Ada banyak kejanggalan di seputar kasus pembunuhan Munir, seorang aktivis hak-hak asasi manusia yang tewas dalam pesawat Garuda dari Singapura menuju Amsterdam tanggal 7 September 2004 silam. Kehadiran pilot Garuda bernama Pollycarpus Budihari Priyanto di antara para penumpang, misalnya. Polly (panggilan akrab Pollycarpus) menawarkan Munir untuk duduk di kursi kelas bisnis untuk Munir yang seharusnya duduk di kursi kelas ekonomi, padahal belum terlalu kenal. Selain itu, menjelang tanggal keberangkatan Munir, Polly menelpon istri Munir yang bernama Suciwati secara pura-pura bersahabat untuk menanyakan kepastian keberangkatan Munir. Juga surat dengan keterangan waktu yang mencurigakan untuk Polly yang dibuat oleh manajemen Garuda dalam rangka menugaskan Polly sebagai corporate security di penerbangan yang ditumpangi Munir. Demikian pula pengiriman bangkai ayam kepada Suciwati, yang disertai kata-kata ancaman setelah tewasnya sang suami. Kejanggalan tersebut, berikut kejanggalan-kejanggalan lain, semuanya mengarah pada kecurigaan bahwa Munir telah dibunuh secara terencana dan profesional, tetapi hingga sekarang pelaku utamanya masih bebas menikmati impunitas.
Demikian beberapa lontaran gagasan dan komentar yang muncul saat acara diskusi terbatas dalam rangka memperingati 12 tahun dibunuhnya aktivis HAM nasional Munir yang diselenggarakan oleh PUSDEMA (Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia) pada tanggal 9 September 2016 yang lalu. Hadir sebagai pembicara dalam dikusi dengan tema “Melawan Lupa, Kenangan Bersama Munir” itu Dr. Budi Irawanto dari FISIP Universitas Gadjah Mada dan Hamzal Wahyuddin SH, Direktur LBH Yogyakarta. Meskipun semula diskusi hanya disiapkan untuk menampung belasan peserta saja, dalam prakteknya jumlah peserta melonjak hingga memenuhi hampir semua kursi yang tersedia di Ruang Seminar LPPM Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Selain sejumlah dosen USD dan non-USD, hadir pula sejumlah mahasiswa, aktivis HAM dan para penyintas pelanggaran HAM masa lalu.
Diskusi diawali dengan pemutaran film dokumenter yang sangat menarik berjudul Garuda’s Deadly Upgrade. Film tersebut merupakan buah kerjasama antara Program Dateline (SBS TV Australia) yang dipimpin oleh David O’Shea dengan Offstream Prodiction yang dipimpin oleh Lexy Rambadeta, seorang alumnus Kolese De Britto, Yogyakarta. Film ini berkisah tetang perjalanan Munir sejak menjelang kebarangkatannya ke Belanda untuk melanjutkan studi di Universitas Utrech hingga ke kematian Munir di pesawat, serta upaya untuk menemukan siapa sebenarnya pelaku utama di balik pembunuhan Munir. Perlu diketahui, hingga hari ini pelaku utama dari peristiwa brutal itu belum diungkap secara resmi.
Budi Irawanto mengatakan bahwa perjuangan untuk mengungkap pelaku utama dari pembunuhan Munir itu akan merupakan perjuangan panjang. Meskipun demikian kita tidak boleh menyerah. Ditekankan pula bahwa pengenangan atas Munir itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengkultuskannya, melainkan untuk mencegah supaya jangan terjadi impunitas serupa.
Sementara itu Didit, panggilan akrab Hamzal Wahyuddin, mengatakan tidak terungkapnya siapa pembunuh sebenarnya atas Munir itu terjadi karena tiadanya political will dari pimpinan negara untuk mengungkapnya. Ia berharap bahwa presiden Jokowi akan memiliki political will itu, karena pengungkapan kebenaran atas pelanggaran HAM merupakan bagian dari janji Nawacita yang pernah diagendakannya. (rmb)




