“Perubahan terjadi sangat cepat, tidak dapat dihentikan. Tapi setidaknya kita bisa mencoba untuk membantu memahami perubahan yang sedang terjadi itu.” Itulah yang dipaparkan oleh Rm. Dr. Ir. Paulus Wiryotamtama, S.J. saat memberikan kuliah umum bertajuk “Memahami dan Memaknai Tanda- Tanda Jaman” pada hari Selasa, 10 November 2009 bertempat di Ruang Palma, Kompleks Pascasarjana, Kampus Mrican, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Proses memahami perubahan yang terjadi di sekitar kita dan di dunia ini sesungguhnya adalah bagian dari usaha untuk membaca apa yang disebut sebagai tanda- tanda jaman. Tanda- tanda tersebut mengisyaratkan ajakan untuk melakukan penyesuaian diri dengan dinamika penciptaan yang terus berkelanjutan dan tentunya berakhir dengan penyatuan kembali dengan sang Pencipta. Dalam kuliahnya, Romo Wir, begitu ia akrab disapa, menjelaskan bahwa inti dari ajakan untuk membaca, memahami, dan memaknai tanda-tanda jaman adalah membangun kesadaran manusia untuk bertransformasi lewat krisis. “ Krisis itu baik adanya karena lewat krisis itulah, kita bisa mengalami proses reformasi.” Demikian ujar Rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini. Kemudian, di dalam paparan dan gambarannya, beberapa contoh tanda- tanda jaman, seperti tanda- tanda jaman dalam tradisi “Judeo Kristen”, dalam teori Evolusi, dan juga dalam refleksi Ignasian. Selain itu, dijelaskan pula alasan yang mendasari perlunya mengenal tanda-tanda jaman. Dapat disimpulkan, secara garis besar, bahwa pencarian atas keselamatan universal, dorongan untuk melihat ke depan menuju transformasi kesadaran yang lebih tinggi, dan usaha menjalin kerjasama dan sinergi yang lebih dinamis dengan unsur- unsur kehidupan. Kemudian, kuliah umum yang dihadiri oleh para mahasiswa dan dosen Magister KBI (Kajian Bahasa Inggris) USD tersebut, pertanyaan besar muncul berkenaan dengan bagaimana cara kita mengenal tanda-tanda jaman. Ada tiga cara yang dapat diambil dalam membegal tanda- tanda jaman, yaitu mengambil sikap batin “mengiakan dunia”, mengenal aspirasi kemanusiaan pada jamannya dan ikut memupuk agar makin kuat, serta mengembangkan refleksi dan discernment (ketajaman) dalam menghadapi isu- isu dan peristiwa di sekitar kita. Dengan begitu, kita mampu menjadi manusia yang lebih berkesadaran dan berkontribusi dalam pengembangan dunia masa kini dan masa depan. (Bunga)




