Bertempat di ruang Koendjono Kampus 2 Universitas Sanata Dharma, pada Rabu (16/12) rangkaian panjang Proyek Seni Indonesia Berkabung akhirnya sampai pada acara penutupan. Acara ini menjadi penutup dari seluruh rangkaian acara yang dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Desember. Acara tersebut dihadiri oleh beberapa Rektor universitas di Yogyakarta, dosen, seniman, mahasiswa, dan perwakilan dari KPK.
“Seni Indonesia Berkabung ini mengajak kita semua untuk menggunakan seni sebagai media kampanye anti korupsi. Civitas akademika dan seniman perlu belajar dari Ibu-Ibu di Gunung Kendeng yang berani bersuara. Tanpa perlawanan warga, korupsi akan terus terjadi.” tutur Agung Lea, ketua panitia Proyek Seni Indonesia Berkabung dalam sambutannya mengawali acara tersebut. Turut pula hadir memberikan sambutan, Rektor Universitas Sanata Dharma, Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. Beliau mengatakan bahwa korupsi cukup menjadi perilaku beberapa orang, jangan sampai menjadi DNA bangsa Indonesia.
Halim Bahriz kemudian tampil membacakan puisi berjudul “Kamis Lebam dan Tiga Perempuan”. Puisi tersebut menjadi yang terbaik dari 1441 puisi pada lomba puisi yang diadakan pada bulan Agustus lalu. Bercerita mengenai tiga perempuan yaitu, Suciwati (istri Alm. Munir), Sumarsih (Ibu Alm. Benardinus Realino Norma Irawan, Mahasiswa Atma Jaya Jakarta yang tewas tertembak di Semanggi tahun 1998), dan Fitri (anak Wiji Thukul) yang kehilangan sosok yang mereka cintai karena memperjuangkan sebuah keadilan, Halim Bahriz mampu membawa hadirin untuk larut dalam suasana duka dan ikut merasakan kesedihan keluarga korban.
Perwakilan KPK yang hadir menyampaikan pidato budaya. “Hari ini akan ditentukan, apakah Indonesia akan berhenti berkabung, atau dilanjutkan lima tahun lagi. Korupsi telah menggerogoti tubuh bangsa ini, sehingga seolah tidak ada lagi hal baik yang bisa dibanggakan. Proyek Seni Indonesia Berkabung ini harus menjadi tonggak untuk para aktivis dan seniman melawan korupsi”.
Di tengah-tengah acara, hadirin dihibur oleh kelompok Teater Kaki Langit dari Universitas Negeri Surabaya, yang menampilkan karya mereka dengan judul “Republik Tukang Becak”. Kelompok Teater ini mampu membuat suasana kembali cair dengan penampilan mereka yang mengundang tawa dan tepuk tangan dari hadirin yang memenuhi ruang Koendjono. Kelompok teater ini dinobatkan menjadi kelompok teater terbaik pada lomba teater mahasiswa yang juga merupakan rangkaian kegiatan Proyek Seni Indonesia Berkabung.
Pidato budaya Ibu Sukinah, warga Gunung Kendeng melanjutkan acara penutupan Seni Indonesia Berkabung. Dalam pidatonya, Ibu Sukinah yang menjadi aktivis penolakan pendirian pabrik di daerah Gunung Kendeng mengatakan bahwa Negara ini kalau sudah terlanjur rusak, jangan terus dirusak. Beliau mengajak hadirin untuk menjaga lingkungan dan tanah air ini, karena dengan cara seperti itu kita juga turut menjaga NKRI. “Yang jadi pegawai, biarlah tetap jadi pegawai. Dan kami yang jadi petani, biarlah tetap jadi petani. Tapi ladang dan gunung kami jangan dihabiskan. Ladang dan gunung harus kami rawat sebagai balas budi kami kepada Ibu Pertiwi.” tutur wanita yang tampil anggun dengan rambut yang disanggul.
Pemberian hadiah berupa piala Jendral Polisi Hoegeng kepada para pemenang lomba juga menjadi agenda dalam acara tersebut. Tiga piala Jendral Polisi Hoegeng diberikan kepada Halim Bahriz (juara lomba puisi), Agustinus Murtoko (juara lomba poster), dan Kelompok Teater Kaki Langit dari Universitas Negeri Surabaya (juara lomba teater mahasiswa). Pemberian nama piala Jendral Polisi
Hoegeng bukan tanpa alasan. Panitia memilih nama Jendral Polisi Hoegeng karena beliau adalah sosok yang anti terhadap korupsi, meskipun ada di dalam korps kepolisian yang terkenal dengan banyaknya kasus korupsi yang terjadi.
Bersamaan dengan acara penutupan ini, juga diadakan launching buku katalog Seni Indonesia Berkabung yang berisi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dari bulan Juli hingga bulan Desember dalam judul “Dari Gentar Menjadi Tegar”. Pihak KPK juga tidak ketinggalan melakukan launching Jurnal Integritas. Pemberian cinderamata kepada keluarga Jendral Polisi Hoegeng, pihak KPK, dan Ibu Sukinah menjadi penutup pada acara puncak Proyek Seni Indonesia Berkabung. (DML)




