupakan yang terbesar di Indonesia. Hal yang terjadi sekarang ini adalah “Sedikit orang menguasai banyak, banyak orang menguasai sedikit”. Hal ini menunjukkan bahwa hal yang patut menjadi keprihatinan kita bersama adalah tentang kesenjangan dalam masyarakat. Kesenjangan ini dapat diatasi dengan mempererat kebersamaan hidup antara satu pribadi dan pribadi yang lain (connected). Letak tantangannya kemudian adalah: apa yang membuat tidak connected? Kemudian harus bagaimana menyikapinya dan bagaimana caranya? Beliau menjawab, “Secara sederhana dapat diwujudkan dengan saling memberi dan saling menguatkan”. Kemudian sebagai kaum muda hendaknya kita perlu menjadi kritis, tidak “meng-amini” semua informasi yang kita peroleh sehingga tidak menimbulkan persoalan antar individu. Terkait dengan acara ini (lintas iman), beliau berharap bahwa “lintas” di sini dapat dimaknai sebagai daya kreatif untuk dapat saling mengembangkan. Beliau juga menanggapi tentang “toleransi apa yang Jogja inginkan?” dengan pernyataan berikut, “Kita tidak dapat memungkiri jika seseorang menjadi individu, sebab individu merupakan suatu kesatuan yang utuh dan dapat berkarya, yang harus diwaspadai adalah jangan sampai menjadi individualistis atau self-centered karena akan berdampak pada intoleransi”. Beliau mengajak seluruh peserta untuk membangun communion di mana setiap orang dapat diterima dan di rangkul di komunitas di mana ia berada.
Pesan yang diperoleh dari talkshow ini adalah, mari mengenali kembali lingkungan tempat kia berada kini, apa saja keprihatinan masyarakat yang ada di sana dan apa usaha yang dapat kita berikan bagi lingkungan kita. Mari, kita wujudkan kembali Jogja yang berhati nyaman. (EEN)




