Dalam rangka peluncuran buku berjudul “Pendidikan Boneka”, Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma menggelar sarasehan dengan tema Standardisasi Perguruan Tinggi. Acara ini diselenggarakan di ruang Palma gedung Pascasarjana USD pada 31 Mei 2016. Pembicara dalam acara ini adalah Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan FKIP USD, kemudian Bapak Tiberius Handono Eko Prabowo, M.B.A., Ph.D. selaku Kaprodi MM USD, dan Bapak Martinus Radityo Adi selaku Tim Penulis Jangkrik. Tim penulis tersebut menamakan dirinya Jangkrik dengan melihat filosofi binatang jangkrik, meskipun jangkrik itu kecil dan tersembunyi, jangkrik tetap dapat mengeluarkan suara yang nyaring, terus-menerus, dan konstan. Para penulis buku ini berharap meskipun saat bekerja mereka tidak tersorot, namun hasil kerja mereka dapat dinikmati para pembaca secara konstan dan kontan.
Acara dibuka dengan pembacaan puisi bertema pendidikan oleh MC. Setelah itu, Pak Rohandi memberikan materi yang pertama, yaitu “Arah Pendidikan Guru Masa Depan”. Dalam sesi ini, Pak Rohandi menerangkan bahwa para guru di masa kini dan masa depan harus benar-benar menyadari akan terjadinya pergeseran dalam menetapkan tujuan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud dalam hal ini adalah pendidikan yang bertujuan menyiapkan lulusan siap pakai. Pengertiannya harus digeser menuju lulusan yang mandiri, yang mampu berkolaborasi sebagai anggota masyarakat, mampu menalar, dan menggunakan teknologi informasi serta mampu memanfaatkan dan mengembangkan aneka sumber belajar. Sementara itu, untuk menjadi guru yang benar-benar berkualitas, para calon guru tidak hanya cukup lulus dari Lembaga Perguruan Tinggi Kependidikan (LPTK) langsung mengajar, tetapi juga perlu mengikuti PPG (Pendidikan Profesi Guru) terlebih dahulu. Selain itu, beliau menambahkan bahwa pengalaman dalam mengajar juga menjadi modal yang kuat dalam menjalani profesi sebagai guru. Lulusan FKIP yang diharapkan oleh pak Rohandi selaku Dekan FKIP USD adalah agar para alumni menjadi calon guru yang profesional dalam mendidik, yang bisa mengelola sikap, pikiran, dan perkataan yang dapat mengembangkan kreativitas dan kecintaan pada anak didik, serta memiliki kemurahan hati untuk melibatkan dirinya dalam masyarakat. Soal nantinya para lulusan FKIP tidak ingin menjadi guru itu hak masing-masing personal.
Pembicara kedua, yaitu Bapak Tiberius Handono menerangkan materi dalam Bahasa Inggris yang berisi tentang Pendidikan Tinggi di Era Globalisasi. Beliau mengaitkan masalah ini dengan ASEAN Economic Community (AEC) atau yang lebih kita kenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Menurutnya, Indonesia harus melakukan Kaizen atau perbaikan yang berkesinambungan terhadap kebijakan pendidikan dengan tekanan. Hal ini bertujuan untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih inovatif, dinamis, dan fleksibel terhadap pegaruh global. Kita seharusnya tidak terjebak dalam sikap-sikap ekstrem, mendukung tanpa reserve, atau menolaknya mentah-mentah. Namun, lebih bersikap kritis dan kreatif dengan melakukan penelaahan terhadap setiap sisi dari globalisasi. Di Era Globalisai, semakin banyaknya domain kompetisi yang ditentukan oleh Internasional, semakin banyak dibutuhkan peran pemerintah supaya melindungi dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyatnya. Pemerintah juga diharapkan lebih kritis dalam memutuskan terkait “Binding Agreements”.
Pembicara ketiga, yaitu Bapak Martinus Radityo Adi menjelaskan sedikit ulasan tentang buku berjudul Pendidikan Boneka. Buku ini terlahir dari kumpulan paper para mahasiswa program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma dalam mata kuliah Kajian Universitas. Tulisan-tulisan dalam paper ini dimaknai sebagai pertemuan antara teori yang dipelajari dengan pengalaman masing-masing penulis ketika berada dalam suatu ekosistem pendidikan. Buku ini bercerita tentang kegelisahan para penulis ketika mereka sedang berada dalam suatu iklim pendidikan tertentu. Buku ini mengajak para pembaca untuk menggali kembali memori ketika mereka berada dalam suatu ekosistem pendidikan, baik itu saat menjadi peserta didik, staf pengajar, pemangku kebijakan, maupun orang tua murid. Harapannya supaya para pembaca mampu untuk menceritakan kembali pengalaman mereka dan memberi ruang bagi munculnya sudut pandang yang berbeda. Salah satu penulis dalam buku tersebut yang benama Padmo Adi mencoba menuangkan gagasannya tentang perubahan dinamika mahasiswa dari waktu ke waktu. Salah satunya adalah dengan terbitnya NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) pada tahun 1978 yang merupakan dampak dari aksi mahasiswa yang mengkritisi kebijakan ekonomi antara pemerintahan Soeharto dan Kekaisaran Jepang pada tahun 1974. (AR)




