Jamu merupakan obat tradisional asli Indonesia yang menggunakan herbal atau tanaman sebagai bahan utama dan turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Jamu yang merupakan warisan budaya bangsa Indonesia seharusnya dilestarikan dan dikenalkan ke berbagai kalangan tidak terkecuali bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik seperti tunanetra. Penyandang tunanetra sering dipandang sebelah mata dalam kehidupan sosial karena keterbatasan mereka dalam melihat. Hal tersebut yang menggerakkan hati lima mahasiswa Universitas Sanata Dharma yakni Ivan (Farmasi 2013), Hovi (Farmasi 2013), Mella (Farmasi 2014), Mesa (Psikologi 2013), dan Dirga (Teknik Elektro 2012) untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan siswa-siswi penyandang tunanetra khususnya di MTs Yaketunis (Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam) dalam mengenal, membedakan, menanam, dan mengolah tanaman obat bahan baku utama jamu.
Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM) yang didanai oleh Ristekdikti dan dibimbing oleh Eko Hari Parmadi, S.Si., M.Kom. ini menggunakan metode khusus dalam mengajari siswa-siswi penyandang tunanetra untuk belajar membedakan rimpang-rimpang jamu. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2016. Metode tersebut yakni Megatron (lemari toga elektronik), sebuah lemari berbasis mikrokontroler dan memiliki sistem sensor pada tiap lokernya. Megatron memiliki 6 loker dan 5 di antaranya tersimpan rimpang jamu dalam bentuk utuh (segar), simplisia basah, simplisia kering, dan serbuk. Rimpang yang digunakan dalam
pembelajaran adalah jahe, kencur, kunyit, temulawak, dan temu hitam. Depan masing-masing loker terdapat nama rimpang jamu dalam huruf braille dan ketika siswa tunanetra membuka lokernya maka lemari akan mengeluarkan bunyi tentang informasi nama, pemerian, dan khasiat rimpang jamu yang ada di loker tersebut. Setelah siswa tunanetra mampu membedakan rimpang-rimpang jamu, siswa diajarkan cara pembuatan simplisia, membungkus simplisia dan jamu godok, membuat jamu beras kencur dan kunir asem hingga menanam rimpang jamu.
Kegiatan PKMM yang diikuti oleh 14 siswa-siswi tunanetra dan lebih dari 6 relawan ini juga mengadakan perlombaan seperti lomba cerdas cermat rimpang jamu dan lomba membuat jamu kunir asem untuk meningkatkan daya saing siswa-siswi tunanetra serta mengadakan pameran untuk mengenalkan kegiatan PKMM ke lingkungan sekitar MTs. Nabil, siswa kelas VII sangat semangat dalam mengikuti setiap kegiatan Megatron dan selalu mengangkat tangannya jika ada quiz karena jika jawabannya benar maka mendapatkan reward dari tim Megatron. Ibu Dhani, guru Mts Yaketunis berpendapat bahwa kegiatan Megatron ini sangat bermanfaat.
Berdasarkan nilai pre-post test siswa-siswi tunanetra, terdapat peningkatan pengetahuan dari 4,4 menjadi 6,1 dan secara berurutan 7%, 14%, 79% siswa-siswi tunanetra dapat membedakan 3, 4, 5 jenis rimpang jamu. Tim PKMM Megatron mengharapkan dengan ada kegiatan ini siswa-siswi tunanetra dapat semakin mengenal rimpang-rimpang jamu, memiliki kemampuan dalam melestarikan jamu seperti membedakan, menanam, merawat, dan mengolah tanaman obat sebagai bahan baku jamu menjadi jamu serta tersedianya media berupa Megatron yang dapat digunakan sebagai sarana pelestarian jamu dan pembelajaran tanaman obat bagi siswa-siswi penyandang tunanetra. (AI)




