USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Seminar Dosen Dies Natalis ke-60 USD

diupdate: 11 tahun yang lalu


Usia Universitas Sanata Dharma (USD) kian matang. Di tahun 2015, USD menginjak usia 60 tahun, usia yang tidak lagi muda bahkan tidak lagi orang tua, lebih dari itu. Di usia yang baru ini, USD dituntut untuk semakin lebih baik dalam meningkatkan kualitas pendidikannya. Selain itu, USD dituntut pula untuk semakin matang dalam mempersiapkan kaum mudanya dalam menghadapi tantangan zaman.
Kebutuhan untuk semakin mampu mendampingi para mahasiswa untuk menjadi manusia muda yang handal kemudian direspon melalui berbagai macam kegiatan. Dalam rangkaian acara peringatan Dies Natalis ke-60, USD merespon kebutuhan tersebut dengan menyelenggarakan seminar dosen pada hari Kamis, 17 Desember 2015. Seminar yang diselenggarakan di Ruang Drost Kampus III Paingan ini mengangkat tema “Bertransformasi Bersama Kaum Muda”.
Johannes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D, Rektor USD, dalam sambutannya mengutarakan bahwa penyelenggaraan seminar dosen yang merupakan agenda rutin tahunan ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal. Yang pertama, seminar dosen ini diselenggarakan untuk merefleksikan seluruh pencapaian sebagai pendidik yang panggilannya menyertai kaum muda. Selain itu, seminar dosen ini juga diselenggarakan untuk memperkaya para dosen USD dalam menghadapi tantangan perguruan tinggi yang sangat berat, seiring dengan perkembangan zaman yang semakin berat pula.
“Seminar ini juga untuk menjawab pertanyaan bagaimana mengembangkan universitas untuk menghadapi tantangan pendidikan, terutama pendidikan orang muda yang tak hanya menguasai pengetahuan tapi juga pendidikan holistik” kata Pak Eka dalam sambutannya.
Maka dari itu, dalam seminar dosen ini, USD mengundang tiga narasumber yang akan memaparkan papernya untuk menjawab tantangan pendidikan di atas. Ketiga narasumber tersebut adalah Prof. Dr. Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta; Dr. Ignas Kleden, Dosen Sosiologi pada Program Doktor UI Jakarta dan Ketua Komunitas Indonesia untuk Demokrasi; dan Dr. Stanislaus Sunardi, Dosen Program Pascasarja Ilmu Religi dan Budaya (IRB) USD. Keseluruhan presentasi paper ketiga narasumber dimoderatori oleh Dra. Novita Dewi, M.S., M.A(Hons)., Ph.D.
Rangkaian presentasi dalam seminar dosen ini diawali oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra yang memaparkan tentang Transformasi Indonesia Menjadi Pusat Peradaban: Upaya Aktualisasi Melalui Pendidikan Berbasis Riset. Prof. Dr. Azyumardi Azra memulai presentasinya dengan memaparkan bahwa Indonesia diberkahi dengan pluralitas yang sangat luar biasa. ”Indonesia is a miracle” kata beliau. Walaupun banyak sekali perbedaan dari suku, agama, ras, dan hal lain, Indonesia tetap satu. Hal ini jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Eropa. Perbedaan Bahasa sangat memungkinkan terjadinya perpecahan yang menghasilkan sebuah negara baru, misalnya. Melihat kenyataan ini, Indonesia sangat mungkin menjadi pusat peradaban dunia. Pendidikanlah yang kemudian berperan besar dalam merealisasikannya. Pendidikan jelas menjadi syarat mutlak bagi kebangkitan peradaban. Untuk menjadi tulang punggung kebangkitan peradaban, pendidikan Indonesia harus mencapai pemerataan (equity) dan harus semakin berkualitas. Hanya dengan pendidikan sepeti itu, kaum muda negeri ini dapat bertransformasi bersama Indonesia. Dalam konteks ini, pendidikan tinggi khususnya harus dikembangkan tidak hanya menjadi sekadar teaching higher institutionatau universitas pengajaran tetapi sekaligus menjadi research institution.
Rangkaian presentasi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan makalah oleh Dr. Ignas Kleden. Beliau menyampaikan gagasannya mengenai Bertransformasi Bersama: Pendidikan Tinggi dan Kaum Muda. Dr. Ignas Kleden menjelaskan bahwa persoalan pendidikan merupakan sebuah proses yang dilakukan bersama antara pendidik dan peserta didik, antara sesama peserta didik, dan antara peserta didik dengan masyarakat lainnya. Formasi selalu merupakan koformasi, dan formasi yang berhasil akan menghasilkan transformasi, baik dalam diri peserta didik, maupun dalam diri para pendidik. Transformasi itu kemudian berhadapan dengan berubahnya lingkungan sosial budaya dan munculnya teknologi baru, khususnya teknologi informasi dan komunikasi. Maka dari itu, dengan media pendidikan baru yang akan terus berubah, USD sebaiknya tetap memegang orientasinya, yaitu mengembangkan diri sebagai lembaga pendidikan dan lembaga ilmiah, dan memajukan edukasi dibawah bimbingan tradisi Ignasian dan memajukan erudisi dibawah dorongan peran universitas dalam penelitian.
Selanjutnya, Dr. Stanislaus Sunardi menutup rangkaian presentasi di seminar dosen dengan memaparkan gagasannya yang mengangkat tema “Merayakan Pendidikan Transformatif di Era Digital”. Berbeda dengan pemaparan dua narasumber sebelumnya, Dr. Stanislaus Sunardi mengawali presentasinya dengan pemutaran sebuah film pendek berjudul Takut Denda (2014). Film ini menjadi sebuah representasi dari pendidikan transformatif di era digital. Film ini, secara filmis, isi, dan sosio pedagogis, mengajak para penonton untk menyaksikan suasana atau pesan di mana anak kecil miskin menghadapi tanggung jawabnya akibat menjatuhkan buku pinjaman dari perpustakaan sekolah di sungai. Anak tersebut bertanggung jawab dengan terus menyusuri sungai demi mendapatkan kembali buku tersebut dengan berani dan tanpa cengeng. Penonton pun seperti diombang-ambing antara mau mengasihani atau malah merasa bahwa justru kita yang harus belajar (karena dia berani dan nyaman memperjuangkan tanggung jawabnya). Film-making dengan teknologinya sekarang membuka ruang belajar baru bagi masyarakat untuk mengkomunikasikan idiom visual mereka, imaginasi mereka dan ideologi mereka. Melalui salah satu media digital inilah, pendidikan transformatif yang sarat akan pilihan ideologis, terjadi.
Seusai pemaparan presentasi ketiga ini, rangkaian acara seminar dosen berlanjut pada sesi terakhir, yaitu sesi tanya jawab. Berbagai macam persoalan yang dihadapi dalam dunia pendidikan pun didiskusikan bersama. Dalam sesi ini pula, para dosen diberikan kesempatan untuk menggali lebih jauh gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh para narasumber.
Mengutip kembali sambutan Rektor USD dalam membuka seminar dosen ini, “Semoga melalui seminar ini, USD semakin mampu berusaha menghadapi tantangan zaman di dunia pendidikan.” Semoga melalui pemaparan ketiga gagasan di atas, para civitas akademika USD semakin mempunyai bekal yang matang dalam menjawab aneka tantangan zaman dalam mentransformasi kaum muda menjadi cerdas dan humanis dan menjadi semakin siap menghadapi arus zaman. (mdr)

  kembali