“Bila aku mendengar gamelan, aku mendengar Indonesia”. Sebuah cuplikan dari pidato Soekarno di tahun 1962 pada sebuah pertemuan pemuda di Solo. Identitas sebuah bangsa, penanda kebanggaan, seni adiluhung yang luhur, itulah gamelan. Maka pada Parade Gamelan Anak ke-9 diambil sebuah tema “Aku Dengar Gamelan Aku Dengar Indonesia”.
Universitas Sanata Dharma (USD) kembali mengadakan Parade Gamelan Anak pada hari Minggu, 23 Oktober 2016 bertempat di Lapangan Realino Kampus 2 Mrican USD. Sebanyak 16 grup peserta hadir dari berbagai sekolah dasar di Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk unjuk keterampilan dalam memainkan gamelan. Kemeriahan Parade Gamelan ini turut didukung dengan berbagai acara antara lain Expo Turonggo Lawung, Expo Batik, Expo Wayang Transparansi, Pembuat Mainan Anak, Galeri Pargem, Icon Pargem, Dolanan Bocah, dan Pasar Pargem. Tidak hanya itu, Karawitan Bina Siwi dan Turonggo Lawung turut tampil sebagai bintang tamu dan memeriahkan Parade Gamelan ini. Hadir di dalam acara, para pengamat budaya, antara lain Prof. Dr. Suminto A. Sayutiv (Guru Besar Karawitan), Drs. Budi Raharja, M. Hum. (Dosen Tetap ISI Yogyakarta), dan Budi Pramono (Praktisi).
Aji, selaku Ketua Umum Panitia Parade Gamelan Anak ke XI, mengungkapkan bahwa eksistensi gamelan di era digital ini menunjukkan bahwa kegemaran masyarakat terhadap alat musik tradisional ini masih sangat diminati. “Hal ini seturut dengan tema Dies Natalis USD tahun ini, Cerdas dan Humanis di Era Digital.” ungkap beliau. Menjadi alat musik tradisional semenjak berabad-abad lalu membuktikan salah satu poin kecerdasan yang dimiliki oleh gamelan.
Rektor USD, Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. mengungkapkan bahwa komitmen yang tinggi merupakan modal dasar Parade Gamelan Anak sehingga bisa memasuki tahun kesembilan semenjak pertama kali pada tahun 2008. Dukungan USD dalam memegang komitmen ini juga ditunjukkan sebagai salah satu visi USD dalam mendidik generasi muda penerus bangsa, baik dalam hal tradisi, budaya, maupun nilai-nilai kehidupan dari para leluhur. Beliau turut mengungkapkan harapannya bahwa kelak acara ini semakin meluas dan mampu menjangkau lebih banyak peserta sehingga budaya tradisional mampu dilestarikan bersama di era digital ini. (k_ant)




