Sebuah pembukaan yang apik ditunjukkan oleh Komunitas Beringin Rimbun di acara tahunan Campus Ministry bernama Integrity Days 2016, Sabtu malam 25 Mei 2016. Suasana yang tenang dan dingin kemudian dihangatkan dengan perbincangan-perbincangan seru tentang pelbagai macam gerakan solidaritas di era informasi bersama Mohamad Syafi’ Alielha atau yang akrab dipanggil Savic Ali seorang penggiat situs website Nahdatul Ulama.
Mas Savic Ali sangat menyayangkan banyak munculnya media-media mengatasnamakan agama yang justru isi beritanya adalah sesuatu yang tidak ramah. Hal ini sangat berkontradiksi dengan citra Muslim di Indonesia yang cinta damai. Akan tetapi, muslim-muslim cinta damai ini nyatanya tidak banyak berbuat apa-apa di saat media-media tak ramah semakin kuat menyebarkan pengaruh-pengaruhnya. Berdasarkan kenyataan ini lah, Mas Savic Ali terinspirasi untuk membuat sebuah website guna menandingi media-media tidak ramah itu dan juga sekaligus menjadi wadah bagi muslim-muslim yang cinta damai untuk mencari referensi dan bertukar pendapat tentang banyak hal, “tidak hanya agree or disagree.” Maka lahirlah sebuah website bernama Islami.co.
Mas Savic Ali juga memberikan sedikit kritikan di tengah kencangnya laju informasi, dewasa ini. “Generasi sekarang itu terhubung secara virtual, tetapi tidak memiliki sebuah kedekatan yang kuat.” tuturnya. Maka demi membangun solidaritas di tengah-tengah jaman yang semakin cepat ini, pertemuan-pertemuan secara off line masih mempunyai pengaruh yang cukup besar. Salah satu di antaranya adalah menanggulangi efek buruk pengaruh media yang tidak ramah.
Seolah menambahkan cerita soal solidaritas yang coba dibangun Mas Savic Ali, Romo Dominicus Donny Widiyarso, Pr yang turut juga hadir di Integrity Days 2016: Solidaritas di Era Informasi, bertutur bahwa solidaritas itu bisa dibangun dengan cara-cara kreatif, seperti membuat komik, meme, ataupun membuat website seperti yang dilakukan Mas Savic Ali.
Romo Donny juga bercerita bahwa dirinya dulu juga pernah menginisiasi sebuah website bernama katolisitas.org. Namun, berbeda dengan Mas Savic Ali yang membuat website yang bertujuan untuk menghalau serangan media-media tidak ramah, Romo Donny membuat website itu agar umat katolik itu melek media. Website ini juga merupakan sebuah sentilan kepada hierarki Gereja Katolik, di mana semua hal harus menunggu Romo berkata. “Pokoknya harus nunggu Romonya ngomong dulu, padahal umat harus terus mencari.” jelasnya. Website yang beliau inisiasi ini juga merupakan sebuah gerakan yang mengajak para pemuda untuk berani melakukan sesuatu. “Jangan sampai sebagai orang muda, kita kurang gaul karena kurang kontak. Mari kita mencoba keluar dari dari jalur yang ada untuk mengenal dunia luar. Untuk dapat melakukan hal ini memang diperlukan integritas yang tinggi dan keberanian yang tinggi. Namun, kalau tidak dicoba kita tidak akan mendapat apa-apa. Gereja itu bukan romo atau paroki, Gereja yang benar-benar hidup adalah gereja yang berisi orang-orang muda.” tegas beliau.
Sebagai penutup, Romo Donny dan Mas Savic Ali berpesan bahwa apapun yang terjadi pertemuan tatap muka tetap perlu terjadi. Tanpa itu semua, permasalahan yang terjadi tidak akan pernah tuntas. Kita juga perlu belajar banyak agar pertemuan dan diskusi yang kita ikuti tidak menjadikan doktrin tersendiri bagi kita. “Pertemuan dan diskusi penting untuk membangun rasa kedekatan, ikatan di antara satu dengan lainnya sehingga mampu menciptakan sebuah gerakan solidaritas seperti yang berhasil ditunjukkan oleh Akademi Berbagi.” Mas Savic Ali menyontohkan. “Dunia digital terbuka dengan sangat luas. Silakan kita berpartisipasi mengekspresikan kebaikan yang bisa diberikan untuk siapapun. Be a part not as just a follower.” ucap Romo Donny. (C&L)




