USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Jangan Sampai Terulang Kembali

diupdate: 10 tahun yang lalu


Kerusuhan anti-Tionghoa pada tahun 1998 maupun peristiwa-peristiwa kekerasan lain serupa telah menimbulkan trauma tersendiri bagi masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia. Tak terkecuali di Yogyakarta. Menyikapi hal itu sebagian warga masyarakat Tionghoa di Yogyakarta berupaya menyembuhkan trauma tersebut seraya bertekad mencegah agar peristiwa kekerasan seperti itu tak terjadi lagi. Salah satu caranya adalah berasimilasi dengan masyarakat setempat, khususnya masyarakat Jawa. “Supaya bisa survive (bertahan hidup) kita harus menjadi Jawa. Jika tidak, takutnya apa yang terjadi pada tahun 1998 itu akan terjadi lagi.  Kita tidak boleh membiarkan peristiwa itu terulang kembali.” ungkap salah seorang warga etnis Tionghoa di Yogyakarta.
Itulah salah satu temuan kecil yang diperoleh dalam penelitian singkat yang dilakukan oleh Joshua Mahuna, mahasiswa George Mason University, Washington DC, Amerika Serikat, baru-baru ini. Joshua menyampaikan hasil temuannya itu dalam seminar presentasi hasil-hasil penelitian para mahasiswa peserta summer program yang dikelola melalui kerjasama antara George Mason University (GMU)  dan Universitas Sanata Dharma (USD). Dari pihak GMU program ini dikoordinasi oleh Dr. Leslie Dwyer, sedang dari pihak USD penanganannya diserahkan kepada PUSDEMA (Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia).  Acara berlangsung di ruang seminar LPPM-USD pada tanggal 8 Juli 2016.
Selain Joshua, beberapa mahasiswa lain juga mempresentasikan hasil penelitian mereka. Salah satunya adalah Laura Mahan. Ia menemukan bahwa fasililitas umum di Yogyakarta belum terlalu “ramah” untuk para penyandang cacat atau orang-orang yang secara fisik berkebutuhan khusus. Padahal sarana-sarana yang mendukung diperlukan agar warga masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus bisa sepenuhnya terlibat (engage) dan berkontribusi dalam dinamika masyarakat pada umumnya. Laura mengingatkan, di Indonesia ada puluhan juta warga masyarakat yang memiliki keterbatasan sekaligus kebutuhan khusus seperti itu, dan terhadap jumlah yang sedemikain besar itu kita tidak bisa terus-menerus mengabaikannya.
Terkait dengan masalah toleransi beragama, Carter Barker menemukan bahwa pada satu sisi Yogyakarta memiliki predikat sebagai “city of tolerance”. Namun pada sisi lain Yogyakarta juga merupakan salah satu kota dengan tingkat kekerasan bernuansa agama yang tertinggi di Indonesia, khususnya pada tahun 2014. Salah satu penyebabnya adalah karena biasanya kelompok-kelompok yang anti-toleransi justru lebih aktif berkegiatan di ruang-ruang publik daripada kelompok-kelompok pro-toleransi. Oleh karena itu ia mengusulkan supaya kelompok-kelompok pro-toleransi lebih aktif dalam kegiatan publik mereka, sambil meningkatkan keterlibatan kaum perempuan. Charles Davidson, yang meneliti soal penganut Islam Sunni di Yogyakarta, menemukan bahwa dalam suatu komunitas keagamaan yang sama, di dalamnya juga terdapat dinamika dalam rangka pencarian identitas di mana terkadang terjadinya konflik internal tak terhindarkan. Sementara itu Karin Orr, yang fokus penelitiannya adalah kelompok waria, menemukan banyaknya tantangan yang harus dihadapi oleh kaum waria di Yogyakarta, termasuk tantangan di bidang status sosial, pendidikan, kesehatan, diskriminasi, kekerasan fisik, dan tingkat bunuh diri.
Hadir dalam forum akademik yang dikelola oleh PUSDEMA USD itu sejumlah peserta, baik dari dalam maupun dari luar USD. Di antara mereka hadir para responden penelitian, dosen dan mahasiswa USD, aktivis HAM, serta sejumlah siswa sekolah menengah tingkat atas (high school) dari AS yang sedang mengikuti program pertukaran siswa antara Indonesia dan AS tahun ini. (rmb)

  kembali