Itulah salah satu makna yang dapat diambil dari buku “Katak Pun Ikut Berpantun” Menyusuri Sungai Sepauk”, karya Jalu Suwangsa atau yang lebih dikenal civitas akademik Universitas Sanata Dharma dengan nama G. Sukadi. Dalam acara peluncuran buku yang diadakan pada hari Sabtu, 27 Juni 2009 bertempat di ruang Seminar LPPM, kampus II Mrican USD Yogyakarta, alunan hidup dalam pantun terlihat jelas dalam rangkaian tema yang disajikan dalam buku tersebut. “Pantun itu menyajikan berbagai macam bentuk kehidupan.” Jelas Pak Kadi, begitu beliau akrab disapa. Pada kenyataannya, “Katak Pun Ikut Berpantun” memang menyuguhkan tema kehidupan yang mengalun lewat pantun yang ringan, cerdas, kaya, namun sekaligus reflektif. Hal ini sejalan dengan pendapat Dr. Novita Dewi, salah satu pembicara yang hadir dalam diskusi buku tersebut. “Buku ini menguak pentingnya belajar sambil bermain lewat pantun dan juga merenung dan berkontemplasi diri.” Lebih lanjut dosen fakultas Sastra dan Pascasarjana Kajian Bahasa Inggris ini menggarisbawahi bahwa banyak energi positif dapat diserap dari pantun untuk mengolah jasmani dan pikiran sekaligus menjadi media doa. Pantun sendiri memang menyibak fakta bahwa bermain dengan bahasa dan kata yang dirangkai kedalam sebuah pantun sebenarnya dapat berubah menjadi media intelegensia yang akomodatif. Dengan menggabungkan wacana kehidupan dan bahasa pantun, kita diajak untuk mampu berpikir kritis dan tajam, tapi santun dan peduli. Salah satu dari ketiga pembicara dalam diskusi, Drs. P. Ari Subagyo, M.Hum kemudian merujuk pada wacana intertekstualitas sastra. “Teks dilihat sebagai ‘transformasi’ masa lalu yang dihadirkan kembali dalam masa kini. Selain itu, teks tidak pernah ahistoris, tetapi selalu terikat pada sejarah, situasi, dan budaya.” Ujarnya. Ia juga menekankan ada 3 transformasi yang terdapat dalam “Katak Pun Ikut Berpantun”, yaitu transformasi genre, media, dan perspektif cultural. Transformasi genre memaksudkan perubahan bentuk dan cara bertutur pantun yang lebih naluriah dan manusiawi dengan topik dan tema yang lebih beragam. Dalam hubungannya dengan media, contoh pantun dalam SMS menyediakan kesempatan dan ruang demokrasi yang lebih luas, egaliater, dan terbuka. Buku ini juga tampil dalam konteks dan persperktif budaya yang segar, yaitu melalui kekayaan alam dan budaya Kalimantan. “Buku ini mengajak kita bertranformasi dalam kesadaran, dan hal ini sebernarnya merupakan bagian dari kearifan lokal kita.” Tegas dosen Sastra Indonesia yang juga penulis aktif di berbagai macam media massa itu. Buku “Katak pun Ikut Berpantun: Menyusuri Sungai Sepauk” ini merupakan seri ketiga katak. Dua seri buku katak sebelumnya adalah “Katak Pun Tertawa” dan “Katak Pun Memilih Presiden”. Romo J. Prapta Diharja, S.J., M.Hum. yang merupakan pembicara ketiga menyebutkan bahwa pantun itu ekspresif, provokatif, dan menarik. Diskusi pun berlangsung dalam suasana hangat dan akrab. Acara tersebut pun dimeriahkan dengan tari dan lagu “Bakondan” yang ditampilkan oleh para mahasiswa PBSID (Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah) dari Kalimantan. Memetik nangka dibawah terik. Siapa sangka pantun begitu menarik?(Bunga)




