Sejumlah tantangan kebangsaan seperti korupsi, ketidakadilan sosial, intolerensi kehidupan beragama, dan perendahan martabat kemanusiaan merupakan latar belakang munculnya kebutuhan akan mahasiswa yang berkualitas tidak hanya dari sisi akademis, namun dari sisi humanisnya juga. Empat nilai dasar dari Universitas Sanata Dharma (USD) yaitu: mencintai kebenaran, memperjuangkan keadilan, menghargai keberagaman, dan menjunjung tinggi keluhuran martabat manusia adalah pedoman bagi mahasiswa USD untuk menjadi mahasiswa yang tidak hanya cerdas namun juga humanis. Dalam rangka semangat yang baru di awal tahun ini, USD mencoba menghidupkan kembali nilai-nilai dasar lewat kegiatan Pelatihan Pengembangan Kepribadian dan Metode Belajar (PPKMB) 2016 yang diselenggarakan pada 6 Februari 2016 di Auditorium Driyarkara, Kampus 2 USD Mrican.
Dua narasumber utama yaitu Ibu Suciwati Munir dan Bapak Bambang Widjojanto hadir untuk merefleksikan pengalaman mereka dan memberikan inspirasi kepada mahasiswa-mahasiswa yang hadir. Karya-karya seni artivisme juga ditampilkan oleh Iwan Dadjino lewat tarian “The Poison” dan juga Fajar Merah yang membawakan lagu-lagunya. Salah Satu lagu yang dinyanyikan oleh putra dari Fajar Tukul ini berjudul “Kebenaran akan Terus Hidup” sesuai dengan tema dari kegiatan PPKMB ini. Selain itu ada juga pembacaan puisi diiringi musik oleh Richardus Benny Pradipta bersama grupnya Genjer-Genjer. Suasana kebangsaan dan nasionalisme sangat kental terasa di dalam acara ini
Kisah perjalanan hidup Ibu Suciwati Munir menjadi topik perbincangan dalam sesi pertama acara ini. Nama belakang beliau diambil dari nama mendiang suaminya Munir, yang meninggal karena memperjuangkan kebenaran dan keadilan di masyarakat. Kepergian suami meninggalkan duka yang besar bagi Ibu Suciwati, namun beliau menunjukkan bahwa Alm. Munir pergi meninggalkan semangat dan keberanian untuk membela apa yang benar. Ibu Suciwati Munir melanjutkan usaha yang telah dilakukan oleh suaminya dalam membela keadilan dan tidak menyerah memperjuangkan tuntasnya kasus kematian almarhum suaminya. Usaha-usaha yang beliau lakukan antara lain adalah mengirimkan surat kepada presiden, menyuarakan pendapat dengan berdiri di depan istana presiden setiap hari kamis pukul 4 sampai dengan pukul 5 WIB, serta menjadikan rumah beliau yang bertempat di daerah Batu, Malang sebagai Museum Hak Asasi Manusia.
Pada sesi kedua, Pak Bambang Widjojanto merefleksikan pengalaman-pengalamannya seperti pada saat dirinya bertugas di Papua, membantu di LBH
Indonesia, dan ketika beliau menjabat sebagai Wakil Ketua KPK pada periode 2011 – 2015. Beliau mengharapkan agar kaum muda tidak “menutup telinga” terhadap permasalahan sosial di masyarakat. Menurut beliau orang-orang baik di Indonesia sebenarnya lebih banyak daripada orang yang memiliki niat tidak baik, namun hanya sedikit orang baik yang berani “bersuara”. Berefleksi dari pengalamannya di KPK, beliau mengharapkan agar kaum muda dapat menjadi seperti Mutiara yang ada di pedalaman dan bernilai luar biasa, bukan menjadi buih air di tepi pantai yang mengikuti orang kebanyakan saja.
Di masa lalu, bahkan hingga saat ini tantangan kebangsaan seperti ketidakadilan dan kebenaran yang ditutup-tutupi akan terus terjadi. Tokoh seperti Ibu Suciwati Munir dan Bapak Bambang Widjojanto menginspirasi kaum muda untuk berani menyuarakan kebenaran dan melawan ketidakadilan. Hadirnya gerakan kaum muda dalam menyuarakan kebenaran di media sosial saat ini dapat menjadi kesempatan munculnya perubahan. Keberanian mahasiswa dalam memperjuangkan nilai-nilai dasar kebangsaan akan menjadi langkah awal mencari kebenaran. Karena, selama ada orang yang berani dan peduli maka kebenaran akan terus hidup! (ANP & APG)




