Lama kemerdekaan Republik Indonesia yang sudah mencapai usia 64 tahun rupanya belum mampu untuk menjawab pertanyaan seputar makna kemerdekaan dan terlebih lagi realitas kehidupan bangsa dan negara yang meproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Pertanyaan- pertanyaan seputar apakah bangsa dan negara kita tercinta ini sudah betul-betul merdeka terus bermunculan setiap kali hari kemerdekaan hendak diperingati. Menggarisbawahi bahwa masih banyak ketidakadilan dan misteri sejarah dan peristiwa yang belum terungkap hingga sekarang menjadi sekelumit pertanyaan yang ingin dimunculkan pada sebuah acara seni, bertajuk Refleksi Proklamasi: Serangkum Pertanyaan Untuk Kemerdekaan. Acara ini diselenggarakan pada Jumat, 4 September 2009 berkat kerjasama PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) Universitas Sanata Dharma, Bengkel Sastra USD, Teater Seriboe Djendela USD, University of Minnesota, Charles Darwin University, Institut Sejarah Sosial Indonesia, dan Institut Seni Indonesia. Dalam acara yang berlangsung di Beringin Soekarno kompleks Pascasarjana Universitas Sanata Dharma tersebut, generasi muda yang diwakili oleh beberapa seniman berusaha untuk menggambarkan dan menunjukkan makna kemerdekaan, kritik sosial, dan refleksi kritis atas demokrasi dan keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara dalam bentuk pembacaan puisi, tarian, nyanyian, dan teatrikalisasi. Refleksi pertama pada malam itu dibawakan oleh Teater Seriboe Djendela dan mengambil judul Rembang Senja, yang merupakan reimejinasi novel Menari di Teras Incognita karangan Rm. Gregorius Budi Subanar atau yang akrab dipanggil Romo Banar. Setelah itu, sebuah musikalisasi puisi yang unik ditampilkan oleh Bengkel Sastra yang terispirasi oleh kumpulan puisi Fitri Nganthiwani. Fitri Nganthiwani sendiri adalah salah satu mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma yang sangat berbakat dan sekaligus merupakan putri dari seniman Widji Thukul yang hilang semasa pemerintahan Orde Baru. Selain itu, intepretasi Puisi Fitri sendiri tidak berhenti sampai disitu karena komunitas tari ISI (Institut Seni Indonesia) yang dipimpin oleh Y. Subowo dan Setyastuti. Koreografi yang begitu indah dan professional ditunjukkan lewat tarian dan kesenian tradisional Jathilan yang dikreasikan ulang oleh Ayodya Art Dance, berjudul Mangkene Mangku Mardika. Penampilan tersebut rupanya sangat berkesan pada para penonton yang memadati wilayah Berigin Soekarno, yang malam itu disulap menjadi tempat yang begitu menakjubkan dan penuh permainan cahaya. Sepanjang para penari tampil, mereka tak henti-hentinya bertenpuk tangan. Kehadiran Fitri Nganthiwani untuk membacakan salah satu puisinya dalam penampilan tersebut juga menjadi warna tersendiri yang tak terlupakan. Para penampil selanjutnya yaitu, Alwi Atma Ardand, mahasiswa Sastra Inggris USD, dan Fadjar Merah, adik dari Fitri Nganthiwani juga mampu membawa para penonton terkesima. Dengan begitu, serangkum pertanyaan yang menjadi hasil dari refleksi kemerdekaan telah dimunculkan dengan ekspresi yang beragam dan elegan. Beragam dan elegan karena seluruh ekpresi dan refleksi kemerdekaan yang ditampilkan pada malam itu hadir dalam bentuk ekplorasi bakat serta talenta yang blak-blakan namun santun dan menggelitik. (bunga)




