“This is a fascinating country. I love this country!” Demikian antara lain diungkapkan oleh Dorris, salah seorang mahasiswa Tamkang University, Taiwan, yang mengikuti kegiatan Global Service Internship Program (GSIP) di Yogyakarta. Dorris mengatakan hal itu dalam acara presentasi hasil penelitian bersama kelompoknya di Ruang Palma, Kompleks Pasca Sarjana Universitas Sanata Dharma (USD) tanggal 20 Juli 2016. GSIP adalah sebuah program musim panas bagi para mahasiswa Tamkang University yang tertarik untuk belajar dari dan tentang sejarah serta budaya negara-negara lain, termasuk Indonesia. Selama dua tahun terakhir ini di Indonesia program tersebut dikelola oleh LSM Kotakhitam Forum dibantu oleh PUSDEMA (Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia), USD.
Dalam presentasinya itu kelima mahasiswa peserta program tersebut memutar film hasil karya mereka dengan juldul “Trio Musang”. Film dokumenter tersebut berkisah tentang tiga orang waria Yogyakarta dalam hidup keseharian mereka, khususnya dalam menjalankan praktek hidup sebagai seorang beragama, dalam hal ini agama Islam.
Masyarakat bisa saja bersikap diskriminatif terhadap kaum waria, tetapi kaum waria tidak mau menyerah begitu saja. Mereka tetap hidup sebagaimana warga masyarakat yang lain, termasuk dalam menjalani agamanya. Bahkan mereka juga tidak ingin mengubah tubuh mereka melalui operasi plastik atau yang lain. Tutur salah seorang waria yang hadir dalam presentasi itu: “Bagi saya tubuh saya adalah anugerah dari Tuhan. Kenapa saya harus mengubahnya?!”
Para mahasiswa Taiwan mengaku, sebelum datang ke Indonesia mereka sedikit sekali mengenal Indonesia. Itupun biasanya hanya lewat buku-buku. Akibatnya mereka kurang positif dalam memandang Indonesia, seperti misalnya menyamakan Indonesia dengan situasi chaos. Namun demikian setelah sampai ke Indonesia mereka mengalami perubahan persepsi. Salah satunya adalah bahwa meskipun di Indonesia ada banyak agama, masing-masing pemeluk agama bisa hidup berdampingan dengan relatif rukun dan tidak terus-menerus berkonflik. Hal ini terjadi, menurut mereka, karena orang-orang Indonesia juga disatukan oleh ikatan budaya.
Meskipun tak jarang ada hambatan bahasa, para mahasiwa Taiwan merasa senang bisa mengenal bangsa dan budaya Indonesia secara lebih dekat. Ada banyak hal yang mereka peroleh dari pertemuan langsung dengan orang-orang Indonesia. Hampir semuanya menyenangkan. Tak mengherankan jika muncul ungkapan di atas, “I love this country”.
Hadir dalam presentasi ini selain beberapa dosen dan mahasiswa USD juga para responden penelitian dan aktivis HAM. Hadir pula Profesor Pao Cheng-Hao, ketua program studi Global Politics and Economics Tamkang University, serta Profersor Leong Kar-Yen dosen dari Tamkang University yang selama ini bertindak sebagai supervisor program. Di akhir acara beberapa mahasiswa tampak menitikkan air mata. Sepertinya berat bagi mereka untuk berpisah dengan teman-teman mereka di Indonesia guna kembali ke Taiwan. (rmb)




