Salah satu warisan pemikiran St. Ignatius Loyola yang banyak menginsipirasi dalam berkarya adalah askesis atau dalam istilah awamnya matiraga. Adalah sulit di zaman konsumerisme dan era instan ini praktik askese dilakukan. Namun demikian, askesis tidak bisa dipisahkan dari setiap kegerakan dan pengambilan keputusan dalam berkarya terutama bagi para Jesuit dan civitas yang ada di dalamnya. Untuk itu Pusat Studi Ignatias bekerja sama dengan Mission Identity mengadakan sarasehan membahas tema ini Sabtu (25/7) dengan Kampus II USD Mrican dengan mendatangkan lima orang tersiaris Jesuit yang akan menyekesaikan masa tersiatnya pada akhir bulan Juli 2009 ini. Mereka adalah Rm. Gandhi Hartono SJ, Rm. Andre Sugijopranoto SJ, Rm. Budiarto Gomulia SJ, Rm. Setyo Wibowo SJ, dan Rm. Krispurwana Cahyadi SJ. Dalam paparannya Rm. Budhi Gomulia menyampaikan bahwa untuk memahami dan mempraktekkan askese kita perlu menelaah kembali yang telah dilakukan St. Ignatius dalam otobiografinya. Bagi St. Ignatius matiraga baik fisik maupun batin senantiasa dilakukan. Praktek matiraga bukan sekedar puasa, berjalan tanpa sepatu atau mencambuki diri, tetapi menyangkut matiraga dalam hal batin. Dalam perjalanannya matiraga bagi Ignatius ternyata mampu mengubah motivasinya dari memperoleh kehormatan menjadi berbuat baik kepada Tuhan dan berdamai denganNya. Mnurut Rm. Budhi yang juga penting dalam dalam praktek matiraga Ignatius adalah adanya transformasi hidupnya yang berdasar pada kepekaan dan ketajaman membaca gerak gerik batin. Sebenarnya praktek matiraga menurut Rm. Gandhi sudah dilakukan dalam budaya Jawa, bahkan tersirat jelas dalam cerita pewayangan. Paham "Sangkan Paraning Dumadi" yaitu terfoks pada satu tujuan yang diperoleh dengan cara melawan segala hawa nafsu manusiawi. Bentuk askese dalam masayarakat Jawa sebenarnya bertujuan untuk memperoleh keseimbangna batin dan penenangan emosi. Dengan mengembangkan sikap ini manusia diharapkan bisa memiliki sifat "Sabar, nrimo, lan iklas". Maka tidak heran bahwa askese dalam budaya Jawa lebih pada mengolah cara atau sikap hidup manusia untuk mencapai kebahagiaan batin bersama ilahi. Askese di zaman ini bisa dipahami sebagai sikap lebih prihatin bukan menikmati kesenangan hidup, lebih waspada bukan spontan, lebih sabar bukan gegabah, dan lebih kritis bukan larut dalam hiruk pikuk dunia. Sementara itu menurut Rm. Andre askese menunjuk pada latihan terus menerus seperti para atlit yang akan berlaga dan bisa diartikan sebagai disiplin dalam hal moral. Dengan kata lain askese merupakan latihan keras untuk melawan diri sendiri dan mendisiplin diri dengan keras dalam penampilan, cara, dan sikap. Praktek ini sangat penting bagi para pemimpin organisasi. Seorang peimpin yang ingin menghidupi spiritualitas Ignasian dituntut melatih diri terus menerus (askese) agar nilai-nilai latihan rohani sungguh meresap dan terwujud secdara spontan dalam tindakan pengambilan keputusan. Dalam pandangan Rm.Krispurwana asketisme Ignatian lebih mengarah pada upaya menempatkan diri dengan penyangkalan diri dan melepaskan diri dari segala rasa lekat yang tak teratur agar seseorang lebih dekat kepada Allah. "Askese adalah kerja, sesuatu yang konkret, suatu latihan, karena itu perlu bagi seseorang untuk menapaki jalan pengabdian kepada Allah dalam berbagai bentuk", tambah Rm. Kris. Sementara itu dalam makalahnya yang berjudul "Spiritualitas Ignatisian dalam Organisasi Masa Kini" Rm. Alfred menggaris bawahi bahwa teladan Ignatius adalah sebagai pemimpin dan manajer. Dia memiliki visi, arah, dan sasaran dengan menghadirkan strategi, cara , metode yang efisien, terukur, dan sumber daya yang disesuaikan untui mencapai sasaran yang diinginkan. Ignatius menggunakan baik otak kiri maupun kanan. Pengambilan kepurusan tidak sekedar berdasar pada logika, data, analisa, atau argumen, tetapi juga intuisi, imajinasi, dan perasaan. Hal lain yangperlu diingat adalah bahwa kepimimpinan Ignasian adalah kepemimpinan yang bersifat pelayanan, dalam arti segal keputusan dan sikap dalam bertindaj dipusatkan pada pelayanan kepada Allah (Tti)




