Hari Sabtu 6 Agustus 2016, Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma (PSL USD) kedatangan rombongan tamu dari Kepulauan Raja Ampat. Rombongan terdiri atas perwakilan BBKSDA, masyarakat kampong Wawiyai dan perwakilan dari FFI-YNP. Selama satu hari mereka akan belajar mengenai proses handling burung paruh bengkok dan upaya pengembangbiakannya. Kegiatan di PSL USD merupakan bagian dari keseluruhan acara yang berlangsung dari tanggal 4-8 Agustus 2016.
Mengapa rombongan dari Kepulauan Raja Ampat perlu mempelajari burung paruh bengkok? Salah satu pulau terbesar di Raja Ampat yakni Waigeo dengan luasan ±2,725 km telah diidentifikasikan sebagai ‘Endemic Bird Area’. Meski dengan kondisi habitat yang masih terhitung sangat sehat dan baik namun tidak semua ragam hayatinya dalam kondisi aman. Pusat pemerintahan kota yang terletak di pantai selatan Waigeo dan perkembangannya yang sangat pesat termasuk pembangunan jalan yang melingkari pulau dan jalan kecil ke dalam hutan menjadi ancaman bagi ekositem di daerah tersebut. Selain ancaman besar dari perubahan habitat akibat kegiatan pembangunan yang ada, kegiatan penangkapan dan perburuan satwa liar termasuk salah satunya adalah burung dari jenis paruh bengkok menjadi ancaman penurunan keanekaragaman hayati. Kurang lebih 500-an burung paruh bengkok telah ditangkap dari habitat aslinya dan diperdagangkan (FFI, 2015). Oleh karenanya salah satu upaya guna penambahan populasi dan penurunan tekanan ancaman adalah dengan penanganan (handling) burung paruh bengkok dengan lebih baik maka dilakukan upaya konservasi burung paruh bengkok. Kakatua Jambul Kuning (Cacatua galerita) dijadikan pilot project konservasi terhadap burung paruh bengkok di Papua Barat. Oleh BBKSDA Papua Barat jenis ini merupakan satu dari dua jenis burung yang menjadi kunci penambahan populasi selain burung Cendrawasih
PSL USD bekerja sama dengan Andini Birdfarm telah berhasil mengembangbiakan burung paruh bengkok. Pengembangbiakan ini merupakan bagian dari kegiatan konservasi ex-situ. Selain itu juga mengurangi perburuan paruh bengkok di habitat aslinya. Hal inilah yang menyebabkan teman-teman dari Kepulauan Raja Ampat memilih belajar di PSL USD untuk proses handling dan penangkaran. Kegiatan belajar bersama ini merupakan hasil kerjasama antara Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma, Flora Fauna International, dan Andini birdfarm. (GNS)




