Pada awalnya Kajian Wilayah atau area studies bermula dari kepentingan imperialisme, khususnya imperialisme Eropa atas Asia. Selain itu, terutama pada periode setelah Perang Dunia Kedua, kepentingan geopolitik antikomunis di Asia dan Asia Tenggara mendorong Amerika Serikat untuk melakukan kajian dengan nama dan pendekatan serupa. Dalam kaitan dengan ini beberapa nama terkemukaseperti Max Milikan, Clifford Geertz, Dick Bissel, “Mafia Berkeley”, dan RAND Corporation memiliki peran penting tersendiri.
Selanjutnya Kajian Wilayah khususnya kajian atas wilayah Asia Tenggara juga berkembang di Jepang. Hal ini didorong oleh minat para ilmuwan sosial Jepang pada masalah-masalah pertanian dan sejarah politik. Dalam kasus studi para ilmuwan Jepang atas Indonesia, semula Kajian Wilayah merupakan bagian dari Oriental Studies yang kemudian bergeser menjadi bagian dari perlawanan terhadap pengaruh Belanda, dan yang selanjutnya berkembang menjadi sebuah tren akademik baru, sebagaimana yang antara lain dipepolori oleh Profesor Aiko Kurasawa.
Pada awal abad ke-21 pendekatan kajian wilayah mendapat tantangan besar. Tantangan itu muncul seiring dengan semakin terbukanya batas-batas negara serta semakin cepatnya pergerakan manusia, barang, dan gagasan di ranah global. Arjun Appadurai (1996), misalnya, menunjukkan tidak memadainya lagi pendekatan kewilayahan. Ia lantas memaparkan lebih relevannya pendekatan network beserta dinamikanya.
Demikian antara lain dikemukakan oleh Dr. Fadjar I. Thufail dari Pusat Penelitian Sumberdaya Regional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2SDR-LIPI), Jakarta, dalam Diskusi Terbatas PUSDEMA (Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia) Universitas Sanata Dharma tanggal 13 Mei 2016 yang lalu. Dalam forum tersebut Fadjar ingin mempersoalkan kembali relevansi konsep "wilayah" sebagaimana dipahami dalam pendekatan kajian yang bersifat konvensional tersebut. “Cepatnya pergerakan manusia, barang, dan gagasan sekarang ini membuat pendekatan ‘kajian wlayah’ menjadi kurang relevan,” tuturnya. Oleh karena itu ia lalu mengusulkan digunakannya konsep dan metodologi yang lain, yang menurutnya lebih cocok untuk meneliti realitas global yang kini bergerak dengan amat dinamis.
Konsep yang dimaksud adalah konsep "rhizome". Sebagaimana dikembangkan oleh Gilles Deleuze dan Félix Guattari dalam proyek Capitalism and Schizophrenia pada tahun 1970-an melalui konsep rhizome ini para ilmuwan sosial didorong untuk melakukan penelitian sosial yang memungkinkan representasi dan interpretasi data yang berciri majemuk dan non-hirarkis, sembari mencermati jejaring dan keterkaitan satu sama lain yang ada di bawah permukaan. Istilah “rhizome” sendiri diambil dari dunia biologi dan mengacu pada jenis tanaman yang memiliki jaringan akar yang sangat massif di bawah tanah, yang hanya secara sporadis saja memunculkan jenis tumbuhan tertentu di atas permukaan.
Konsep ini dipandang cocok sebagai alternatif sekaligus sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi keterbatasan konsep dan metodologi konvensional tentang suatu fenomena sosial. Selain itu, konsep rhizome ini juga dipandang perlu untuk membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam penelitian sosial, ekonomi, politik dan budaya sekarang ini.
Diskusi terbatas PUSDEMA ini dihadiri oleh sejumlah dosen, mahasiswa dan aktivis. Mereka datang baik dari Universitas Sanata Dharma sendiri maupun dari luar, termasuk Dr. Ari Subagyo dari Program Studi Sastra Indonesia USD dan Paul Kellner, mahasiswa dari AS yang kini belajar di Oxford University, Inggris. Dalam acara tanya jawab muncul berbagai pertanyaan dan tanggapan terkait penggunaan pendekatan rhizome ini untuk melihat munculnya kembali berbagai bentuk propaganda dan tindakan anti-komunis serta masalah Panama Papers akhir-akhir ini. Dikhawatirkan bahwa di bawah permukaan kegaduhan sosial-politik yang sekarang terjadi sebenarnya sedang berlangsung kelit-kelindan jaringan rhizome yang bersifat massif, yang tujuan utamanya adalah untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu, tetapi yang dari atas permukaan tidak terlihat oleh masyarakat.
Fadjar juga menyampaikan bahwa melalui bukunya yang terakhir tentang anarkisme itu sebenarnya Benedict Anderson ingin secara tak langsung mendorong supaya rhizome yang ada di bawah permukaan itu didesak terus saja supaya bisa muncul ke permukaan sehingga masyarakat umum akan mampu melihat dan menilainya. (rmb)




