USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Campus Ministry USD dan SALT selenggarakan Talkshow Iman dan Perjuangan HAM

diupdate: 11 tahun yang lalu


Tahun 2015 kini memasuki bulan terakhir. Hal ini menandakan hari peringatan Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia tiba, yaitu tepatnya tanggal 10 Desember. Peringatan hari resmi perayaan kaum humanisme ini pun tidak mau dilewatkan oleh Campus Ministry (CM) Universitas Sanata Dharma. Dalam serangkaian acara SALT (Students’ Actions for Life and Trust) 2015, CM kembali mengadakan sebuah talkshow untuk memperingati hari HAM dengan tema “Iman dan Perjuangan HAM”. Pada talkshow yang diselenggarakan tanggal 5 Desember 2015 ini, CM memfokuskan pembahasan tema pada bidang pendidikan dan kebudayaan.
Talkshow yang diselenggarakan di Ruang Multimedia Kampus 3 USD Paingan ini mendatangkan 3 orang narasumber. Mereka adalah para pejuang HAM melalui bidang dan keahliannya masing-masing. Ketiga narasumber tersebut adalah Gardika Gigih, seorang komponis muda Yogyakarta, Romo Yohanes Adrianto, S.J., Direktur Lembaga Pengabdian Masyarakat Realino, dan Bapak Y.Haryanto, A.Md., seorang guru dari SD Pangudi Luhur Kalirejo, Kulonprogo.
Cerita tentang perjuangan HAM yang pertama disampaikan oleh Bapak Haryanto. Ternyata, beliau merupakan salah satu tokoh dibalik kembali berdirinya SD Pangudi Luhur Kalirejo yang sempat diberhentikan oleh yayasan pada tahun 1998 silam. Pada waktu itu, beliau menjawab suara umat sekitar, yang tetap menginginkan sekolah tersebut berdiri. Beliau dan para umat pun kemudian menghimpun dana dengan berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan uang maupun barang yang dapat dijual. Seiring berjalannya waktu, pengumpulan dana ini membuahkan hasil. Kegiatan belajar mengajar sekolah ini pun dapat kembali dilanjutkan. Namun, perjuangan Pak Haryanto dalam memenuhi hak pendidikan anak-anak Kalirejo tidak berhenti sampai disini. Penyelenggaraan pendidikan di SD Pangudi Luhur Kalirejo pun beliau desain untuk tidak hanya memenuhi kepintaraan otak namun juga kepekaan hati para siswanya. Di sekolah ini, pekerjaan rumah, yang normalnya dikerjakan di rumah masing-masing, diformalkan dan secara resmi dibuat menjadi bagian dari pembelajaran. Salah satu contohnya adalah ketika para guru menyediakan waktu tersendiri bagi para siswa untuk membuat teh bagi para guru di sekolah tersebut. Dari kegiatan ini, para guru ingin memberikan pelajaran bagi para siswa untuk suatu hari nanti dapat membuatkan teh untuk orang tua maupun tamu. Pembinaan kepekaan hati para siswa juga dilakukan dari kegiatan berkebun. Melalui kegiatan ini, siswa diajari untuk tidak hanya menanam, namun juga berkomunikasi dengan tanaman. Dari komunikasi pada alam inilah, akan tercipta sesuatu yang abstrak yang bisa menghantarkan anak pada kecintaan pada makhluk hidup dan pada pemahaman akan iman.
Sesi cerita dari Pak Haryanto kemudian dilanjutkan oleh Mas Gigih, seorang komponis muda lulusan Institut Seni Indonesia (ISI). Beliau menuturkan bahwa musik mempunyai kekuatan sendiri untuk kemanusiaan. Musik bukanlah kombinasi dari lirik dan notasi saja. Musik yang memuat pesan yang baik dapat membawa manusia ke dimensi rasa dan pada akhirnya bisa mengubah seseorang. “Musik yang hebat bisa membuat orang berefleksi dan kemudian mengubah menjadi orang yang lebih baik” tutur Mas Gigih dalam ceritanya. Maka dari itu, beliau menuturkan bahwa ada sebuah kebanggaan dan kepuasan tersendiri ketika para pendengar mengatakan bahwa lagu ciptaannya mampu memberikan dampak baik dalam hidup mereka.
Sesi cerita dari ke dua narasumber di atas pun kemudian seperti mendapatkan penguatan dari Romo Andri, narasumber ke tiga. Dengan mengutip sebuah ayat dari surat kepada umat di Filipi, beliau menjelaskan bagaimana terjadinya iman dan perjuangan HAM. “Hendaklah kamu sehati dan seperasaan dengan Kristus” kata Romo Andri mengutip ayat 5 di bab 2. Pak Haryanto dan Mas Gigih merupakan contoh dari orang yang seperasaan dan sehati dengan Kristus. Dalam Kitab Suci, Yesus dikisahkan tergerak hatinya karena melihat orang sakit, orang sedih, dan orang yang ditolak. Dalam kehidupan nyata, Pak Haryanto bergerak mendengar teriakan umat yang menginginkan SD Pangudi Luhur Kalirejo tetap berdiri. Sedangkan melalui musik, Mas Gigih mengajak orang berefleksi dan kemudian bergerak menjadi orang yang lebih baik lagi. Perwujudan iman dan perjuangan HAM dapat pula terjadi dalam bidang yang lain, karena iman dapat dimaknai dari berbagai dimensi. Di akhir cerita, Romo Andri mengatakan bahwa iman dan perjuangan HAM seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Iman tanpa perjuangan keadilan itu adalah hal yang tidak mungkin, begitu juga sebaliknya.
Materi yang disampaikan Romo Andri pun menjadi penutup sesi takshow. Dari acara ini, panitia berharap bahwa para mahasiswa semakin tergerak turut serta mewujudnyatakan imannya dalam memperjuangkan HAM. Perwujudan itu bisa dilakukan dalam berbagai hal, tergantung pada cara para mahasiswa memaknai iman, hak apa yang ingin diperjuangkan, dan bidang kehidupan apa yang mereka geluti. Selamat hari HAM sedunia! (mdr)

  kembali