Pedidikan sudah seharusnya menghasilkan manusia baru yang mampu merepresentasikan jati diri bangsa sekaligus mampu memproduksi pengetahuan, bukan sekedar mengadopsi nilai-nilai atau filsafat luar terutama fisafat barat. Demikian dikatakan Dr. Risa Permanadeli pembicara dari Pusat Kajian Representasi Sosial Jakarta dalam Seminar Dies Natalais Sanata Dharma ke-54 di Kampus II USD Mrican Sabtu (12/12). Risa menilai pendidikan di Indonesia masih menyisakan masalah karena keberadaannya bermula dari mitologi pendidikan yang sekedar mengisi birokrasi colonial sekaligus alat untuk memasuki kelompok elit priyayi yang diharapkan mampu menjadi golongan pembaharu. “Minder pada kekuatan asing dan mentalitas haus kekuasaan dari golongan elit menjadi dua hal mengapa pendidikan kita tidak mampu menghasilam ilmu pengetahuan”, tegas Risa. Pengetahuan sekedar menyambung konsep inferioritas bangsa dan para elitnya semakin dijauhkan dari tanahnya dan jatidirinya, sambung Risa. Dengan demikian sebenarnya pendidikan adalah pekerjaan kebudayaan yang mampu menggali nilai-nilai local bangsa bukan sekedar peniruan konsep dan nilai asing. Sementara itu Dr. Robertus Robet merasa prihatin akan perkembangan pendidikan di Indonesia. Dia menilai bahwa pendidikan di Indonesia berada pada persimpangan jalan antara rezim kapitalis dan rezim kesalehan. Politik pendidikan menjadi representasi superego yang tidak mampu menjawab siapa manusia Indonesia itu apalagi member pegangan siapakah jati diri bangsa ini. “Pendidikan sekedar mengakomodasi kapitalisme melalui rezim kesalehan”, tegasnya. Menyitir tujuan pendidikan dalam dalam Sisdiknas, alumni STF Driyarkara yang menjadi dosen di UJNJ dan UAJJ ini menilai bahwa rekonstruksi manusia yang mau dibentuk adalah manusia “kudus” bukan mencerdaskan kehidupan bangsa namun di sisi lain modus kapitalisme digunakan ebagai cara, seperti tercermin dalam UU BHP. Dalam situasi seperti ini Robet menyarankan agar kita berani berkonfrontasi dan mempertanyakan struktur simbolik sisi gelap dan terang pendidikan Indonesia, yaitu kapitalisme kontemporer dan rejim kesalehan. Sebagai bagian dari penggalian jatidiri bangsa melalui pendidikan bahasa Indonesia, Dr. Widharyanto, M.Pd. pembicara ketiga galam seminar ini mengungkapkan bahwa pendidikan bahasa Indonsia memiliki peran yang cukup strategis dalam konteks politik agar tidak terpinggirkan dalam ajang komunikasi dan negosiasi sosial. “Pendidikan bahasa Indonesia mampu membekali peserta didik dengan spirit loyalitas terhadap bahasa dan kebudayaan nasional serta tumbuhnya schemata cultural bangsa sebagai pijakan dalam membangun kebudayaan nasional”, tambah dosen PBSID USD ini. (Tti)




