Selasa, 23 Februari 2016, Magister Manajemen Universitas Sanata Dharma mengadakan Seminar dengan tema “Asean Economic Community (AEC): Can ASEAN Learn From The EU?” Seminar dengan narasumber istimewa Dr. Patrick Ziegenhain, Dept. of Southeast Asian Studies, Goethe-University Frankfurt, Germany. Mr. Ziegenhain atau biasa disapa Bapak Patrick sudah banyak melakukan penelitian sesuai dengan topik Seminar di atas.
Kondisi 10 negara anggota ASEAN adalah 10 negara yang berkharakteristik berbeda baik sistim pemerintahan dan tingkat perekonomian (GDP, Income Perkapita), dan sosial ekonomi masyarakatnya. Hal ini berbeda dengan European Union (EU) yang saat ini beranggotakan 28 negara rasio negara termiskin dengan terkaya 1: 14, bandingkan dengan di ASEAN rasio tersebut 1: 55 (gap yang sangat besar). Masih banyak hal lain yang menjadikan ASEAN masih begitu jauh menjadi integrasi regional seperti halnya di EU.
Seminar ini diikuti oleh lebih dari 75 peserta dan berbahasa Inggris sebagai salah bentuk kerjasama antar Pengelola Program Studi Magister Manajemen USD dan S3 yang tergabung dalam ABSF (APTIK Business School Forum). Hadir pula Rektor Universitas Sanata Dharma, Bapak Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D dan partisipan dari berbagai kalangan di USD maupun di luar USD.
Antusias peserta sangat tinggi karena presentasi sangat komprehensif dan menarik terkait dengan tantangan yang akan dihadapi oleh masyarakat Indonesia dalam pelaksanaan Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Dr. Patrick meyakinkan kepada peserta seminar, bahwa Indonesia pasti siap secara ekonomi dalam pelaksanaan Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) di kemudian hari. Hal tersebut dibuktikan dengan berbagai grafik ekonomi yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu Negara yang berkembang pesat di bidang ekonomi. Namun, banyak tantangan yang harus dipersiapkan Indonesia, salah satunya adalah kemampuan masyarakat dalam berbahasa asing. Ditambah lagi, sistem regulasi dan politik Indonesia masih memprihatinkan. Berdasarkan tema seminar kali ini, “Asean Economic Community (AEC): Can ASEAN Learn From The EU?”, ASEAN bisa saja mencontoh kesuksesan EU, walaupun "perjalanan" masih panjang.
Pada akhir acara, MMUSD memberikan beberapa bingkisan menarik seperti
wayang kayu dan souvenir MMUSD yang diserahkan kepada Dr. Patrick oleh Rektor USD. Setelah rangkain acara seminar selesai, pengelola MMUSD mengajak Dr. Patrick makan malam sambil diskusi santai tentang kemungkinan kerjasama lebih lanjut baik bidang penelitian, publikasi ilmiah, dan kerjasama lainnya. Dr. Patrick menyatakan rangkaian seminar sangat mengesankan dan menyatakan terima kasih bahwa MM USD telah memberikan pelayanan yang terbaik selama ia berada di Yogyakarta. Ketika ditanya apa komentar Dr. Patrick terkait pelaksanaan seminar, beliau berkata, “The participants were very good in delivering their questions, and the condition in the Seminar was very attractive.” (MM)




