USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Dies Natalis Fakultas Sastra: Anak-Anak Sebagai Tumpuan Masa Depan

diupdate: 11 tahun yang lalu


Selasa (26/4) Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma merayakan Dies Natalis ke-23. Acara Dies Natalis ini berupa seminar dengan tema “Memartabatkan Anak Indonesia dalam Perspektif Bahasa, Sastra, dan Sejarah” di ruang seminar Auditorium Driyarkara Kampus 2 USD Mrican. Seminar tersebut dihadiri oleh Erlinda, Ketua Divisi Sosialisasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Selain itu, sebagai pembicara seminar adalah Sony Christian Sudarsono dengan perspektif bahasa, Fransisca Kristanti dari perspektif sastra, dan Heri Priyatmoko dari perspektif sejarah. Hadir pula Grace Melia, alumni Sastra Inggris yang membagikan pengalamannya mengenai anak penyandang cacat.
Dalam presentasinya, Erlinda membagikan kasus-kasus seputar anak yang ditangani oleh KPAI. Isu-isu itu sangat banyak: kekerasan seksual, aborsi, kekerasan fisik, bullying, perceraian, dan sebagainya. “Persoalan anak Indonesia itu banyak. Ini hanya segelintir yang kami tangani. Kami mendapatkan 28 laporan dalam satu hari, dan salah satunya kejahatan seksual.” ungkapnya. “Itu hanya yang lapor ke kami. Ini masih seperti fenomena gunung es.” Dalam presentasinya tersebut, ia juga menyampaikan kampanye Stop Kekerasan Terhadap Anak. Ia mengajak para hadirin untuk melakukan “Salam Lima Jari”-nya.
Begitu banyak isu mengenai anak yang terjadi di Indonesia. Grace Melia, tamu undangan dalam seminar tersebut, membagikan pengalamannya mengenai Aubrey Naiym Kayacinta, anaknya yang menderita congenital rubella syndrome. Ia sangat terkejut ketika mengetahui bahwa anaknya menjadi penyandang cacat, bahkan lebih tidak tahu lagi pada awalnya bagaimana ia akan merawat dan mendidik anak tersebut. Akan tetapi, dengan perjuangan dan seiring berjalannya waktu, ia dapat menghadapinya, bahkan mendirikan Rumah Ramah Rubella, komunitas bagi para orangtua yang ingin berbagi pengalaman yang sama.
Isu anak, yang diangkat menjadi tema utama dalam seminar ini, diangkat dalam berbagai perspektif oleh para pembicara. Sony Christian Sudarsono, dosen Sastra Indonesia, membagikan cara berkomunikasi dengan anak melalui sudut pandang pragmatik. Selain prinsip berbahasa Grice, ia menambahkan prinsip kelima, yang dinamainya sebagai “Prinsip Kasih Sayang”. “Tujuannya adalah untuk memberikan kenyamanan bagi mitra bicara. Salah satu indikator seseorang mengalami kasih sayang adalah ketika ia merasa nyaman.” katanya.
Fransisca Kristanti menyampaikan isu mengenai anak-anak berkebutuhan khusus, baik secara fisik maupun nonfisik, dalam sastra inklusif. “Sastra anak inklusif yang saya maksud adalah sastra memiliki ‘karakter’ untuk anak-anak berkebutuhan khusus,” jelasnya. Anak-anak tersebut mengalami diskriminasi dalam masyarakat: ekonomi, pekerjaan, pendidikan, fasilitas, dan sebagainya. “Ketika dewasa, mereka dianggap sebagai sebagai warga kelas dua di masyarakat.” jelasnya.
Kemudian, Heri Priyatmoko membagikan kisah anak wong cilik dalam panggung sejarah Indonesia. Dalam presentasinya, ia menceritakan mengenai Kepanduan Jawa yang dibentuk Mangkunegaran untuk menjadi wadah pendidikan anak-anak nonbangsawan. Anak-anak dipandang penting untuk melangkah menuju masa depan, dan oleh karena itu, mereka diberi wadah agar dapat ditempa. Dalam Kepanduan tersebut, anak-anak desa dididik jasmani dan rohaninya, humanisme dan nasionalismenya. “Bagimanapun, dunia anak adalah bermain.” katanya. (GMP)

  kembali