USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Festival Teater Magalas PGSD USD

diupdate: 10 tahun yang lalu

Magalas adalah akronim dari mahasiswa angkatan dua ribu tiga belas. Magalas yang dimaksud adalah seluruh mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sanata Dharma angkatan 2013. Pada tanggal 30-31 Mei 2016 serta 1 Juni 2016, magalas PGSD mengadakan festival teater di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma. Festival teater yang diadakan selama tiga hari berturut-turut tersebut berlangsung setiap pukul 18.00 - 21.00 WIB.

Festival magalas diselenggarakan dalam rangka memenuhi ujian akhir (UAS) mata kuliah Pendidikan Seni Drama. Mahasiswa PGSD angkatan 2013 dibagi menjadi 5 kelas, yakni kelas A, B, C, D, dan E. Setiap kelas mempersembahkan satu teater dengan tema besar Pluralisme. Festival Teater Magalas turut diramaikan oleh Teater Sayana yang dimotori beberapa mahasiswa PGSD angkatan 2015. Setiap harinya, terdapat dua kelas atau dua teater yang dipertunjukkan dengan rata-rata penonton mencapai 750 orang.

Festival teater dibuka dengan sambutan dari Romo Dr. Patrisius Mutiara Andalas, S.J., S.S., S.T.D selaku Wakil Rektor III, Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan Ibu Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd selaku Kaprodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Dari sambutan yang disampaikan oleh beliau bertiga, terdapat isi sambutan yang senada, yakni sebagai pendidik sudah seharusnya mengapresiasi seni drama dengan memiliki pengalaman langsung bagaimana proses terjadinya seni drama, sehingga dapat memberikan pemahaman dan keterampilan yang tepat bagi para siswa.

Pada festival teater hari pertama, kelas A dan B dengan dosen pengampu Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M.Pd. mempertunjukkan dua buah teater. Teater 6A-yeng dari kelas A mempertunjukkan teater dengan judul Menjegal Batas Normal, sedangkan Teater Kelamb dari kelas B mempertunjukkan teater dengan judul Kalijodo Punya Cerita. Melalui empat orang gila, Teater 6A-yeng menyampaikan kritik mengenai kehidupan yang semakin "edan" tejadi di semua bidang, yakni pendidikan, politik, sosial, dan ekonomi dengan gamblang. Sementara itu, Kalijodo Punya Cerita  mengisahkan fakta  bahwa terlepas dari dunia  malam dan prostitusinya, Kalijodo  memiliki kehidupan yang sama dengan kampung-kampung di daerah lain. Di Kalijodo bahkan ada ketulusan cinta antar sepasang anak manusia yang berakhir tragis karena adanya perbedaan sosial, yakni pertentangan ketika seorang anak haji jatuh cinta dengan anak seorang pelacur.

Pada festival hari kedua, kelas C dan D magalas PGSD mendapat giliran untuk mempertunjukkan teater. Teater Hanacaraka dari kelas C dengan dosen pengampu Agustinus Sani, S.Sn., M.A. mengusung judul teater Senja. Teater tersebut mengisahkan keteguhan hati seorang ibu bahwa pria yang dinanti akan datang di kala senja dan sang anak yang selalu mempertanyakan siapa ayahnya. Sementara itu teater Lecak dari kelas D dengan dosen pengampu Tejo Sampurno, S.S., M.Sn. mempertunjukkan teater  berjudul Sila Pertama yang menyajikan isu-isu keagamaan dalam bentuk kisah cinta beda agama dan fenomena lookism atau keinginan diri untuk menjadi pusat perhatian.

Kelas E dengan dosen pengampu Leonardus Budi S, M.Pd. mempertunjukkan teater dengan judul Dilema Moral. Kelas E atau Teater Manguntiyoso tersebut mengisahkan seorang laki-laki yang mengalami dilema karena terbelit pergaulan bebas yang akhirnya merusak perkuliahannya. Suatu hari ia jatuh cinta dengan seorang gadis yang membuatnya berubah dan meninggalkan dunia kelamnya, namun dilema kembali muncul ketika gadis tersebut meninggal dunia. Teater Manguntiyoso merupakan kelas atau peserta terakhir UAS Pendidikan Seni Drama.

Festival Teater Magalas diakhiri dengan sambutan penutup dari Kaprodi PGSD dan dosen-dosen pengampu mata kuliah terkait. Dalam sambutannya, Kaprodi PGSD dan para dosen pengampu mengungkapkan rasa bangga atas kerja keras mahasiswa PGSD angkatan 2013 yang berhasil membuat pertunjukan teater sangat menghibur dan memiliki pesan mendalam. Pelaksanaan Festival Teater Magalas turut membuktikan kemampuan serba bisa yang dimiliki mahasiswa PGSD Universitas Sanata Dharma. Keterampilan komplit dalam bidang seni musik, tari, dan drama telah dikuasai mahasiswa PGSD sebagai calon pendidik yang kreatif dan transformatif.

Di akhir acara, Festival Teater Magalas ditutup dengan teater berjudul Jambanisme dari Teater Sayana yang mengisahkan hakikat jamban sebagai tempat kotor dan tidak terhormat, namun dapat memunculkan ide-ide, bahkan perbuatan jahat. "Sekali dayung, dua pulau terlampaui." Mahasiswa PGSD angkatan 2013 mengasah keterampilan bermain peran sekaligus menyerap bekal mengajarkan seni drama di jenjang pendidikan dasar. (YRK)

  kembali