Sabtu (23/4) Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma merayakan Dies Natalis ke-23 di Ruang Seminar Auditorium Driyarkara Kampus 2 USD Mrican. Acara ini berupa seminar bertema Ekonomi Pasar: Masa Kini dan Masa Depan. Pembicara dalam seminar tersebut adalah Robertus In Nugroho, SJ dosen Fakultas Ekonomi USD dan Nico Priyambada Direktur UPC Renewables.
Bertepatan dengan Dies Natalis Fakultas Ekonomi ke-23 ini, Fakultas Ekonomi USD meresmikan kelahiran program studi baru mereka, yaitu Program Studi Ekonomi. Peresmian tersebut diinisiasi dengan gong yang dibunyikan oleh Rektor USD, Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. Ia mengungkapkan harapan agar dengan lahirnya program studi ini, Fakultas Ekonomi dapat menambah kontribusinya bagi pembangunan bangsa. “Sebagai komunitas akademik, sudah jadi kewajiban USD untuk cawe-cawe dalam kehidupan masyarakat.” ujarnya.
Pada presentasinya, In Nugroho mengungkapkan kegelisahan para ekonom mengenai ekonomi pasar dan ekonomi rakyat di Indonesia. Ia menggarisbawahi bahwa dalam ekonomi pasar, kebebasan manusia diberi ruang yang besar, sehingga tata ekonomi juga dapat bergerak lebih bebas. Di sisi lain, ia juga menyinggung mengenai ekonomi negara yang dulu sempat mendominasi di Indonesia pada masa pemerintahan Soekarno. “Akan tetapi, lalu di mana aliran yang ketiga, yaitu rakyat?” Hal inilah yang menjadi fokus pembahasan In Nugroho.
Tata ekonomi saat ini melahirkan adanya kesenjangan sosial dan ekonomi di masyarakat, antara yang elit dan yang miskin. “Ekonomi pasar ini membuat ekonomi tercerabut dari kemanusiaan, dan setiap masalah kemanusiaan didasarkan pada kepentingan ekonomi.” ia menjelaskan. “Oleh karena itu, ada tantangan agar ilmu ekonomi dan dan ilmu etika dapat kembali berjumpa.” lanjutnya. Etika diperlukan agar ekonomi dapat kembali berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Nico Priyambada, merespon isu akademik yang dilemparkan oleh In Nugroho, memaparkan mengenai proyek pembangkit listrik tenaga angin di Indonesia yang dikembangkan oleh perusahaannya, UPC Renewables. Proyek ini diharapkan dapat menjadi cara agar Indonesia dapat menggunakan teknologi pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan. Proyek ini sudah berjalan di beberapa lokasi di Indonesia yang telah diteliti sebagai tempat berpotensi untuk teknologi tersebut. (GMP)




