Memasuki tahun yang baru, tahun 2016, Universitas Sanata Dharma, melalui Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU), mengadakan sebuah inovasi baru. Pada bulan Januari 2016 ini, USD menyelenggarakan Inisiasi Sanata Dharma (INSADHA) Januari 2016.
INSADHA 2016 ini diselenggarakan untuk menampung 400-500 mahasiswa baru yang selalu tidak mendapatkan kuota untuk mengikuti INSADHA di tahunnya. Akibatnya, mereka harus mengikuti INSADHA di tahun berikutnya. Hal ini pun berdampak pada beberapa mahasiswa baru yang tidak mendapat kesempatan INSADHA karena kehabisan kuota. Peristiwa ini pun terus terulang. Setiap tahunnya, banyak mahasiswa baru yang harus mengikuti INSADHA di lain tahun. Untuk mengatasi masalah tersebut, diadakanlah INSADHA Januari 2016.
INSADHA Januari 2016 ini diselenggarakan pada tanggal 14-15 Januari yang lalu
dengan mengambil tempat di Auditorium Driyarkara USD. Rangkaian acara yang diikuti peserta INSADHA Januari 2016 ini hampir sama dengan INSADHA yang diselenggarakan bulan Agustus: Perkenalan Rektorat, dinamika kelompok, perkenalan BEMU/DPMU, dan perkenalan seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di USD. Walapun demikian, ada satu agenda kegiatan yang membuat INSADHA Januari 2016 ini spesial. Pada hari kedua penyelenggaraannya, tepatnya tanggal 15 Januari 2016, panitia INSADHA Januari 2016 menghadirkan seorang budayawan asal Jember yang juga dikenal sebagai dalang. Beliau adalah Sujiwo Tejo.
Angga Dwi Putra, Ketua BEMU USD 2016/2017, dalam wawancara mengatakan bahwa Sujiwo Tejo adalah sosok yang tepat untuk dihadirkan pada INSADHA Januari 2016 karena beliau dipandang memiliki visi yang sama dengan tema INSADHA Januari 2016: Budayaku Postif, Aku Sang Visioner Aktif. Beliau, dengan visinya melestarikan kebudayaan Indonesia, begitu menghayati nilai-nilai kebudayaan dan memiliki visi dalam hidupnya untuk senantiasa melestarikan kebudayaan Indonesia melalui wayang. Melalui kehadiran beliau dalam rangkaian INSADHA Januari 2016, USD berharap visi beliau ini dapat ditularkan kepada para peserta. Harapannya, para peserta mampu memiliki visi terhadap hidupnya dengan menjadi apapun (seniman, pendidik, dsb) yang berguna bagi negara dan masyarakat.
Walaupun Sujiwo Tejo diundang ke USD untuk menyapa para mahasiswa peserta INSADHA Januari 2016, USD sepertinya tidak lupa mengajak masyarakat sekitar untuk turut merasakan semangat Sujiwo Tejo dalam melestarikan budaya Indonesia. Dalam salah satu rangkaian acara INSADHA Januari 2016 yang dikemas dengan nama Sujiwo Tejo: Cerita, Nada, dan Kata, lebih dari 1200 orang, baik dari dalam maupun luar USD, memenuhi seluruh kursi auditorium untuk menyaksikan penampilan dan bincang budaya bersama Sujiwo Tejo.
Dalam sesi pertama acara tersebut, Sujiwo Tejo menampilkan kebolehannya dalam memerankan tokoh wayang kulit maupun wayang orang yang ia dalangi sendiri. Dalam pementasan wayang ini, beliau membawakan sosok cerita Ramayana. Kisah perwayangan yang menampilkan sosok Rama dan Shinta ini pun beliau kombinasikan dengan cerita-cerita anak muda zaman sekarang. Setelah pementasan usai, Sujiwo Tejo juga mengadakan dialog singkat tentang dunia wayang.
Dalam dialog budaya yang terbilang singkat, Sujiwo Tejo seakan mampu
menularkan roh cinta akan wayang kepada para peserta yang hadir, terutama kepada kaum muda. Beliau mengatakan bahwa kisah Ramayana yang ia bawakan sebenarnya ingin mempertemukan wayang dengan anak muda. “Biar anak muda melihat bahwa ternyata Rama dan Shinta bisa diintepretasikan dengan berbagai macam cerita, tergantung perkembangan.” jelas beliau. Di akhir dialog budaya tersebut, Sujiwo Tejo kembali mengingatkan para kaum muda agar selalu mencintai budaya lokal. Indonesia kaya akan budaya dan Indonesia akan tetap bisa eksis apabila para warganya terutama kaum mudanya mencintai budaya sendiri. (mdr)




