USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Diskusi Publik PUSDEMA LPPM USD:
Karya Visual Sebagai Ruang Alternatif Narasi 1965

diupdate: 11 tahun yang lalu


Tragedi Nasional pada tahun 1965 merupakan sebuah kasus yang bersejarah di mana sampai sekarang masih menjadi pembicaraan dan belum ada penyelesaiannya. Pembicaraan tentang topik ini berlanjut pada penulisan karya tulis dan karya seni oleh para seniman yang menolak untuk lupa pada tragedi nasional 1965 ini.
Pusat Studi Demokrasi dan Masyarakat – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PUSDEMA LPPM) Universitas Sanata Dharma pada hari Jumat, 29 Januari 2016 di Ruang Lontar, Kompleks Pasca Sarjana USD mengadakan diskusi publik bertema karya visual sebagai ruang alternatif narasi 1965.
Dalam diskusi ini mengundang tiga narasumber yaitu Elisabeth Ida Mulyani - seorang seniman Indonesia yang menetap di Belgia, Dyah Pitaloka - selaku dosen dari National University of Singapore, dan Alex Echard - seorang seniman yang bergelut dalam bidang teater reportase.
Dalam presentasi yang dibawakan ketiga narasumber, masing-masing membawa topik tragedi nasional 1965 tetapi berbeda-beda sesuai dengan bidang yang mereka geluti. Bu Ida, begitu sapaan akrabnya, sebagai seorang seniman membuat sebuah video yang berisi wawancara dengan masyarakat Indonesia yang diasingkan ke luar negeri karena tragedi nasional 1965. Masyarakat Indonesia yang diasingkan di luar negeri bukan hanya yang mempunyai latar belakang Partai Komunis Indonesia (PKI) tetapi juga ada orang biasa yang ingin belajar. Menurut beliau sebagai seorang seniman beliau membebaskan para pemirsa yang melihat karyanya untuk mempunyai persepsi masing-masing tentang karya yang dibuatnya.
Diskusi ini dilanjutkan dengan presentasi yang dibawakan oleh Bu Dyah. Dalam diskusi publik ini beliau menyarankan agar masyarakat tidak lagi takut dalam berpendapat dan membangun sebuah ruang di mana dalam ruang tersebut suara adalah milik masyarakat.
Diskusi ditutup dengan sebuah aksi teater reportase dari Alex Echard yang mengajak para peserta diskusi untuk ikut serta. Dalam aksi tersebut Alex menceritakan sebuah kisah di mana ada seorang anak di Palestina yang menyelamatkan keluarganya dari kematian hanya dengan sebuah tawa. Alex juga menyampaikan bahwa perlunya sebuah hubungan pertemanan dengan para korban kekerasan untuk benar-benar mengetahui kondisi sebenarnya dari para korban.
“Sudah saatnya untuk memikirkan masa depan dan bukan obsesi pada masa lalu. Penyelenggaraan diskusi ini bukan hanya sebagai tempat untuk para seniman untuk menunjukkan karyanya tetapi juga untuk menyadarkan para peserta untuk belajar dari masa lalu untuk membangun masa depan.” ujar Dr. F.X. Baskara Tulus Wardaya, S.J., M.A. selaku Ketua PUSDEMA. (PDW)

  kembali