USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Gelombang-gelombang Feminisme

diupdate: 11 tahun yang lalu


Sementara di banyak negara Barat gerakan feminisme merupakan bagian dari gerakan sosial (civil movement), di negara-negara terjajah, gerakan feminisme merupakan bagian dari gerakan kemerdekaan (independence movement). Hal ini menunjukkan bahwa feminisme bukan merupakan sebuah gerakan global yang utuh dan berlaku di semua tempat, melainkan bersifat korelatif terhadap masing-masing  konteks lokal.  Demikian antara lain dikemukakan oleh Dr. Maria Louisa T. Reyes dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan oleh Pusdema (Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia) Universitas Sanata Dharma, Selasa, 12 April 2016. Dr Reyes adalah dosen di Jurusan Sastra Inggris, Universitas Ateneo de Manila, Filipina.
Dalam diskusi yang berlangsung di kantor Pusdema itu selanjutnya Reyes mengatakan, secara umum ada tiga “gelombang” gerakan feminisme. Pada gelombang pertama, gerakan feminisme lebih banyak memperjuangkan hak-hak politik perempuan, khususnya hak untuk ikut memilih dan dipilih dalam pemilihan umum. Gelombang pertama ini terutama berlangsung pada masa peralihan antara abad 19 dan abad 20. Pada gelombang kedua, yang terjadi pada tahun 1960-an, gerakan feminisme berfokus pada masalah kesetaraan hukum dan kesetaraan sosial perempuan dalam masyarakat. Sementara itu pada gelombang ketiga, yang dimulai pada tahun 1990an, gerakan feminisme lebih banyak melanjutkan dan mengembangkan perjuangan melawan tantangan-tantangan yang dihadapi pada gelombang kedua.
Meskipun demikian, lanjut Reyes, gerakan feminisme tidak berjalan secara linier dan merata di seluruh dunia. Feminisme begerak dengan penuh dinamika sesuai dengan konteks sosial-politis yang ada di masing-masing wilayah atau negara. Di Tiongkok, misalnya, gelombang pertama gerakan feminisme lebih banyak diwarnai oleh upaya untuk membebaskan perempuan dari peran tradisional sebagaimana diajarkan dalam Konfusianisme yang seringkali dirasakan sangat membelenggu. Sementara itu di Mesir pada gelombang yang sama gerakan perempuan sangat erat terkait dengan gerakan kemerdekaan di negara tersebut.
Sekarang ini ada banyak hal yang sedang dihadapi oleh gerakan feminisme. Salah satunya adalah pandangan-pandangan yang bersifat esensialis terhadap perempuan dalam bidang biologi, psikologi dan ilmu kepribadian. Selain itu juga sedang dihadapi masalah ketidaksetaraan jender, khususnya di bidang sains dan arsitektur. Pada saat yang sama, Reyes mengamati terjadinya peningkatan dalam hal minat baca terhadap karya-karya sastra yang ditulis oleh para penulis perempuan.
Dr. Reyes, yang merupakan salah seorang mantan pejuang demokrasi di bawah pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos, mengatakan bahwa sekarang ini di Filipina salah satu tantangan feminisme adalah masalah lebih rendahnya gaji perempuan dibanding gaji laki-laki. Praktek demikian menurutnya terjadi bahkan di dunia perguruan tinggi. Menanggapi hal itu salah seorang peserta diskusi mengatakan, praktek seperti itu tidak terjadi di Indonesia, khususnya di Universitas Sanata Dharma. Di sini sistem penggajian dilakukan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku, tanpa menghiraukan apakah yang bersangkutan itu laki-laki atau perempuan. (RMB)

  kembali