Berdasarkan hasil survey antarsensus BPS 2005 memprediksi dari 22,8 juta penduduk rentang usia 5-14 tahun, 4,2 juta atau 10 persen di antaranya merupakan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Jumlah ini diperkirakan akan terus mengalami peningkatan yang tajam. Seiring dengan peningkatan jumlah ABK tersebut, jumlah sekolah inklusif di Indonesia pun semakin bertambah banyak. Guru BK serta para stakeholder (guru bidang studi, kepala sekolah, orang tua) secara tidak langsung ditantang untuk siap mendampingi para ABK yang masuk sekolah inklusi. Maka jika demikian yang menjadi pertanyaan adalah, sudahkah para guru BK di Indonesia memiliki pengetahuan dan skill memadai untuk mendampingi ABK yang masuk di sekolahnya? Atau sudahkah para guru bidang studi maupun kepala sekolah memahami hal-hal apa saja yang hendaknya dilakukan demi mendampingi ABK di sekolahnya, secara baik? Jika jawaban-jawaban yang seringkali dijumpai adalah belum memadai, maka pengetahuan dan skill seperti apakah yang hendaknya dimiliki para guru BK dan stakeholder di sekolah inklusif?
Untuk memenuhi kebutuhan akan terjawabnya pertanyaan-pertanyaan tersebut secara pengetahuan, Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma pada hari Senin, 23 Mei 2016 menyelenggarakan International Conference on School Counseling. Konferensi internasional ini diselenggarakan di ruang seminar Driyarkara, Kampus II USD Mrican. Konferensi internasional ini dihadiri oleh sekitar 300 orang peserta yang berasal dari berbagai macam daerah, mulai dari daerah Sumatera sampai Papua. Para peserta konferensi intersional ini merupakan para guru BK, guru khusus pendamping ABK, kepala sekolah, guru bidang studi, dosen dari Universitas lain, praktisi di dalam bidang pendampingan ABK, orang tua yang memiliki ABK, serta para mahasiswa/i S1 dan S2 baik dari USD maupun luar USD.
Para pembicara utama dalam konferensi internasional ini merupakan para ahli dalam bidang pendampingan ABK. Pembicara pertama adalah Dr. Dany M. Handarini, M.A. (Dosen Pascasarjana UNM). Pada sesinya beliau memaparkan tentang peran konselor sekolah dalam menangani siswa berkebutuhan khusus di sekolah inklusif. Beliau menekankan dalam sesinya bahwa hakikat pendidikan inklusif adalah proses memperkuat kapasitas pendidikan untuk menjangkau semua pembelajar; yang mana dalam proses ini pasti akan ditemui beragam jenis pembelajar dan cara belajarnya pun beragam. Tinggal yang menjadi soal adalah, sebagaimana siap konselor sekolah beserta para stakeholder dalam mendampingi para pembelajar yang beragam jenis ini.
Pembicara kedua adalah Prof. Marilyn Susman, Ph. D. Pada sesinya beliau memaparkan tentang apa yang konselor perlu ketahui: enam kondisi utama dan dasar dari supervise konselor. Prof. Marilyn menjelaskan betapa pentingnya kesadaran diri, empati, dan autentisitas dimiliki oleh seorang konselor sekolah. Kemudian pada akhir sesinya, beliau menggugah peserta dengan membahas dasar-dasar supervisi, mencakup tujuan, keuntungan-keuntungan, serta peran-peran yang ada dalam supervisi. Lalu sebagai penutup, beliau memberikan tips dam strategi yang dapat dilakukan secara konkret untuk dapat melakukan supervise praktikan konseling dengan baik.
Pembicara ketiga adalah Patricia H. A. Perez, M. Ed., Ph. D. Pada sesinya beliau banyak memaparkan tentang peranan lain yang dapat konselor berikan dalam pendampingan ABK, yaitu menjadi advokad bagi para orang tua dari ABK itu sendiri. Selain itu, beliau juga banyak membahas tentang pentingnya seorang konselor dalam menerima, menghargai, dan mencintai ABK terlebih dahulu; sebab ketiga hal tersebut merupakan kunci awal untuk dapat mengenal dan memberikan layanan yang terbaik kepada ABK. Pada sesi beliau, banyak muncul pertanyaan, sharing, dan diskusi mengenai kasus-kasus ABK dan tentang bagaimana menumbuhkan penerimaan serta cinta dalam diri seorang konselor maupun calon konselor, terhadap ABK.
Konferensi internasional ini ditutup dengan proceedings, dengan pemakalah-pemakalah merupakan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Konferensi internasional ini diharapkan dapat mendongkrak paradigma baru tentang pendidikan inklusif di sekolah-sekolah inklusif di Indonesia, bahwa pendidkan adalah bagi semua pembelajar dengan segala ragam cara belajar. Peran konselor sekolah yang berkolaborasi dengan stakeholder adalah, memfasilitasi dan mendampingi dengan penuh cinta dan penerimaan, semua pembelajar-khususnya yang dimaksud dalam konferensi ini adalah ABK. Upaya supervisi dalam intervensi dan pendampingan ABK di sekolah maupun di rumah pun dapat diberikan dalam rangka mengoptimalkan layanan kepada ABK. Demikianlah konferensi internasional yang luar biasa ini menjadi sajian hangat nan migunani sanget bagi sekalian khalayak pemerhati ABK, khususnya bagi para guru BK serta orang tua yang hadir dalam konferensi ini. (CV)




