USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Puncak Inagurasi Inisiasi Sanata Dharma 2016

diupdate: 10 tahun yang lalu


Malam Inagurasi Inisiasi Sanata Dharma 2016 dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 13 Agustus 2016. Malam ini menjadi puncak dari rangkaian Inisiasi yang telah dilaksanakan sejak sepekan yang lalu. Acara ini diikuti oleh 2.200 mahasiswa baru Universitas Sanata Dharma. Tahun ini menjadi istimewa, karena untuk pertama kalinya, sebagian besar pelaksanaan Insadha dilakukan di auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma, setelah beberapa tahun Insadha sebagian besar menggunakan Kampus III Paingan sebagai tempat pelaksanaan. Hal ini mengundang rasa penasaran mengenai alasan “dipindahnya” tempat pelaksanaan Insadha ini.
“Ide untuk penyelenggaraan Insadha di Auditorium sudah tercetus sebelum kepanitiaan terbentuk, dan telah disosialisasikan sebelumnya. Sebenarnya Paingan yang selama ini menjadi tempat penyelenggaraan Insadha itu merupakan tempat “darurat”. Pada tahun-tahun pertama pelaksanaan Insadha, acara ini diselenggarakan di Aula (Kampus 2 USD) karena peserta kala itu hanya berjumlah sekitar 900 orang. Seiring waktu, jumlah peserta Insadha terus bertambah sehingga  aula menjadi tidak muat, karena saat itu kampus kita tidak memiliki ruang tertutup untuk menampung sejumlah besar peserta, maka digunakanlah Paingan. Kemudian setelah kita memiliki Auditorium, salah satu cara kita menghormati martabat mahasiswa baru adalah dengan menempatkan mereka di tempat yang lebih manusiawi. Awalnya tidak gampang mensosialisasikan hal ini karena panitia memandang bahwa sudah menjadi sebuah keharusan untuk menyelenggarakan Insadha di Paingan, tetapi tentu kita perlu menantang diri kita untuk melaksanakan hal baru ini” ujar Romo Patrisius Mutiara Andalas, SJ selaku Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan.
Beliau menambahkan beberapa hal berkenaan dengan Insadha tahun ini, ditinjau dari nilai-nilai yang dijunjung atau inovasi yang telah dilakukan. Hal berkelanjutan yang dipertahankan hingga tahun ini adalah “Spirit Antikorupsi”. Kita mau bahwa ruang antikorupsi tidak hanya di KPK, tetapi juga di perguruan tinggi. Perguruan tinggi dianggap oleh KPK sebagai ruang yang masih steril dari korupsi. Maka kita ingin mengembalikan lagi kampus sebagai ruang yang bersih ketika mahasiswa berkegiatan. Saya kira, hal yang kita pandang mulai berhasil baik adalah, kita menempatkan kembali ceramah dan diskusi sebagai bagian utama dalam inisiasi. Caranya adalah dengan memastikan bahwa setiap tahun kita mengundang narasumber-narasumber yang istimewa. Hal ini senada dengan penuturan Panut (mahasiswa program studi Manajemen) yang menjadi Ketua Umum Insadha 2016. “Insadha tahun ini mengusung tema Express yourself, express your leadership, be on fire di mana lewat tema ini, para peserta Insadha diajak untuk lebih dapat mengekspresikan diri mereka, bersama-sama berdinamika untuk belajar menjadi seorang pemimpin, dan terus bersemangat dalam mencapai tujuan tersebut.
Di malam Inagurasi Insadha, para mahasiswa baru mengekpresikan kebahagian karena inilah puncak dari proses pengenalan akan dunia baru mereka. Setiap kelompok telah menunjukkan kreativitas mereka, dan terpilihlah beberapa kelompok untuk maju ke panggung dan menunjukkan karya mereka di hadapan seluruh peserta dan panitia. Merekapun bernyanyi dan menari riang di atas panggung inagurasi. Setelah para peserta menampilkan kebolehannya, tibalah pada acara yang “sacral” di mana setiap peserta mengenakan jas almamater dan memegang sebuah lilin. Divisi Ceramah Diskusi mengajak mereka untuk mengingat kembali bagaimana perjuangan para peserta hingga dapat bergabung di Universitas Sanata Dharma, bagaimana keluarga mereka telah mendukung dan mendoakan usaha mereka di sini, dan akhirnya pada upacara cahaya ini, para peserta Insadha dikukuhkan menjadi mahasiswa baru Universitas Sanata Dharma.
Peserta Insadha merasa  bahwa acara ini telah berjalan dengan baik dan sukses. Pemikiran akan "ospek" yang berbau perpeloncoanpun terhapuskan dengan kemeriahan dari rangkaian Insadha dari hari pertama hingga akhir inagurasi ini. "Saya merasa senang sekaligus bangga menjadi bagian dari mahasiswa Universitas Sanata Dharma, terimakasih kepada panitia yang sudah bekerja keras dan berjuang tanpa kenal lelah dari awal hingga akhir Insadha ini berlangsung." Ungkap Levi mahasiswa baru dari jurusan Psikologi. Hal yang senada di ungkapkan oleh Tata Mahasiswa baru Sastra Inggris. Ia sangat bersyukur karena dapat mengenal banyak teman-teman baru terkhusus di kelompoknya.
"Dalam Insadha ini merupakan pemberlajaran yang sangat besar bagi saya, saya belajar mengekspresikan diri saya dan saya belajar bagaimana seharusnya kita menjadi seorang pemimpin yang baik." kata Magnus yang merupakan Ketua dari kelompok 14 yang berasal dari jurusan Teknik Informatika. Ia juga menjelaskan untuk mencapai sesuatu tidak ada yang instan. Ia menganalogikan bahwa mie instan sekalipun, sebelum dapat dinikmati terlebih dahulu harus dimasak.
Sambil menikmati jalannya malam inagurasi, ketiganya memiliki harapan untuk Insadha selanjutnya dapat terselenggara lebih baik lagi, lebih sukses dan materi materinya dapat lebih membangkitkan semangat mahasiswa baru. Mereka juga memiliki kerinduan untuk menjadi bagian dari kepanitiaan  inisiasi ini.
Beberapa opini  dan saran disampaikan oleh Romo Andalas dan Bruder Sarju atas penyelenggaraan Insadha 2016 ini. “Dari tahun ke tahun, yang kita belum banyak berhasil yaitu kepanitiaan yang masih “gendut”. Sebenarnya kita berharap bahwa kepanitiaan tahun ini lebih ramping, karena dilaksanakan di ruang tertutup, tetapi panitia tahun ini merasa bahwa mereka tetap memerlukan jumlah personil yang sama.  “Less is more” perlu dipegang setiap kali kita menyelenggarakan acara, bagaimana bahwa dengan less panitia, less dana, suatu acara tetap bisa berjalan tanpa mengurangi kualitas. Ketika dana tidak bertambah secara signifikan berarti kita harus membuat pilihan kegiatan, tidak menjalankan semuanya. Divisi-divisi lebih bijak untuk melihat divisi mana yang membutuhkan dana, dan divisi lain memiliki kerelaan untuk berbagi,” ungkap romo Andalas.
“Kepanitiaan seperti Insadha adalah sekolah kepemimpinan. Ketika ratusan mahasiswa menjadi panitia, entah apapun posisinya, kita ingin bahwa setelah Insadha mereka lahir sebagai pemimpin baru. Ini adalah harapan yang paling tinggi dalam kepanitiaan bagi saya. Sebuah kepanitiaan tidak otomatis melahirkan pemimpin, maka kita sangat berharap bahwa mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini, untuk melahirkan dirinya, sekurang-kurangnya untuk menjadi pemimpin bagi diri sendiri, dan harapannya bisa menjadi pemimpin bagi orang lain.” tambah Romo Andalas.
“Dalam hal ini saya melihat dari kepemimpinan yang kita hadirkan, yang diharapkan tentunya adalah kepemimpinan yang  non militaristic (tanpa kekerasan), yang juga mencakup sistem verbal. Kita perlu meninjau lagi sistem yang kita gunakan, mengingat bahwa kekerasan akan kontra product. Kita tentu ingin menunjukkan bagaimana situasi atau tantangan yang akan dihadapi ketika berkuliah di sini, namun jika cara kita menimbulkan luka atau ketidaknyamanan, tujuan yang ingin kita capai menjadi tidak maksimal (kontra product). Hal kedua yang mungkin perlu diangkat adalah kesempatan untuk pentas. Pentas besar seperti ini merupakan kesempatan bagus bagi UKM-UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa).” ungkap bruder Sarju (EEN/YAF).

  kembali