Meskipun kini hujan deras menimpa bumi... penuh derita ... topan badai memecah ombak... untuk Patria... Tembok tinggi memisah kita ... Namun yakin dan pasti ... masa depan ‘kan datang ... Kita pasti kembali ...
Begitulah antara lain bunyi salah satu lirik lagu merdu yang berkumandang di bawah Beringin Soekarno di Kampus 2 Universitas Sanata Dharma Sabtu petang tanggal 1 Oktober 2016 lalu, setelah gerimis panjang yang mengguyur kota Jogja usai. Kumandang lagu itu didendangkan oleh kelompok ibu-ibu yang tergabung dalam sebuah paduan suara bernama “Dialita”. Anggotanya adalah mereka yang dalam prahara tragedi kemanusiaan tahun 1965 dan setelahnya menjadi korban tetapi yang kini telah menjadi survivor (penyintas) yang tangguh. Mereka adalah perempuan-perempuan perkasa yang tanpa pernah diadili telah dicap bersalah dan dijebloskan ke dalam penjara, atau yang telah kehilangan orangtua, teman dan sanak saudara dalam tragedi kemanusiaan tersebut. Penderitaan mereka begitu mendalam, namun mereka menolak untuk terus berkubang dalam duka. Mereka memilih untuk bangkit sebagai manusia-manusia merdeka yang selalu menjunjung tinggi semangat cinta kepada sesama dan bangsanya.
Kutipan lirik di atas diambil dari lagu berjudul “Ujian” karya Siti Jus Djubariah. Lagu itu, bersama dengan sepuluh lagu lain termasuk lagu “Taman Bunga Plantungan”, “Padi Untuk India”, dan “Salam Harapan” dinyanyikan oleh kelompok Dialita saat konser musik digelar dalam rangka peluncuran album Dialita yang berjudul “Dunia Milik Kita”. Konser itu sendiri berlangsung berkat kerjasama sejumlah pihak, termasuk PUSDEMA (Pusat Kajian Demokrasi dan HAM) USD, Kedai Kebun Forum, IVAA, SUJ Stage and Rigging, InfoJogja, Yes No Wave Music, Bakudapan, Info Seni Jogja, Kongsi Jahat Syndicate, dan Beranda Jogja.
Selain Ibu-ibu Dialita, petang itu tampil pula sejumlah seniman musik papan atas Yogyakarta seperti Frau, Sisir Tanah, Nadya Hatta, Lintang Raditya, Prihatmoko Catur, serta Kroncong Agawe Santosa. Sekitar 300 orang penonton, yang kebanyakan anak muda, berjejal di Taman Beringin Soekarno, tajam menatap panggung yang disusun dengan penuh pesona oleh Gufi Cs tempat pertunjukan digelar. “Saya merinding” tutur seorang penonton kepada temannya setelah mendengarkan salah satu lagu yang ditampilkan oleh Ibu-ibu Dialita. Lagu-lagu Dialita sendiri kebanyakan adalah lagu-lagu perjuangan, dan bisa diunduh gratis lewat internet. (rmb/foto: vissia ita)




