“Jantung universitas adalah perpustakaan. Jantung perpustakaan adalah pengguna. Secanggih apapun sebuah perpustakaan tidak akan menjadi berarti tanpa adanya kehadiran pengguna. Untuk itu Perpustakaan USD berkepentingan dengan dialog ini agar memperoleh masukan positif bagi para pengguna dan bagi perkembangan perpustakaan itu sendiri,” Demikian sambutan Kepala Perpustakaan USD pada acara Talk Show Pendidikan Etika Pengguna di Kampus III Paingan (13/4)dan Kampus II Mrican (15/4). Talk show yang bertajuk “Dialog Bareng Perpustakaan: Menjadi Pengguna yang Tertib dan Bertanggjawab” ini menghadirkan nara sumber dari kalangan dosen, mahasiswa, dan petugas perpustakaan. Dari kalangan dosen diwakili oleh C. Siswa Widyatmoko, S.Psi. dan Drs. Anton Haryono, M.Hum. Sementara itu dari kalangan mahasiswa diwakili oleh Rama Sugandhi dan Agustina Ari Wisudawati. Dari pihak perpustakaan diwakili oleh Y.Anik Dwi Prastiwi, S.T.P., A.Ma. dan Drs. P.Suparmo, S.S., M.Hum. Panitia pelaksana sebagian besar di pegang oleh Mitra Perpustakaan. Dialog diawali dengan pemutaran film berdurasi 20 menit tentang pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di Perpustakaan USD. Pelanggaran ini mulai dari pemakaian sandal jepit hingga aksi penyobekan koleksi. Banyak peserta yang mengaku kaget dengan aksi fandalisme tersebut. “Ternyata ada ya yang tega menyobek buku,” celetuk salah satu peserta. Buku yang disobek tersebut juga ditunjukkan oleh P. Suparmo di hadapan para peserta. “Buku ini adalah benda mati tetapi dia mempunyai jiwa karena ada isinya yaitu pengetahuan, jika buku disobek maka dia menjadi tidak berarti”. Sementara itu Siswa Widiatmoko mengatakan bahwa beretika di perpustakaan tersebut bisa dimulai dari menghormati diri sendiri. “Sudah selayaknya kita menjadikan diri manusia yang bermartabat dengan menaati peraturan yang berlaku”. Senada dengan Siswa, Rama Sugandhi mengatakan bahwa dengan menaati peraturan berarti juga menghargai orang lain. Pendapat lain dikemukakan Anton Haryono. Anton mengatakan bahwa para pengguna harus bersedia menjadi pewarta bagi pengguna yang lain. “Perpustakaan adalah milik kita bersama dan saya yakin yang hadir di sini sudah tertib. Menjadi tugas kita selanjutnya adalah mewartakan rasa tertib dan bertanggungjawab kita ini kepada mahasiswa lain,” demikian jelas dosen ilmu sejarah yang memang senang berkunjung ke perpustakaan ini. Dialog tersebut semakin manarik dengan hadirnya buku-buku berbobot sebagai hadiah bagi peserta yang bisa menjawab pertanyaan dari panitia. Salah satu peserta yang tidak bersedia disebut namanya merasa sangat senang dengan buku yang diperolehnya. “Aku sudah mengincar buku itu dari tadi, makanya berebut menjawab pertanyaan dan ternyata jawabannya benar,” katanya tersenyum. (dra)




