USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Yosef Wijoyo Perkenalkan Paradigma Pedagogi Reflektif

diupdate: 11 tahun yang lalu


Menjadi sebuah kebanggaan bagi Universitas Sanata Dharma, karena kembali salah seorang dosen telah melewati tahapan ujian terbuka dan berhasil menyandang gelar doktor dalam Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan. Beliau adalah bapak Yosef Wijoyo, seorang dosen yang mengabdikan dirinya dalam mendidik mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma. Judul yang beliau angkat adalah “Pengembangan Strategi Pembelajaran Berbasis Paradigma Pedagogi Reflektif untuk Meningkatkan Kompetensi Farmakoterapi dan Keterampilan KIE Mahasiswa profesi Apoteker. Penelitian yang beliau lakukan bertempat di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma dan melibatkan mahasiswa-mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker Universitas Sanata Dharma sebagai subjek penelitian. Ujian terbuka digelar Senin, 22 Februari 2016 bertempat di gedung Radiopoetro Fakultas Kedokteran UGM.
Penelitian ini berangkat dari keprihatinan akan masih kurangnya kemampuan apoteker dalam memberikan pelayanan pada pasien, di mana pengetahuan akan penerapan ilmu farmakoterapi (ilmu yang mempelajari tentang penanganan penyakit melalui penggunaan obat-obatan) masih dirasa kurang, hal ini berbanding terbalik dengan permintaan dan harapan pasien yang begitu tinggi akan tindakan kefarmasian seorang apoteker. Hal itulah yang menggugah bapak Yosef Wijoyo untuk meneliti sebuah metode sebagai alternatif solusi dari keprihatinan tersebut. Mengapa refleksi yang beliau pilih? Beliau berpendapat bahwa dengan melakukan refleksi, seorang farmasis dapat menceritakan apa saja yang telah mereka dapatkan dari sumber-sumber pengetahuan, apa yang telah mereka alami dan peroleh ketika mendengarkan berbagai informasi dari pasien, sehingga hal ini tentu mempengaruhi tahap aksi yang akan mereka lakukan. Refleksi yang diterapkan dalam penelitian mencakup “Apa yang telah diperoleh dari proses pembelajaran?”, “Apa nilai yang didapatkan ketika proses sedang berlangsung?” dan “Apa yang akan dilakukan selanjutnya (implementasi)?”. Metode refleksi dalam penelitian ini menjadi istimewa karena mengedepankan teori humanistik, dengan membentuk pribadi-pribadi yang lebih utuh, yang secara sederhana terangkum dalam Cerdas (kognitif) dan Humanis (moral dan sosial). Penelitian terdiri dari tiga tahapan besar yakni pelatihan bagi dosen pengampu, mentoring (pengawasan), serta implementasi dari strategi pembelajaran berbasis paradigma pedagogi reflektif ini. Implementasi dari metode ini dapat dilihat ketika para subjek telah terjun langsung dalam bekerja di apotek dan menerapkan dalam tindakan pelayanan bagi pasien.
Disertasi yang bapak Yosef angkat dinilai amat menarik oleh tim penilai dan sungguh diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi pendidikan, khususnya pada ilmu kefarmasian. Tentunya jika metode refleksi ini dikembangkan lebih lanjut, tidak menutup kemungkinan bahwa metode ini dapat diterapkan pula pada disiplin-disiplin ilmu yang lain. Berkaitan dengan hal ini, maka sangat diharapkan kerjasama dari para dosen, di mana dosen yang telah mengampu mata kuliah berbasis paradigma pedagogi reflektif kiranya dapat menjadi mentor bagi dosen-dosen yang lain.
Berkat pemaparan-pemaparan dalam ujian terbuka, kelancaran dalam memberi jawaban yang disampaikan oleh tim penilai, dan setelah melewati proses pendidikan doktoral, bapak Yosef Wijoyo berhasil menyandang predikat Cumlaude. Mari, segenap civitas akademika saling mendukung dalam peningkatan kualitas pembelajaran bagi generasi penerus bangsa, sebab jikalau tidak dilakukan bersama-sama, maka perubahan ke arah yang lebih baik tentu menjadi sulit untuk terwujud. (EEN)

  kembali