USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Refleksi Kemerdekaan dan Kebhinekaan

diupdate: 10 tahun yang lalu


Pada suatu hari, saat kuliah di kota Aachen, Jerman, B.J. Habibie menyempatkan diri untuk masuk ke Gereja Katedral Aachen dan berdoa di sana. Tak lama kemudian masuklah YB Mangunwijaya yang juga berasal dari Indonesia dan juga sedang menempuh studi di kota yang sama. Keduanya bertemu dan bagi keduanya pertemuan itu merupakan pertemuan yang penuh makna. Sejak itu mereka menjadi sahabat dekat. Tak mengherankan, ketika pada tahun 1999 Romo Mangun (panggilan akrab YB Mangunwijaya) wafat dan disemayamkan di Gereja Katedral Jakarta, Habibie yang saat itu sedang menjabat sebagai Presiden datang melayat. Tak hanya itu, Habibie bahkan menyediakan pesawat Hercules untuk menerbangkan jenazah Romo Mangun ke Yogyakarta.
Sepenggal kisah yang sangat simbolik itu dituturkan oleh Romo Prof Dr. F.X. Mudji Sutrisno S.J. untuk menggambarkan bagaimana semboyan “bhineka tunggal ika” menjadi nyata dalam praktek sehari-hari di Indonesia. Meskipun Habibie dan Romo Mangun berbeda dalam banyak hal, khususnya dalam hal suku dan agama, keduanya bisa bersahabat secara dekat, bahkan bersahabat hingga akhir hayat. Persahabatan seperti itu hendaknya menjadi inspirasi bagi persahabatan-persahabatan lain yang lebih luas di negeri ini, mengingat bahwa Indonesia adalah sebuah negeri yang majemuk baik secara etnis, bahasa, agama, maupun geografis. Sebagaimana bentangan laut di Nusantara tidak memisahkan melainkan menghubungkan ribuan pulau-pulau yang ada, hendaknya kemajemukan bukan menjadi pemisah melainkan perekat kita sebagai bangsa yang merdeka.
Romo Mudji (panggilan akrab Prof Dr. F.X. Mudji Sutrisno S.J.) menyampaikan gagasan-gagasan tersebut dalam acara Pidato Kebangsaan yang diselenggarakan oleh PUSDEMA (Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia) Universitas Sanata Dharma pada tanggal 19 Agustus 2016 lalu di Taman Beringin Soekarno, di Kampus 2 USD. Tema yang dipilih adalah “Refleksi Kemerdekaan dan Nilai-nilai Kebhinekaan”.  Selanjutnya Romo Mudji mengatakan, guna memaknai kemerdekaan hendaknya kita semakin rela untuk menyumbangkan yang terbaik dari keJawaan, KeBatakan, KeFloresan, atau keSundaan kita bagi Indonesia. “Asam boleh saja berasal dari gunung dan garam dari laut,” ucap Romo Mudji, “tetapi keduanya harus bisa bertemu di belanga, yakni belanga Indonesia tempat segala unsur dimasak menjadi masakan yang terbaik untuk kita semua.”
Dalam sambutan pembukaannya J. Eka Priyatma, MSc.,PhD selaku Rektor USD menekankan pentingnya memajukan bidang pendidikan untuk memaknai kemerdekaan. Menurutnya, berbeda dengan pendidikan pada masa pra-kemerdekaan, pendidikan sekarang ini belum berhasil meningkatkan kemandirian dan harkat kita sebagai bangsa di antara bangsa-bangsa lain. Penyebabnya antara lain adalah kurang memadainya visi pendidikan di Indonesia, yang di matanya masih terlalu umum, kurang inspiratif dan kurang fokus.
Hadir dalam acara tahunan PUSDEMA itu para dosen dan mahasiswa USD serta perguruan-perguruan tinggi lain, pegiat HAM, survivor Tragedi 1965, serta warga masyarakat pada umumnya. Acara yang diselenggarakan dalam rangka peringatan proklamasi kemerdekaan RI yang ke-71 tersebut dimeriahkan oleh pementasan seni yang menampilkan kelompok Pakat Dayak, band Benang Merah dari Surakarta, dan paguyuban Angklung Badran. (rmb)

  kembali