USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Albertus Ivan Brilian Wakili Indonesia Borong 2 Kejuaraan Dunia di 62nd IPSF World Congress 2016 di Harare, Zimbabwe

diupdate: 10 tahun yang lalu


Albertus Ivan Brilian adalah mahasiswa program studi Farmasi semester 6 Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang mewakili Indonesia dalam ajang International Pharmaceutical Students’ Federation (IPSF) World Congress 2016 ke-62 yang diadakan di Harare, Zimbabwe. Kegiatan farmasi tingkat internasional yang diadakan pada tanggal 29 Juli hingga 8 Agustus 2016 ini dihadiri oleh mahasiswa dari seluruh dunia dan bertujuan sebagai wadah pertukaran pengetahuan farmasi dan budaya serta mengasah kemampuan mahasiswa melalui kompetisi kefarmasian. Kegiatan yang diadakan oleh IPSF dalam kongres dunia ini antara lain simposium, berbagai macam workshop, kampanye kesehatan, kunjungan farmasi rumah sakit dan industri serta kompetisi seperti patient counseling event, poster competition, clinical skill event, dan compounding event.
Mahasiswa yang akrab dipanggil Ivan ini mengikuti dua macam kompetisi yakni Educational Poster Competition dan Patient Counseling Event. Proses kompetisi poster edukasi dimulai dari seleksi abstrak poster, pengumuman finalis, dan presentasi di depan para juri. Abstrak poster berjudul “Self-learning Herb Cabinet for Blind Children” dengan dosen pembimbing Dr. Rita Suhadi, M.Si., Apt. berhasil lolos menjadi finalis yang berjumlah 9 peserta yang berasal dari negara yang berbeda yakni Argentina, Perancis, Polandia, Indonesia, dan India. Setiap finalis melakukan presentasi maksimal 5 menit di depan juri dan dilanjutkan dengan tanya jawab. Juri yang menilai poster edukasi merupakan juri-juri pakar pengembangan profesi dan edukasi farmasi yakni Professor Ralp J. Altiere (USA) dan Michael J. Rouse B.Pharm, MPS (USA). Poster yang dipresentasikan oleh Ivan adalah kegiatan edukasi tanaman obat dan jamu kepada anak-anak penyandang tunanetra yang menggunakan metode khusus yakni megatron (lemari toga elektronik) yang dapat digunakan secara mandiri oleh anak tunanetra dalam mengenal dan membedakan tanaman obat. Tidak hanya dapat mengenal dan membedakan, anak-anak tunanetra dalam program ini juga dapat menanam tanaman obat dan membuat jamu secara mandiri untuk dapat menjaga daya tahan tubuh mereka. Poster kegiatan dari program kreativitas mahasiswa yang lolos didanai DIKTI ini berhasil mendapatkan Juara I Poster Edukasi yang diikuti dengan Perancis dan Argentina sebagai Juara II dan III.
Patient Counseling Event (PCE) merupakan kompetisi konseling yang mengutamakan kemampuan komunakasi dan penyelesaian masalah dalam memilihkan terapi yang sesuai dengan kondisi pasien. PCE dibagi menjadi 2 tingkat yang berbeda yakni beginner untuk mahasiswa S1 dan advanced untuk apoteker/farmasis. Pada PCE beginner, Ivan harus bersaing dengan 24 mahasiswa dari berbagai negara di dunia seperti Amerika Serikat, Inggris, Slovakia, Zimbabwe, Jerman, Korea Selatan, Singapura, dsb. PCE dibagi menjadi dua tahap yaitu penyisihan dan final, tiap tahapnya peserta akan mendapat kasus untuk diselesaikan dan melakukan konseling kepada pasien dengan waktu maksimal 8 menit. Pada tahap penyisihan peserta harus menyelesaikan kasus infeksi saluran kemih dan terpilih 3 finalis yakni Albertus Ivan Brilian (INA USD), Hana Ghina Chairunnisa (INA UI), dan Fardowsa Ibrahim (Swedia). Pada babak final seluruh peserta world congress dapat menyaksikan konseling dari tiap finalis dalam memberikan obat dan menyelesaikan kasus infeksi jamur daerah kewanitaan. Menurut Ivan, kasus pada babak final merupakan kasus yang sulit karena obat yang diberikan menggunakan aplikator dan ini merupakan kasus yang sensitif untuk dibahas. Akan tetapi melalui kerjakeras dan latihan serta bimbingan dosen Dita Maria Virginia, M.Sc., Apt. dan Ipang Djunarko, M.Sc., Apt., Albertus Ivan Brilian berhasil menjadi Juara I Patient Counseling Event tingkat Beginner yang menjadikan kebanggaan Indonesia untuk dapat memenangkan 2 kejuaraan tingkat dunia.
Keberhasilan ini tidak dapat dicapai tanpa bantuan dari Universitas Sanata Dharma, Pos Kesehatan St. Antonius Kotabaru, Yayasan Persaudaraan Masyarakat Jogjakarta dan Yayasan Tunanetra Yaketunis tempat Albertus Ivan Brilian belajar melayani sekaligus konseling, berdinamika dengan tenaga kesehatan lain di masyarakat kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. (IB)

  kembali