Patut disyukuri saat memasuki bulan Mei 2016, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta melalui Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Karawitan mendapat kesempatan untuk terlibat dalam pengiringan Perayaan Ekaristi Pembukaan Bulan Maria 2016 di Gua “Maria Perantara Wahyu” Tritis, Singkil, Giring, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul pada Minggu (1/5). Perayaan ekaristi ini dihadiri oleh ribuan umat yang datang dari berbagai daerah. Oleh sebab itu, meskipun menggunakan gamelan, namun ekaristi dan lagu perayaan liturgi tetap menggunakan bahasa Indonesia. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Romo Gregorius Budi Subanar, S.J. dengan tema “Guyup Rukun Dalam Berbudaya - Golong Gilig”. Melalui tema ini umat diajak untuk sehati sebudi (dalam Budaya Jawa dikenal dengan golong gilig), untuk terlibat dalam karya keselamatan Tuhan, melalui setiap bidang kehidupan yang ditekuni. Para petani diajak untuk bertani dengan cara yang ramah lingkungan, para pembuat makanan dan kue diajak untuk menggunakan bahan-bahan yang aman bagi tubuh, para guru diajak untuk mendidik murid dengan menghidupi kepribadian murid yang utuh, para dokter diajak melayani pasien dengan hati nurani dan kelemah-lembutan, dan masih banyak bidang lain yang semuanya mengajak umat untuk bertindak demi karya keselamatan.
Sebelum perayaan ekaristi berlangsung terlebih dahulu diawali dengan doa Novena kepada Santa Perawan Maria Yang Dikandung Tanpa Noda Dosa. Novena kali ini merupakan novena yang ke sembilan dan merupakan akhir dari rangkaian doa Novena yang telah dilakukan mulai dari bulan September 2015 dan terus dilaksanakan setiap bulannya hingga bulan Mei 2016.
Alunan gending Nata Agung dan Sewaka Bakti dari UKM Seni Karawitan USD yang berkolaborasi dengan kelompok Shakuntala Voice mengantarkan umat untuk masuk dalam keheningan misteri penyelamatan Allah dalam perayaan ekaristi. Romo Gregorius Budi Subanar, S.J sebagai pemimpin ekaristi, dalam homilinya mengajak umat yang hadir untuk hidup “gayemi”. “Gayemi” adalah istilah bahasa jawa untuk memamah biak. Memakan, dikunyah, masuk usus, dikunyah lagi, sampai memperoleh sari pati makanan. Tapi mengunyah di sini berarti untuk hidup rohani. Mengulang-ulang doa adalah mengunyah. Mendengar sabda dan kitab suci, merenungkan, menimbang-nimbang untuk mendapat pesan, dan menjadi bekal hidup adalah mengunyah. Hidup menjadi punya arah, kekuatan, bimbingan, semangat, harapan. Hidup menjadi lebih berarti, dan bermanfaat.
Romo Gregorius Budi Subanar, S.J juga mengungkapkan istilah jawa “Cedhak Watu Adoh Ratu” (dekat dengan batu jauh dari raja). Ungkapan ini tepat untuk menggambarkan kondisi geografis di sekitar Gua “Maria Perantara Wahyu” Tritis yang berada di daerah pegunungan yang berbatu-batu dan jauh dari pusat pemerintahan (Keraton Yogyakarta). Namun umat tidak perlu merasa minder dan berkecil hati, sebab mereka justru memiliki kekayaan yang luar biasa. Ungkapan “Cedhak Watu Adoh Ratu” berganti menjadi “Cedhak Watu Cedhak Ratu” (dekat dengan batu dekat dengan ratu). Ratu yang dimaksud adalah Kanjeng Ibu Maria yang senantiasa mendoakan dan menjadi perantara permohonan dan doa-doa umat yang datang berziarah di Gua “Maria Perantara Wahyu” Tritis. Sehingga pengalaman hidup umat yang datang berziarah semakin diperkaya dengan pengalaman rohani yang boleh meraka alami di Gua “Maria Perantara Wahyu” Tritis.
Dalam sambutannya, pengelola Gua “Maria Perantara Wahyu” Tritis mengungkapkan ucapan terimakasih kepada seluruh umat yang telah terlibat dalam perayaan Ekaristi Pembukaan Bulan Maria 2016 dan Novena yang ke sembilan. Dengan demikian berakhir sudah rangkaian doa Novena periode 5 yang telah dimulai dari bulan September 2015. Pada kesempatan itu juga dilakukan simbolisasi penyerahan tugas dan tanggung jawab dari wilayah 3 dan 4 kepada wilayah 1 dan 2 yang bertugas untuk Pembukaan Novena tahun 2016 periode 6 yang akan diadakan pada bulan september yang akan datang dengan harapan semakin banyak umat yang datang untuk berziarah. Tidak hanya dari pulau jawa saja melainkan dari luar pulau jawa juga agar dapat turut merasakan pengalaman hidup “Cedhak Watu Cedhak Ratu” (dekat dengan batu dekat dengan ratu) dengan demikian pengalaman rohani peziarah semakin diperkaya. (LH)




