USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Belajar Berpikir Alternatif lewat Balibo Five

diupdate: 17 tahun yang lalu

Jika memang ada ‘seribu jalan ke Roma’, maka sesungguhnya kita telah memulai dasar pemikiran alternatif. ‘Seribu jalan ke Roma’ dapat diartikan bahwa dalam menghadapi dinamika kehidupan, ada begitu banyak cara dan pendekatan yang bisa dilakukan. Namun, permasalahannya adalah terkadang saat kita menemukan suatu jalan yang aman, kita enggan mencoba jalan yang lain walaupun berujung pada tujuan yang sama. Hal itulah yang ingin disampaikan oleh PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) dan Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dalam acara Nonton Bareng dan Diskusi Balibo Five yang berlangsung pada hari Jumat 19 Februari 2010, bertempat di Ruang Palma, Kompleks Pascasarjana, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. “Apa yang terjadi di Timor Timur pada waktu itu adalah sebuah tragedi kemanusiaan dan seharusnya tidak dilupakan. Itu dapat menjadi bekal masa kini dan masa depan.” Ujar Dr. F.X. Baskara Tulus Wardaya, Direktur PUSdEP sekaligus salah satu dosen Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma dalam sambutan pembukaan acara tersebut. Lebih lanjut, Romo Bas, begitu ia akrab disapa, ingin menggarisbawahi bahwa diadakannya acara nonton bareng dan diskusi Balibo Five, yang disutradari oleh Robert Connolly, itu bukan untuk memilih berpihak kepada siapa tetapi bertujuan untuk mengajak kita belajar berpikir alternatif. Dalam pembelajaran sejarah, berpikir alternatif penting karena kita dapat membuka banyak perspektif dan narasi yang akan memperkaya kepingan-kepingan sejarah menjadi sebuah kerangka 3 dimensi yang lebih utuh, dan kita bebas melihatnya dari berbagai macam sudut pandang. Acara tersebut disambut antusias dan dihadiri tidak hanya oleh para mahasiswa Ilmu Sejarah, S2 IRB (Ilmu Religi dan Budaya) USD, tetapi juga para mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi lain di Yogyakarta. Yang lebih menarik adalah kehadiran seorang narasumber yang menjadi saksi hidup peristiwa yang terjadi pada tahun 1975 itu, yaitu Maleve Guerra, salah satu coordinator penyediaan basis di Timor Leste. Ia hadir untuk bercerita tentang tragedi yang berujung dengan tewasnya enam jurnalis Australia di Timor Timur pada saat itu. Antusiasme yang besar tersebut muncul karena film yang berdurasi 1 jam 46 menit itu terkena larang tayang oleh pemerintah Indonesia melalui Badan Sensor Film Indonesia. (Bunga)

  kembali