Mukidi akhir-akhir ini memang lagi ngehits di media sosial. Mukidi adalah tokoh humor yang membuat pembacanya tertawa karena ceritanya yang fiktif dan sungguh konyol. Namun, “Mukidi” yang ini membuat para remaja sadar akan pentingnya arti “MUKIDI” yang sebenarnya. Cristian Ade Prasetia adalah pencetus “MUKIDI” yang mendidik para remaja saat ini.
Cristian Ade Prasetia baru saja mendapatkan Medali Emas dalam ajang Olimpiade Nasional Bimbingan dan Konseling pada cabang Media yaitu Media Poster.
Olimpiade Nasional Bimbingan dan Konseling ini adalah event nasional yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling (IMABKIN). Kegiatan ini terselenggara setiap ada kongres IMABKIN dan pada tahun ini Universitas Negeri Malang menjadi tempat kongres IMABKIN, sehingga Universitas Negeri Malang menjadi tuan rumah Olimpiade Nasional Bimbingan dan Konseling 2016. Kegiatan tersebut terlaksana pada 22 September 2016 dengan tema “Peningkatan Kompetensi Bimbingan dan Konseling untuk Pembentukan Karakter Konselor“
Program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma mengirimkan 6 perwakilan mahasiswa pada 3 cabang yaitu cabang Bimbingan: Donald Ivantoro dan Brigitta Shelly Zahara, cabang Konseling: Juliani Melani dan Sifra Dita Novelina, dan cabang Media: Cristian Ade Prasetia dan Carolus Boromeus Eko Indah Sasongko. Peserta yang mengikuti kegiatan ini ada 220 mahasiswa dari universitas negeri dan swasta seluruh Indonesia.
Mukidi itu apa? Jadi, Cristian Ade Prasetia mengkonsep “MUKIDI” sebagai tema media poster yang dibuatnya. “MUKIDI” kepanjangannya “Menolak Untuk Perkawinan Dini” tema ini bermaksud untuk mengajak para remaja untuk tidak menikah di usia dini. Hal itu penting karena akibat perkawinan dini dapat menimbulkan perkembangan yang kurang sesuai dengan porsinya sebagai remaja yang dituntut untuk mengembangkan kemampuannya dan mengelola hati dengan baik. Perkawinan dini akan menyebabkan remaja frustasi, sulit bersosialisasi di lingkungan, sulit mendapatkan pekerjaan, dan pendidikan terganggu.
Pembuatan media ini tidak lepas dari dukungan dosen pembimbing yaitu Juster Donal Sinaga, M.Pd dan usaha yang cukup keras oleh Cristian Ade Prasetia dalam mengkonsep tema ini sehingga dapat memenangkan perlombaan ini. Pada sistem penilaian cabang media, dinilai oleh juri melalui babak penyisihan. Pada babak penyisihan ini dipilih 6 finalis untuk mengikuti presentasi di hadapan para juri yang nantinya akan ditentukan pemenangnya. Untuk cabang media ada 39 mahasiswa dari 34 universitas negeri dan swata seluruh Indonesia.
Suatu peraihan yang luar biasa dapat membawa pulang Medali Emas pada Olimpiade Nasional Bimbingan dan Konseling 2016. “Pada event-event ke depan, semoga para mahasiswa lebih kreatif dan peka terhadap fenomena-fenomena yang terjadi, sehingga kita dapat menyumbangkan dan menerapkan kompetensinya dan hati nurani kita dalam mendidik para remaja menjadi lebih baik.” ungkap Cristian Ade Prasetia. (cp)




